Miss Gendut

Miss Gendut
Part 49


__ADS_3

Shaka dan Ara menjenguk Tika di rumah sakit. Dia mengalami trauma akibat penculikan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Tapi kini, keadaan Tika sudah mulai membaik. Dia sudah bisa diajak bicara.


Namun, saat melihat Shaka. Tiba-tiba Tika menangis. Mungkin, dia merasa bersalah karena telah menuduh adiknya yang tidak-tidak. Ia menangis sesegukan.


Shaka pun mendekati kakaknya kemudian memeluknya. "Kenapa nangis?" tanya Shaka.


"Maafin kakak." lirih Tika sembari tersedu.


"Maafin kakak, Ka." imbuhnya.


Shaka memeluk Tika dengan lebih erat. Seperti dia ingin berkata, 'nggak apa kak, aku tetap sayang kakak'.


"Meskipun kakak kesal, tapi kakak nggak pernah punya pikiran sama sekali untuk menyakiti kamu. Kakak sayang sama kamu. Biar bagaimanapun, kamu adiknya kakak." kata Tika lagi dengan sedih.


"Iya kak. Aku tahu kok. Maafin aku juga yang sempat menuduh kakak." jawab Shaka.


Tika semakin tersedu. Namun, ia lebih erat memeluk Shaka. Seolah tak ingin melepaskan adiknya.


Pemandangan itu membuat haru kedua orang tua mereka, serta Ara yang juga berada di tempat tersebut. Mata Hendra dan Rani berkaca-kaca melihat kedua anaknya telah berbaikan dan saling memaafkan.


"Ra, maafin aku yang pernah jahat ke kamu ya!" ucap Tika saat melihat keberadaan Ara.


"Nggak masalah kak. Maafin aku juga yang sempat bikin kak Tika kesal." jawab Ara. Dia sangat berbesar hati memaafkan kakak iparnya.


"Maafin Bobby juga ya, karena udah..."


Ara tersenyum, dia tidak ingin membuat kakak ipar merasa bersalah. "Udah kak, aku udah lupain kok." jawab Ara sembari tersenyum.


Sebenarnya, sampai kapanpun mungkin Ara tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Trauma itu akan selalu ada. Akan tetapi, Ara tidak ingin kakak iparnya merasa bersalah terus-terusan. Jadi dia bersikap seolah ia telah melupakan rasa takut dan trauma-nya.


Hendra dan Rani tersenyum bahagia. Mereka mendekati anak-anak mereka. "Kalian tuh saudara. Jadi tidak mungkin akan saling menyakiti, karena kalian memiliki darah yang sama yang mengalir di tubuh kalian." ucap Rani.

__ADS_1


"Papa dan mama seneng, akhirnya kalian bisa kembali bersatu." sahut Hendra tak kalah bahagia dari istrinya.


Tiba-tiba, seseorang masuk ke kamar rawat Tika. Ya, dia adalah Nathan, mantan pacar Tika yang masih begitu baik dan perhatian kepada Tika. Nathan datang membawa buah-buahan kesukaan Tika.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Nathan sembari berjalan mendekat.


"Udah baik. Thanks ya udah jengukin aku." kata Tika.


Nathan tersenyum kecil sembari menganggukan kepalanya. Tak lama, Shaka, Ara dan kedua orang tua Shaka, pergi keluar. Mereka ingin memberi waktu untuk Tika dan Nathan berbicara empat mata. Sepertinya banyak yang ingin mereka katakan.


Awlanya Tika hanya berterima kasih karena Nathan masih begitu baik kepadanya. Ia juga minta maaf karena dulu pernah meninggalkan Nathan dan menikah dengan lelaki lain.


"Nggak masalah Tik. Aku akan tetap perhatian ke kamu. Karena sampai saat ini, aku masih belum bisa lupain kamu." Nathan tidak kuat untuk berkata jujur. Tanpa basa basi dia mengungkapkan perasaannya kepada Tika.


Namun, Tika yang masih trauma menjalin hubungan, menolak Nathan dengan halus. "Nggak masalah, aku akan tetap menunggu kamu sampai siap." jawab Nathan.


****


"Kres, kapan kita nikah?" tanya Elsa sembari memeluk Kresna.


Kresna terdiam. Dia sama sekali belum memikirkan ke jenjang pernikahan. Karena dia ingin memantapkan hatinya terlebih dahulu. "Nanti kita ketemu papa dulu." jawab Kresna. Dia juga harus meminta restu dari papa kandungnya.


"Baiklah." Elsa semakin mempererat pelukannya.


Tak lama, ponsel Kresna berbunyi. "Ya."


"..."


"Serius?" Kresna terperanjat mendengar informasi dari salah satu anak buahnya.


"Baik. Aku akan segera kesana." jawab Kresna kemudian bergegas menuju tempat dimana anak buahnya memberitahunya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu." pamit Kresna.


"Mau kemana?" seru Elsa. Namun, Kresna sama sekali tidak menggubrisnya. Ia langsung pergi begitu saja.


Dengan cepat Kresna melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Ia mendapat kabar jika kakak tirinya ditangkap saat mabuk, karena membuat keributan.


Disana, kakak tirinya tidak bisa dimintai keterangan karena dia mabuk berat. Jadi Kresna yang menggantikannya, karena dia menjadi wali bagi kakak tirinya.


"Maaf kak, kakak saya memang suka seperti ini. Ini dipengaruhi karena obat yang ia pakai. Jadi terkadang kakak saya menjadi agak gila seperti ini." kata Kresna.


Kresna menyerahkan berbagai bukti tentang penyalahgunaan nark*b* yang dilakukan oleh kakak tirinya. Bertahun-tahun dia mengumpulkan bukti itu. Akhrinya, hari ini dia bisa menyerahkan bukti tersebut.


Selain pemakai, ternyata kakak iparnya juga seorang pengedar. Semua bukti telah Kresna serahkan ke polisi.


"Gimana keadaan Erik, anak saya?" tak lama mama tiri Kresna datang bersama dengan papanya.


"Anak bapak dan ibu terbukti memakai obat-obatan terlarang. Selain itu, dia juga pengedar." kata polisi yang membuat mama dan papanya Erik terkejut.


Mereka berdua tak percaya dengan apa yang polisi katakan. Mereka tidak yakin jika anaknya menjadi pengedar obat-obatan terlarang. Namun polisi telah mengantongi bukti yang Kresna berikan. Sebelumnya, Kresna meminta polisi untuk menyembunyikan identitas orang yang memberikan barang bukti


Karena bukti itulah, Erik harus ditahan dan mendapat hukuman. Tentu saja papanya menjadi marah dan murka. Dia bahkan menampar Erik yang tak sadarkan diri. "Kamu memalukan." katanya.


"Kamu akan papa coret dari daftar pewaris!" seru papanya marah.


Diam-diam, Kresna tersenyum puas. Akhirnya tujuan balas dendamnya selama ini terlaksana. Dia menunggu momen tersebut selama bertahun-tahun lamanya. Kini akhirnya semuanya hampir selesai.


"Perusahaan papa, akan papa berikan ke Kresna." imbuh papa Erik.


Tentu saja mamanya Erik hanya bisa terus menangis menghadapi semua itu. Dia tak menyangka jika hidupnta akan seperti itu.


Penghinaan yang Kresna terima selama ini, kini akhirnya terbalaskan. Dia yang tersenyum pada akhirnya. Kini, dia telah ditunjuk untuk memimpin perusahaan papanya.

__ADS_1


__ADS_2