
"Buk, aku mau urus berkas ayah dulu!" ucap Ara.
"Iya nak."
Ara kemudian keluar dari ruangan rawat ayahnya. Ia menemui staff rumah sakit untuk mengurus semuanya. Di kota itu, tidak banyak yang mengenal Ara.
Kemudian ia mengurus administrasi sekalian. Saat dia berjalan kembali ke kamar rawat ayahnya. Tanpa sengaja ia menyenggol seorang wanita paruh baya. Bruk.
"Maaf, maaf." kata Ara sembari membantu wanita itu untuk bangun.
"Ibu nggak kenapa-napa?" tanya Ara pada wanita itu.
"Enggak nak. Ibu nggak kenapa-napa." jawab wanita itu lagi.
"Hati-hati ya buk!" kata Ara sebelum meninggalkan wanita paruh baya itu.
Wanita itu menatap Ara dengan kagum. Sampai Ara tak terlihat lagi wanita itu tersenyum senang. "Tidak hanya cantik, tapi dia juga baik." gumam wanita itu.
Tiba-tiba seorang pemuda mendekati wanita paruh baya tersebut. "Bunda udah periksanya?" tanya pemuda itu.
"Udah. Maaf ya nak Kresna, bunda ngerepotin nak Kresna terus." kata wanita itu.
"Bunda ngomong apa sih. Sudah sewajarnya aku direpotin bunda. Dulu aku selalu ngerepotin bunda." kata Kresna kepada wanita itu yang ternyata adalah pengurus panti asuhan dimana Kresna dibesarkan dulu.
"Tadi bunda ketemu wanita cantik dan baik. Kayaknya cocok sama, nak Kresna." ucap bunda panti asuhan.
Kresna tersenyum kecil. "Bunda apaan. Aku masih belum mikir kesana." kata Kresna. Ia kemudian menuntun bunda panti asuhan tersebut keluar dari rumah sakit.
****
Di perusahaan fashion S.A sedang terjadi kehebohan. Pasalnya mereka mendapat direktur baru yang dingin dan galak. Rumornya anak kedua dari pemilik perusahaan fashion tersebut lulusan luar negeri. Ia baru pulang setelah lama tinggal di luar negeri.
Sebenarnya dia juga menolak tawaran dari orang tuanya untuk menjalankan bisnis keluarga tersebut. Namun, dia dipaksa harus mau. Karena orang tuanya memang menyiapkan perusahaan itu untuknya.
Hari ini hari pertama Shaka menjadi seorang direktur. Selain gamers, ternyata Shaka juga lulusan bisnis di luar negeri. Kesukaannya kepada gaming karena ia memiliki teman seorang gamers.
Wajah dinginnya membuat karyawannya tak ada yang berani menyapa. Mereka hanya menundukan kepala saat bertemu dengan Shaka.
Pada saat yang sama, ada seorang karyawan yang tak sengaja menabraknya. Shaka pun segera memarahi karyawan tersebut. "Nggak punya mata?" tanya Shaka dengan dingin.
"Kalau nggak punya, mending sekalian keluar dari perusahaan! Disini tidak membutuhkan karyawan yang buta." kata Shaka.
"Ma..maaf pak." karyawan itu nampak ketakutan.
Namun, kakak perempuan Shaka segera muncul dan menarik tangan Shaka. "Ikut kakak!" ucap kakak perempuannya.
__ADS_1
Kakak perempuan Shaka bernama Kartika. Ia lahir lima tahun lebih dulu dari Shaka.
"Kamu jangan seperti itu kepada karyawan! Perusahaan kita bisa seperti ini karena mereka juga." omel Kartika yang sering dipanggil Tika.
"Biarin aja." jawab Shaka cuek.
"Kamu kalau dikasih tahu kakak pasti kayak gitu!" Tika semakin kesal dengan perilaku adiknya.
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Kamu harus lebih bisa mikir dewasa!" kata kakaknya.
"Kamu udah mending langsung dapet jabatan. Kakak dulu harus mulai jadi karyawan biasa." imbuh Tika dengan sedikit kesal.
"Aku juga nggak mau dapat jabatan disini kak. Kalau bukan papa yang maksa, aku nggak akan ada disini." seru Shaka kesal. Dia merasa jika kakaknya cemburu dengannya.
"Kalau kakak bisa bujuk papa, aku akan pergi dari perusahaan ini!" imbuhnya.
Sementara Tika hanya terdiam. Ya, sejujurnya dia merasa iri dengan adik lelakinya itu. Dulu, dia harus merintis menjadi karyawan biasa baru bisa dipercaya memiliki jabatan di perusahaan tersebut. Tetapi adiknya, tanpa melalui itu semua.
