Miss Gendut

Miss Gendut
Part 31


__ADS_3

Setelah Rey dan Shaka pergi ke kantor. Ara mulai bersiap-siap. Dia memang harus menyelesaikan pekerjaannya di kota A. Karena itu merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang yang profesional. Sekalian ia ingin mengunjungi adiknya.


Selesai packing. Ara pergi ke rumah orang tuanya terlebih dulu. Ia bosan di rumah itu sendirian. Kedatangannya di sambut bahagia oleh Dea dan kedua orang tuanya.


"Udah siap?" tanya Dea.


"Hmm.." Ara tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Ayah gimana?" tanya Ara.


"Ayah udah sehat. Udah bisa jalan-jalan. Kamu udah makan nak?" tanya Ayahnya setelah memberitahu kondisinya.


"Syukurlah." Ara merasa lega.


"Kamu mau ke kota A?" tanya ayahnya lagi.


"Iya yah. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan disana." jawab Ara.


"Berangkat jam berapa?" tanya ibunya.


"Jam 1 nanti buk."


"Kalau gitu makan siang disini aja dulu." pinta ibunya.


"Iya."


Ara dan Dea kemudian ngobrol di kamar Ara yang sekarang ditempati oleh Dea. "Ra, gimana?" tanya Dea.


"Gimana apanya?"


"Gimana rasanya malam pertama?"


"Brupppp.. Uhuk.." Ara seketika tersedak. Pada saat itu ia sedang minum.


"Heh oneng, nggak ada apa pertanyaan lain?" Ara mengelap mulutnya.


"Kalau mau tahu rasanya, nikah aja biar tahu sendiri rasanya." gerutu Ara.


Namun, diomeli Ara seperti itu tidak membuat Dea marah. Ia malah tersenyum tak jelas.


Ara dan Dea mengobrol sampai hampir jam 12 siang. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh ibunya. "Ra, antar makanan ini untuk Shaka!" perintah ibunya.


"Tadi dia nggak bawa bekal kan?" tanya Siska.


"Nggak, cuma sarapan aja." jawab Ara.


"Anter ini sebelum berangkat ke kota A! Kamu harus terbiasa dengan hal seperti ini. Masalah perut suami, itu kewajiban istri." kata Siska.


"Dulu ibu juga gitu sama ayah?" sahut Dea.

__ADS_1


"Iya. Ibu selalu antar makan siang untuk ayah. Kalau nggak gitu, ibu khawatir ayah telat makan." jawab Siska mengenang masa mudanya dulu.


"Wuih, ibu dan ayah romantis banget ya.." seru Dea kegirangan.


"Apaan sih ni anak.." Ara melirik genit ke arah Dea yang kesenengan.


"Buruan anter dulu! Kalian masih jam 1 kan berangkatnya?" Dea menganggukan kepalanya.


"Iya buk. Aku anter sekarang." Ara segera bangkit.


"Kamu buruan siap-siap, nanti jemout aku ke kantor Shaka!" perintah Ara kepada Dea.


"Siap bos." jawab Dea dengan cepat. Ia bahkan memberi hormat kepada Ara yang membuat Ara dan ibunya tertawa kecil.


****


Di perusahaan Fashion S.A.


Shaka membereskan meja kerjanya. Udah waktu makan siang. Ia keluar dari ruangannya dan hendak pergi ke cafetaria perusahaan. Namun ternyata, Elsa dengan sengaja menunggunya di depan ruangan Shaka.


"Hallo pak Shaka, mau makan siang?" tanyanya.


"Hmm.." jawab Shaka singkat.


"Kebetulan aku juga. Boleh bareng kan?" Elsa mengikuti langkah Shaka. Ia bahkan berjalan di sebelah Shaka.


"Aku sama bos memang deket. Dulu kita satu sekolah." sahut Elsa sekaligus memberitahu teman-temannya jika dia dulunya adalah teman Shaka.


"Kita juga sempat pacaran." kata Elsa.


"Elsa cukup!" seru Shaka. Ia tidak ingin menimbulkan kegaduhan bagi karyawannya.


Seketika Elsa terdiam. Namun, ia diam-diam tersenyum karena berhasil membuat teman-temannya heboh mengenai hubungannya dengan Shaka.


