Miss Gendut

Miss Gendut
Part 40


__ADS_3

Setelah disembunyikan selama dua minggu lamanya. Ara kini mengetahui jika adiknya bekerja sebagai cleaning service di perusahaan keluarga Kresna. Saat itu, Ara datang ke perusahaan itu untuk melihat kontrak kerja yang Kresna ajukan. Tapi tak menyangka jika ia melihat adiknya sedang bekerja di perusahaan itu. Tentu saja Ara marah.


Namun Ara tidak mau memarahi adiknya di depan umum. Karena itu akan membuat adiknya malu. Ketika melihat Raisa sedang bekerja. Ara berjalan mendekat, kemudian dia berkata dengan pelan. "Kakak tunggu di rumah ayah!" katanya.


Raisa yang sudah ketakutan hanya diam dan mengangguk pelan. Ia tahu kakaknya marah, tapi kakaknya masih memberinya muka. Itu yang membuat Raisa merasa sangat bersalah.


"Sejak kapan kamu bekerja?" tanya Dea pelan.


"Maafin aku kak, aku hanya ingin meringankan beban kak Ara." jawab Raisa pelan.


"Kalau Ara marah, kamu jangan melawan! Dia seperti itu karena sayang sama kamu!" lirih Dea.


Raisa menganggukan kepalanya. Dia juga tahu mengenai hal tersebut. Tapi, Raisa hanya ingin meringankan beban kakaknya.


Dea kemudian meninggalkan Raisa dan mengikuti Ara sampai ke ruangan Kresna. Pada saat itu, Ara sempat kesal dengan Kresna yang tidak memberitahunya jika adiknya bekerja di perusahaan keluarganya.


"Kamu yang menerima Raisa bekerja?" tanya Ara dengan kesal. Padahal ia baru saja masuk ke ruangan Kresna.


Di tanya seperti itu, Kresna menjadi gelagapan. "Bu..bukan aku. Aku juga nggak tahu kalau Raisa kerja disini waktu itu. Tapi setelah dia memberitahu aku alasannya bekerja, aku memang membiarkannya." jawab Kresna terus terang.


"Maafin aku." melihat wajah kesal Ara, Kresna segera meminta maaf.


"Kamu tahu dia masih sangat kecil untuk bekerja?" Kresna menganggukan kepalanya.


"Aku merasa gagal menjadi seorang kakak." lirih Ara dengan sedih.


"Hei, tidak Ara. Kamu kakak yang paling hebat. Kamu kakak terbaik." Kresna tidak tega melihat wajah sedih Ara.


"Bener Ra, kamu kakak terbaik yang pernah aku temui." sahut Dea yang berada di sebelahnya.


"Raisa hanya terlalu sayang sama kamu. Dia hanya ingin meringankan beban kamu." imbuh Dea mulai menjadi wakil Raisa dalam berbicara.


Ara hanya diam. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Yang jelaa hatinya merasa kesal, sedih, dan tak tahu lagi. Pokoknya campur aduk.

__ADS_1


"Gimana? Bisa kita bahas kontrak sekarang?" tanya Kresna.


"Ya." jawab Ara. Dia orang yang sangat profesional. Dia tak mau mencampur adukan permasalahan pribadi dengan pekerjaan.


Kresna kemudian mengajak Ara dan Dea untuk menemui kakaknya di ruang kerja kakaknya. Erik menyambut Ara dan Dea dengan baik. Dia terkagum dengan kecantikan Ara dan juga Dea. Mata kerangjangnya mulai kumat.


Sepanjang membahas kontrak kerja sama. Mata Erik tak berhenti memandang Ara dan juga Dea. Bahkan ia pun tak fokus dengan pembahasan tersebut.


"Jadi gimana kak? Apakah kakak setuju dengan syarat yang Kim Ara ajukan?" tanya Kresna.


"Ya setuju. Pokoknya kalau menurut kamu baik, aku ikut aja." kata Erik. Padahal dia sama sekali tidak tahu aoa yang dibahas karena dia hanya fokus memandang Ara dan juga Dea.


Dea bukan tidak tahu jika dia sedang ditatap oleh Erik. Namun, Dea berpura-pura tidak tahu meskipun sebenarnya dia merasa jijik dengan pandangan seorang hidung belang. Berkali-kali Dea bergidik.