Tanpa menjawab, Tika keluar dari ruangan Shaka.
Shaka menghela nafas untuk mengatur perasaannya. Baru pertama datang, ia sudah merasa kesal. "Dia pikir aku mau menjalankan perusahaan ini?" gumam Shaka dengan kesal.
Shaka yang kesal mulai menghubungi temannya. "Kamu dimana?" tanyanya melalui panggilan telepon.
"Aku jenuh di kantor. Aku kesana sekarang." kata Shaka kemudian mematikan teleponnya. Dia segera pergi meninggalkan perusahaan tersebut.
Disisi lain.
Hendra sedang melakukan check up rutin di rumah sakit. Dokter mengatakan jika kesehatannya sangat baik. "Yang terpenting bapak jangan terlalu banyak pikiran." kata dokter.
"Nggak banyak pikiran sebenarnya. Cuman mikir anak lelaki saya dok, sampai sekarang belum juga mau menikah. Calon istrinya pergi entah kemana." kata Hendra meluapkan perasaannya kepada dokter.
Setelah selesai Hendra segera keluar dari rumah sakit. Namun, tanpa sengaja ia bertemu dengan Siska yang keluar untuk mencari makan.
"Siska?" ucap Hendra.
Seketika Siska menoleh, dia nampak terkejut melihat Hendra di depannya. "Sedang apa kamu? Siapa yang sakit?" tanya Hendra.
"Mas Wijaya.. Kamu sedang? Siapa yang sakit?" tanya Siska balik.
"Aku cuma check up rutin kok. Wijaya sakit apa?" Siska kemudian mengajak Hendra ke ruang dimana Wijaya dirawat.
Wijaya juga kaget melihat Hendra. Antara senang dan sedih. "Gimana kabar kamu?" tanya Wijaya.
"Baik. Kamu masih anggap aku temen?" tanya Hendra yang merasa kecewa dengan Wijaya. Karena saat dia terpuruk, dia justru pergi tanpa berpamitan kepadanya.
__ADS_1
"Maafin aku." lirih Wijaya.
Hendra pun maju. Kemudian ia memeluk Wijaya dengan erat. "Aku kangen tahu nggak." kata Hendra.
Wijaya tersenyum. Ia menepuk punggung Hendra. "Aku juga." bisiknya.
Mereka kemudian berbincang cukup lama. Hendra menceritakan jika Shaka selama ini tinggal di luar negeri. "Setelah lulus SMA, dia sekolah di luar negeri dan baru kembali seminggu ini." kata Hendra.
"Gimana kabar Ara?" tanya Hendra.
"Dia baik. Sekarang dia jadi model." jawab Wijaya dengan bangga.
"Dia sekarang kurus. Cantik." imbuh Wijaya.
"Ah, semakin kaget aku sama Ara dan Raisa." ucap Hendra.
"Wi, aku mau perjodohan anak kita harus tetap berjalan!" ucap Hendra lagi.
"Terserah anak-anak saja." jawab Wijaya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Besok kalau Ara kesini, kasih kabar aku ya! Aku ingin ketemu langsung dengan dia." pinta Hendra.
"Ya." jawab Wijaya.
Hendra kemudian pamit. Dia harus ke kantor karena ada rapat.
****
Saat Ara berjalan ke ruangan ayahnya. Ia bertemu kembali dengan wanita paruh baya yang beberapa hari lalu bertabrakan dengannya. "Hallo nak," sapa bunda panti.
Ara mengerutkan keningnya. Ia mengingat-ingat siapa wanita itu. "Saya yang bertabrakan dengan kamu beberapa hari yang lalu." imbuh bunda panti.
"Oh, iya. Hallo buk, gimana keadaan ibuk? Maaf waktu itu saya tergesa-gesa jadi nabrak ibuk." kata Ara dengan sopan.
"Nggak apa nak. Ibuk juga nggak lihat waktu itu." ucap bunda panti.
"Ibu kesini sama siapa?"
"Sama anak ibuk." wanita itu menunjuk lelaki muda yang sedang berbicara dengan perawat.
"Nak Kresna!" tiba-tiba bunda panti memanggil pemuda itu.
Dan, betapa terkejutnya Ara saat melihat pemuda tersebut. Lelaki itu berjalan mendekati bunda panti dan Ara. Mata Ara dan Kresna saling bertatapan. Ara tidak pangling dengan Kresna karena tidak ada perubahan yang signifikan.
Langkah demi langkah hati Ara menjadi tak karuan. Ingin dia bersembunyi, tapi kakinya serasa berat untuk melangkah. "Kamu harus hadapi Ara! Kamu udah siap hadapi!" gumam Ara pada dirinya sendiri.
__ADS_1