Elsa bahkan tidak tahu malu. Ia memaksa semeja dengan Shaka. "El, aku udah nikah jadi jangan deketin aku lagi!" kata Shaka sembari menunjukan cincin kawin yang ia pasang sebagai bandul kalungnya.


"Nikah? Sama siapa?" tanya Elsa tak percaya dengan apa yang Shaka katakan. Ia mengira jika Shaka sengaja melakukan itu agar ia tidak mendekatinya lagi.


"Ara." jawab Shaka dengan cepat dan yakin.


"Ara? Miss Gendut?"


"Ya." jawab Shaka dengan sikap dingin.


Elsa masih tak percaya. Ia terbahak mendengar jawaban Shaka. Entah apa lucu baginya. "Ka, kalau kamu masih marah sama aku. Aku bisa maklum. Tapi jangan tidak masuk akal. Dulu kamu benci banget sama Miss Gendut, mana mungkin sekarang kamu nikahin dia?" Elsa merasa geli. Ia bahkan tak segan tertawa di depan Shaka.


Elsa memegang tangan Shaka. "Kenapa kita nggak kembali saja? Oke kita anggap kamu beneran menikahi Miss Gendut. Tapi aku nggak percaya kamu menikah dengan dia karena kamu cinta sama dia." kata Elsa.


Dulu, mungkin perkataan Elsa itu ada benarnya. Tapi untuk sekarang, kayaknya perkataan itu salah. Shaka mulai merasa nyaman saat berada di dekat Ara. Ia bahkan tidak segan membagi kegelisahannya dengan Ara.

__ADS_1


Namun, belum Shaka menjawabnya. Tiba-tiba seseorang menarik rambut Elsa. "Lepasin tangan kamu dari suamiku!" ucap orang tersebut yang ternyata adalah Ara.


Elsa menoleh, dia menatap wajah yang tak asing baginya. Sembari meronta ia mengingat wajah itu. "Kamu siapa? Lepasin rambut aku!" ucap Elsa.


"Aku istri Shaka." kata Ara dengan marah. Ia mendorong kepala Elsa dengan kasar.


"Istri? Ara?"


"Ya." jawab Ara dengan cepat.


"Miss Gendut?" Elsa tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Hmm.."


"Kamu masih tak tahu malu ya!" ucap Ara dengan marah.


Kini giliran Ara menatap Shaka dengan tajam. "Kamu pamit kerja, tapi ternyata kayak gini?" tanya Ara dengan kesal.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Shaka.


"Nganterin makanan untuk kamu." Ara meletakan rantang makanan tersebut dengan cukup kasar. Ia kemudian berbalik meninggalkan tempat tersebut dengan marah.


Shaka terkejut, ia menatap rantang makanan yang Ara bawa untuknya. Setelah menghela nafasnya, ia mengambil rantang tersebut kemudian mengikuti Ara.


"Tunggu!" Shaka meraih tangan Ara. Namun Ara menghempaskan tangannya.


Entah kenapa, setelah bertahun-tahun, Ara masih saja cemburu setiap kali Shaka dekat dengan Elsa.


Shaka tak banyak bicara. Ia segera menarik tangan Ara ke ruangannya. Namun, Ara terus meronta. Begitu masuk ke dalam ruangannya. Shaka segera memeluk Ara untuk menenangkannya.


"Makasih makan siangnya." lirih Shaka.


Seketika Ara terdiam. "Kenapa nggak hubungi aku dulu kalau mau kesini?" tanya Shaka masih dengan lembut.


Shaka kemudian menarik Ara ke sofa yang ada di ruangannya. Ia segera membuka rantang makanan yang Ara bawa. "Kamu udah makan?" tanya Shaka.


"Makan bareng yuk!" Shaka menyuapi Ara dengan lembut.


"Ini kamu yang masak?"


"Ibuk."


"Em, pantes enak."


"Oh jadi masakan aku nggak enak?" Ara kembali kesal.


"Enak. Masakan kamu dan ibu itu paling enak. Masakan mama juga." jawab Shaka sembari menikmati bekal makan siang yang dibawa oleh Ara.


Entah kenapa, ketika melihat Ara marah. Shaka merasa ketakutan. Apalagi saat Ara pergi dengan marah. Ada suatu ketakutan yang tak bisa dijelaskan di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2