Miss Gendut

Miss Gendut
Part 43


__ADS_3

Ara terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya mulai kacau setelah melihat foto yang Kresna tunjukan. Padahal, dia baru saja percaya jika Shaka mulai membuka hatinya. Tapi, kepercayaan itu lenyap dengan seketika. "Ra, pelan-pelan! Hati-hati!" pinta Dea yang takut akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


"Pegangan aja yang kuat!" kata Ara tanpa mengurangi kecepatannya.


Sesampainya di kantor Shaka. Tanpa basa basi ia langsung pergi ke ruangan Shaka. Dia melihat Shaka yang melamun di meja kerjanya. Rapat hari ini membuatnya merasa sangat pusing.


Namun, sebelumnya, Elsa sempat menghentikan Ara. "Kamu mau kemana?" tanya Elsa.


"Minggir! Aku mau ketemu suamiku!" kata Ara dengan wajah marah. Dia kesal karena foto itu. Ditambah ia dilarang masuk ke ruangan suaminya.


"Kamu hanya pegawai, jadi jangan sok atur aku!" ucap Ara dengan kasar.


Ara langsung membuka pintu ruangan Shaka. Kedatangan Ara membuat Shaka kaget sekaligus senang. Ia tersenyum melihat istrinya datang. Sebelumnya Ara juga telah berjanji akan main ke kantornya. "Kamu udah selesai kerjanya?" tanya Shaka. Ia berdiri dan berjalan mendekati Ara.


"Aku minta cerai!" kata Ara tanpa ada angin dan hujan. Tentu saja perkataan Ara tersebut membuat Shaka kaget.


"Maksud kamu apa? Kamu kenapa?" tanya Shaka masih dengan lembut. Ia juga meraih tangan Ara. Namun, dengan cepat Ara menepisnya.


"Ini apa?" tanya Ara sembari menunjukan foto, dimana Elsa terlihat sedang menyentuh Shaka.


Tentu saja Shaka terbelalak. "Ini.. E.. Ini.."


"Apa? Nyesel tahu nggak aku kasih semua ke kamu kalau ternyata seperti ini kelakuan kamu dibelakang aku. Kamu juga sering makan bareng sama Elsa kan? Bukan hanya itu, kamu juga sempat main ke apartemennya kan?" Shaka kembali terbelalak. Darimana Ara tahu semuanya.


"Aku bisa jelasin semua!" Shaka kembali meraih tangan Ara. Tapi Ara tetap menepisnya.


"Aku nggak butuh penjelasan kamu. Semua sudah jelas. Aku minta cerai. Lagipula kamu juga nggak suka sama aku." Ara segera berbalik badan. Ia keluar dari ruangan Shaka dengan marah.


"Akh.." Shaka mulai kesal karenanya. Masalah di kantor belum selesai. Sekarang Ara salah paham. Dia benar-benar pusing dibuatnya.


Dia segera mengejar Ara. Berharap bisa menjelaskan semuanya. Sembari berpikir siapa yang dengan sengaja memotret dia dan Elsa.


"Tunggu Ra!" seru Shaka terus mengejar Ara.


Namun, Ara tidak mau mendengar sama sekali. Dia terus berlari menuju ke mobil. Kemudian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lagi.

__ADS_1


Dea kembali panik. Tadi, ketika Ara masuk ke kantor. Dea diminta Ara menunggu di mobil saja. Ara mengatakan jika dia tidak akan lama.


"Ra, kenapa lagi sih?" tanya Dea.


Akan tetapi, Ara mengunci mulutnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Dea. Hanya terus fokus dengan jalanan di depannya. Ara melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya. Disanalah, tempat ternyaman baginya.


"Jangan bilang sama ayah dan ibu kalau aku berantem dengan Shaka!" pinta Ara ke Dea.


"Ya." Dea mengganggukan kepalanya. Dia tahu maksud Ara menyembunyikan semuanya. Karena Ara tak ingin membuat kedua orang tuanya sedih.


"Besok atur pengacara untukku! Aku akan ajukan gugatan cerai ke Shaka." tentu saja Dea terkejut dengan perkataan Ara. Dia tak menyangka jika Ara akan mengambil tindakan gegabah seperti itu.


"Ra, semua masih bisa di bicarakan! Jangan gegabah!" ucap Dea. Dia tidak ingin melihat rumah tangga sahabatnya itu hancur. Dea bisa melihat jika Shaka dan Ara itu sebenarnya saling mencintai.


