Miss Gendut

Miss Gendut
Part 39


__ADS_3

Di kantor Kresna sedang mencari seorang model untuk peluncuran produk terbaru perusahaan tersebut. Erik meminta pendapat Kresna mengenai hal tersebut. Selama ini, Erik hanya bersenang-senang dengan jabatannya. Semua pekerjaan ia serahkan ke Kresna.


"Model yang kemarin memutus kontrak karena insiden waktu itu. Jadi kita harus cari model lain!" kata Erik.


"Kamu punya pandangan siapa yang pantas untuk model produk terbaru kita?" tanya Erik.


"Ya. Aku punya seorang kenalan. Dia model baru tapi cocok untuk produk kita." jawab Kresna. Sudah tentu pilihannya jatuh kepada Ara.


Kresna ingin sekali bekerja sama dengan Ara supaya mereka bisa sering ketemu dan kembali dekat. Meskipun Kresna tahu jika Ara kini telah menjadi seorang istri untuk seseorang.


"Kalau gitu kamu urus semuanya! Jangan sampai mengecewakan!" kata Erik seperti biasa. Ia selalu melempar pekerjaan itu kepada adik tirinya. Ia malah bersenang-senang dengan para gadis club malam. Namun saat pekerjaannya sukses. Ia akan mengklaim itu sebagai hasil kerjanya.


"Ya." jawab Kresna singkat.


Kresna kembali ke ruangannya. Namun, di depan pintu ruangan Erik. Ia bertemu dengan seorang gadis berpakaian seksi. Kresna yakin jika wanita itu teman kencan kakaknya. "Anda cari kak Erik?" tanyanya.


"Iya. Erik ada? Aku disuruh kesini." jawab wanita itu.


"Ada. Silahkan masuk! Tapi sepertinya kak Erik lelah, tadi juga ada perempuan kesini." ucap Kresna memprovokasi wanita tersebut.


"Serius?" wanita itu nampak kecewa setelah mendengar perkataan Kresna.


"Hmm.." jawab Kresna kemudian meninggalkan perempuan itu. Diam-diam Kresna tersenyum karena berhasil memprovokasi wanita itu.


Kresna kembali ke ruangannya. Ia melanjutkan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba ia merasa ngantuk. Berulang kali ia menguap. "Minum kopi dulu aja ah.." gumamnya sembari bangkit dari tempat duduknya.


Ia bergegas menuju dapur di dekat ruangan office boy. Kresna bukan tipe orang yang manja. Saat dia ingin, dia akan datang sendiri dan membuat sendiri.


"Kak Kresna?" ucap Raisa. Ia terkejut melihat Kresna datang ke dapur.


"Hai Rais, nggak apa dilanjut aja!" ucap Kresna karena Raisa yang tadi sedang beristirahat mulai canggung.


"Kalau capek istirahat aja!" kata Kresna begitu pengertian.


"Iya kak. Kak Kresna mau bikin kopi? Biar aku aja yang bikin!"


"Udah, kamu istirahat aja!" kata Kresna lagi.

__ADS_1


Raisa menatap Kresna dengan penuh rasa kagum. Selain tampan, Kresna juga sangat baik. Dia selalu menolong Raisa saat Raisa ditindas.


"Kakak kamu sudah tahu kalau kamu bekerja disini?" tanya Kresna.


"Belum kak." Raisa segera menggelengkan kepalanya. Faktanya, dia memang tidak berani berkata jujur kepada kakaknya. Lagipula dia hanya sebulan bekerja di perusahaan tersebut.


"Harusnya kamu terus terang ke kakak kamu!" kata Kresna.


"Tapi aku takut kak Ara marah."


"Ara pasti marah karena merasa gagal jadi seorang kakak. Tapi, jika kamu kasih tahu alasan kenapa kamu bekerja. Dia pasti akan paham kok. Kakak kamu itu sayang banget sama kamu." kata Kresna lagi.


"Kak Kresna pernah nggak suka sama kak Ara?" tanya Raisa.


Kresna terdiam. Dia sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. "Ya, sebagai teman mungkin." jawab Kresna pelan.


Raisa menatap Kresna yang terdiam. Ia benar-benar mengagumi ketampanan Kresna. Matanya yang agak besar serta hidungnya yang mancung menambah ketampanan Kresna.