"Oke kalau gitu selamat bekerja sama, Kim Ara!" kata Kresna mengulurkan tangannya.


"Selamat bekerja sama, pak Kresna." Ara menjabat tangan Kresna.


"Yuk aku anter ke parkiran!" kata Kresna.


Berjalan menuju parkiran, Kresna memberitahu jika beberapa hari yang lalu dia melihat Shaka sedang makan bersama dengan Elsa.


"Oh, iya, Elsa sekarang sekretaris Shaka. Mungkin mereka mau meeting." meskipun sempat terkejut. Tapi Ara mampu mengendalikan emosinya. Ia tak mau menunjukan kepada siapapun mengenai kelemahan rumah tangganya.


"Meeting di apartemen juga?" gumam Kresna sembari tersenyum kecil.


Namun, Ara tetap tersenyum meskipun hatinya panas. Ia pandai menyembunyikan perasaannya. "Kita pulang dulu ya Kres!" pamit Ara dengan wajah yang tetap ceria.


"Hati-hati!" kata Kresna.


Begitu Ara pergi. Kresna menghela nafasnya. Ia tahu apa yang ada di dalam hati Ara saat ini. Tapi, yang Kresna salut dari sosok seorang Ara yang dulu dengan yang sekarang. Karena ia mampu tetap tenang dan tersenyum padahal hatinya panas dan ingin marah.


Sementara itu di dalam mobil. Ara merasa sangat kesal. Dia berulang kali mengumpat Shaka. "Dasar lelaki brengs*k. Berani dia bohongin aku!" gumam Ara dengan kesal.

__ADS_1


****


Malam hari saat Shaka pulang dari kantor. Ia melihat Ara dan Rey yang begitu dekat. Dengan segera ia memisahkan keduanya dengan duduk ditengah-tengah mereka berdua.


"Bikinin aku teh!" pinta Shaka ke Ara.


Namun, Ara tidak mengindahkan Shaka. Padahal biasanya dia dengan senang hati melayani suaminya. Ara malah berpindah tempat di sebelah Rey lagi. "Rey lihat, ini produk baru yang aku jadi modelnya." Ara menunjukan foto produk yang di kirim oleh perusahaan keluarga Kresna.


"Ini dari perusahaan mana?" tanya Rey.


"Perusahaan temen aku. Namanya Kresna." jawab Ara.


Seketika Shaka menoleh mendengar Ara akan menjadi model untuk perusahaan Kresna. Dia tahu jika pemimpin perusahaan itu alias kakaknya Kresna adalah seorang hidung belang. "Kamu akan jadi model untuk perusahaan keluarga Kresna?" tanyanya.


"Hmm.." jawab Ara dengan dingin.


"Kamu mau larang?" tanya Ara dengan sewot.


"Nggak. Tapi kamu harus hati-hati dengan pemimpin perusahaan itu. Dia seorang hidung belang." pesan Shaka kepada suaminya.


"Tenang aja! Aku bisa bedain mana urusan pribadi dan mana urusan kerjaan kok. Nggak kayak seseorang yang katanya pergi kerja, tapi ternyata sering jalan bareng dengan karyawannya, sampai pergi ke apartemen karyawannya." ucap Ara dengan marah.


Tentu saja Shaka membulatkan matanya. Dia paham apa maksud dari perkataan Ara tersebut. Tapi yang membuatnya aneh. Dari mana Ara tahu mengenai hal tersebut.


"Ngomong apa sih?" namun Shaka pura-pura tak paham maksud perkataan Ara tersebut.


Shaka berdiri dan kembali mendekati Ara. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ara. "Kamu masak apa? Makan diluar yuk!" lirihnya.


"Ikut nggak Rey?" tanya Ara.


"Nggak Ra, aku mau ngegame." jawab Rey. Ia lebih memilih main game dibanding pergi kemana-mana. Rey adalah seorang gamers. Dia juga memiliki perusahaan yang meluncurkan berbagai game online.


Padahal, Rey hanya tak mau mengganggu kedua sahabatnya itu. Dia memberi ruang untuk Shaka dan Ara untuk menjalani kehidupan rumah tangga mereka.

__ADS_1


__ADS_2