"Aku nggak gegabah. Sudah berapa kali dia bohongin aku? Pokoknya kamu atur untuk aku!" pinta Ara lagi.


Namun, kali ini Dea tidak menjawab. Dia tidak menentang juga. Hanya diam tanpa berkata apapun lagi. Dea juga merasa bingung. Tapi dia harus tetap tenang, agar dia bisa membujuk Ara lagi nantinya.


Ara dan Dea masuk ke rumah orang tuanya dengan senyuman di wajahnya. Meskipun ia tak bisa menyembunyikan kemarahannya. Tapi Ara tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.


"Udah buk. Cuma pemotretan biasa."


"Ketemu Raisa?" Ara menganggukan kepalanya.


Beberapa waktu yang lalu. Ara sempat memarahi Raisa karena dia bekerja. Namun, setelah berdebat lama dengan adiknya. Kemudian mendengar alasan kenapa Raisa bekerja. Akhirnya Ara membiarkan Raisa menyelesaikan pekerjaannya selama sebulan. Raisa berjanji hanya sebulan sampai dia menerima gaji pertamanya.


"Kamu jadi ke kantor Shaka?" tanya Siska lagi.


"Belum tahu buk. Kenapa?"


"Ibu mau nitip makan siang untuk suami kamu." Siska memang mertua yang baik dan idaman sekali. Dia selalu memikirkan menantunya dengan baik. Biar bagaimanapun, mereka telah dekat cukup lama. Dan menganggap Shaka sebagai anak sendiri.


"Nanti gampang." jawab Ara.


"Ya udah kalian istirahat aja dulu!" kata Siska.

__ADS_1


Ara dan Dea pun langsung pergi ke kamar Ara yang dulu. Kamar kecil dengan dua tempat tidur. Satu untuknya, dan satu lagi untuk adiknya. Dan, sejak ia menikah. Kini kamar itu ditempati oleh Dea dan Raisa.


Ara dan Dea mendengar kegaduhan di depan rumah Ara. Saat Dea mengintip dari jendela. Dia melihat suami Ara berteriak-teriak memanggil nama Ara.


"Suami kamu tuh!" kata Dea.


Ara segera bangkit, dia juga mengintip dari jendela kamarnya. "Ngapain sih dia?" gumam Ara tak senang. Dia masih marah dengan suaminya itu.


Tok. Tok. Tok. Tak lama pintu kamar diketuk oleh ibunya. "Ra, kamu berantem dengan Shaka?" tanya ibunya yang langsung masuk ke kamar itu.


"Temui suami kamu! Bicarakan masalah kalian dengan baik-baik!" nasehat Siska untuk putri sulungnya.


Mau tak mau, Ara harus nurut apa kata ibunya. Dia segera menemui Shaka yang sedang berbincang dengan ayahnya. Setelah melihat menantunya teriak-teriak, Wijaya mengajak Shaka untuk bicara. Shaka mengatakan semuanya kepada Wijaya. Termasuk Ara yang minta cerai.


"Ikut aku!" pintanya.


Shaka kemudian mengikuti Ara kekuar dari rumah. Ara meminta Shaka untuk berhenti menganggunya. "Besok aku akan minta pengacaraku buat urus perceraian kita." ucap Ara.


"Nggak. Meskipun kamu memaksa. Aku tidak akan pernah mau cerai dari kamu." ucap Shaka.


"Terus untuk apa kita lanjutkan pernikahan ini? Pernikahan ini hanya akan menyia-nyiakan waktu kita." ucap Ara.


Shaka segera mendekat, ia ingin memeluk Ara. Namun, Ara secara refleks mundur. Shaka menatap Ara dengan nanar. "Mungkin cinta masih belum ada dihati kita. Tapi bagiku, menikah cuma sekali. Aku tidak pernah berpikiran untuk bercerai." kata Shaka dengan lemah.


"Ra, kamu salah paham." Shaka meraih tangan Ara. Mencoba membujuk istrinya. Namun lagi, lagi, Ara menepis tangan Shaka.


"Pulang aja! Aku mau berpikir dengan tenang." pinta Ara.


"Aku nggak akan pulang kalau kamu juga nggak pulang." jawab Shaka dengan cepat.


"Untuk apa kamu lakuin itu? Kita udah selesai." kata Ara.


"Itu mau kamu. Mauku bukan gitu."


"Terserah. Tapi aku teguh dengan keputusan aku untuk bercerai." Ara balik badan. Ia meninggalkan Shaka di teras rumahnya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2