Hati Raisa juga jedag jedug karenanya.


****


Tika sepertinya masih marah dengan adik lelakinya itu. Wajahnya nampak dingin selama makan malam. Berbeda dengan Boby yang nampak begitu ramah. Dia mau bertanya ini itu ke Shaka dan juga Ara. Sedangkan Tika hanya terus diam seribu bahasa.


Saat papanya membahas mengenai pekerjaan pun. Tika hanya menjawab singkat dan judes.


"Tik, kamu harus mulai belajar bisnis!" kata Hendra.


"Untuk apa pa? Untuk membantu anak lelaki papa?" tanya Tika dengan sinis.


"Bukan gitu maksud papa."


"Udahlah pa, dulu aku kuliah arsitek, tapi papa maksa aku untuk mengelola perusahaan. Perusahaan yang papa siapkan untuk anak lelaki papa." ucap Tika lagi. Ia benar-benar nampak kecewa dengan perilaku tak adil papanya.


"Aku juga nggak mau terima perusahaan itu kak."


"Tapi perusahaan itu untuk kamu dan istri kamu." sahut Tika dengan kesal.

__ADS_1


"Jangan bawa-bawa istri aku! Dia tak tahu apa-apa!" Shaka mulai kesal karena kakaknya mulai menyerang Ara yang bahkan tak tahu apa-apa mengenai masalah tersebut.


"Benar Tika, jangan bawa-bawa Ara! Dia tidak tahu apa-apa." sahut Hendra.


"Bela aja terus. Bela, dia kan menantu kesayangan papa dan mama." seru Tika mulai kesal.


"Papa dan mama itu nggak adil tahu nggak. Kalian membantu keluarga Ara, sedangkan kalian tidak peduli dengan menantu kalian, suami aku. Sebenarnya aku anak kalian apa bukan sih?" Tika mulai kehilangan akal sehat. Ia marah dan mengatakan hal yang tidak-tidak.


"TIKA!!" seru Hendra.


"Aku akan ganti semua yang papa beri untuk keluarga aku. Mulai sekarang semua itu menjadi hutang aku." sahut Ara yang mulai kehilangan kesabaran karena keluarganya ikut disangkut-pautkan.


"Nggak Ara. Papa lakuin semua itu dengan ikhlas. Kamu jangan dengerin kata kakak kamu!" pinta Hendra memohon agar Ara tidak marah dengan perkataan Tika.


"Kamu kayak anak kecil tahu nggak kak." Shaka juga hendak marah mendengar perkataan kakaknya.


"Yank, kamu apaan sih?" bahkan Boby juga menegur Tika.


"Biarin aja, mas. Itu semua fakta." seru Tika.


"Kita bertahun-tahun membantu perusahaan supaya maju dan sampai seperti sekarang. Aku bahkan harus mengubur impian aku menjadi arsitek demi memajukan perusahaan. Tapi orang lain yang menikmatinya." kata Tika kembali tersenyum sinis.


"Tika, papa selalu berlaku adil terhadap kalian!" ucap Hendra.


"Adil? Kalau gitu kasih jabatan untuk suami aku! Dia menantu pemilik perusahaan, tapi hanya menjadi seorang manager biasa." kata Tika menuntut papanya berlaku adil.


Hendra terdiam. Ia tak bisa menjawab atau memenuhi tuntutan anak perempuannya.


Melihat kebisuan papanya. Tika kembali tersenyum sinis. "Itu yang disebut bersikap adil?"


"Kalian memuakan!" Tika mulai bangkit dari tempat duduk. Dengan marah ia meninggal meja makan.


"Tika!" seru Rani. Namun tidak tidak mau menoleh sama sekali.


"Aku nyusul Tika dulu!" kata Boby dan segera menyusul istrinya yang sedang marah.


Sementara Ara menjadi tidak enak setelah melihat pertengkaran keluarga tersebut. Ia merasa rasa iri Tika itu berasal dari dirinya.

__ADS_1


"Nggak usah berpikiran yang tidak-tidak!" Shaka meraih tangan Ara dan menggenggamnya. Ia ingin menenangkan istrinya yang merasa bersalah setelah pertengkaran tersebut.


__ADS_2