Miss Gendut

Miss Gendut
Part 30


__ADS_3

Selesai makan. Ara berganti pakaian seksi kemudian bergegas menuju kamar Rey. Namun, ia bertemu dengan Shaka di depan kamar. Shaka membulatkan matanya melihat Ara berpakaian seksi. "Kamu mau kemana?" tanyanya sembari melotot.


"Tidur." jawab Ara singkat dan sangat santai.


"Ke kamar Rey?" tanya Shaka lagi.


"Iya lah, kamu kan tidur disana. Aku juga mau ikut." jawab Ara masih dengan santai.


"Dengan pakaian kayak gini?" Shaka masih tak percaya jika Ara akan tidur dengan Rey memakai pakaian seseksi itu.


"Hmm.."


"Ganti baju!" Shaka menarik Ara agar mau ganti baju yang lebih tertutup.


"Nggak mau." namun Ara menolak. Ia meronta dan menarik tangannya kembali.


Shaka tetap memaksa Ara agar berganti baju. "Ganti baju!" pinta Shaka.


"Nggak mau. Kenapa sih? Kamu takut tergoda?" tanya Ara.


"Nggak. Tapi malu dilihat Rey!" sanggah Shaka.


"Rey juga nggak akan mau sama aku, tenang aja." Ara berjalan menuju kamar Rey. Namun, Shaka menariknya. Ia tidak membiarkan Ara masuk ke kamar itu.


Karena mendengar ribut-ribut di depan kamarnya. Rey pun keluar. Ia melongo ketika melihat Ara memakai pakaian seksi. Rey menelan ludah melihat kemolekan tubuh Ara.


Ara segera berlari di belakang Rey. "Rey, aku mau tidur sama kamu. Tapi Shaka ngelarang." Ara mengadu pada Rey.


"Aku boleh kan tidur sama kalian?" tanya Ara dengan suara manja.


"Bo..boleh, tentu saja boleh. Kenapa nggak? Kita kan teman." jawab Rey dengan gugup. Ia gemetaran, karena baru ini dia dekat dengan wanita berpakaian seksi.


"Nggak boleh!" Shaka berseru dan hendak menarik Ara kembali. Namun, Ara menjadikan Rey sebagai tameng. Ia berlari kesana kemari di belakang tubuh Rey.


"Rey tolongin aku!" kata Ara.


Rey pun menghalangi Shaka yang masih semangat ingin menarik Ara. "Biarin aja Ka! Aku juga nggak akan tertarik sama dia. Aku kan cuma cinta sama kamu." kata Rey.


"Nah.. Yuk Rey!" Ara segera menarik Rey untuk kembali masuk ke dalam kamar.


Rey melambaikan tangannya dengan wajah meledek Shaka. Tentu saja Shaka semakin tidak terima. Ia tidak ingin tubuh istrinya dilihat oleh lelaki lain. Shaka segera masuk ke kamar Rey. Dengan paksa ia mengangkat Ara. "Malam ini aku tidur sama kamu!" ucapnya.

__ADS_1


"Lepasin Shaka! Rey tolongin aku! Tolong!" Ara meronta saat Shaka mengangkatnya.


"Rey tolong!" ia mengulurkan tangannya.


"Ka, kamu tega biarin aku tidur sendiri?" Rey berusaha menolong Ara.


"Malam ini aku sama Ara. Jatah kamu besok." jawab Shaka yang mulai pusing dengan permainan yang ia buat sendiri.


Dengan cepat Shaka membawa Ara masuk ke dalam kamar lain. Ia mengunci kamar dan menyembunyikan kuncinya agar Ara tidak melarikan diri ke kamar Rey.


"Shaka buka pintunya! Aku mau tidur sama Rey!" Ara tetap memaksa.


"Kamu istriku atau istri Rey?" tanya Shaka dengan kesal.


"Istri kamu."


"Ya udah, kalau gitu kamu tidur sama aku!" jawab Shaka dengan kesal.


"Cuma tidur doang?" tanya Ara mulai menggoda Shaka. Ia mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.


"Kalau nggak, masak mau salto." jawab Shaka kemudian berjalan ke ranjang.


Namun, Ara dengan cepat mendahului Shaka. Ia melompat ke kasur dan berbaring dengan posisi menggoda iman.


Sesaat kemudian Shaka melempar pandangannya. Ia segera berbaring disamping Ara namun kemudian melempar Ara sebuah selimut. "Tidur! Besok aku harus kerja." kata Shaka tanpa berani menatap Ara.


"Oh, pengen ketemu mantan terindah." gumam Ara dengan nada kesal.


Seketika Shaka menoleh. "Cemburu?" tanyanya.


"Jelas, aku istri kamu." kata Ara dengan cepat.


"Aku nggak peduli dengan perasaan kamu untuk orang lain, entah itu Rey, entah itu Elsa atau wanita lain. Yang harus kamu ingat! Aku istri sah kamu. Meskipun kamu terpaksa menikahi aku. Tapi kamu sudah janji sama orang tua aku untuk menjaga dan tidak menyakiti aku!" ucap Ara memberitahu Shaka makna dari pernikahan mereka.


"Aku tahu." jawab Shaka singkat.


Ia kemudian menatap langit-langit kamar itu. "Aku dan Elsa juga hanya masa lalu." katanya lagi.


"Tidur aja yuk!" Shaka menarik Ara agar mendekat kepadanya.


Tentu saja Ara terkejut dengan apa yang Shaka lakukan. Namun, ia tetap diam di dalam dekapan Shaka. Diam-diam bibir Ara mengembang. Posisi sedekat itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hingga saat ini, ia masih menyukai lelaki yang kini resmi menjadi suaminya tersebut.

__ADS_1


Shaka juga terdiam sembari memejamkan matanya. Ya, dia harus mulai menerima jika kini dia adalah seorang suami dari seseorang. Ia juga harus mulai terbiasa sedekat itu dengan Ara. Saat ini, mungkin Ara mendengar detak jantungnya yang berdetak tak karuan.


Tak lama kemudian. Terdengar dengkuran tipis Ara. Shaka pun menatap wanita yang kini menjadi istrinya tersebut. Jika dipikir lagi, Shaka masih tak percaya jika dia menikahi wanita yang dulu ia benci. Wanita bertubuh tambun yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.


Tanpa sadar senyumannya mengembang. Dia hampir tak percaya jika wanita di dalam dekapannya itu adalah wanita yang dulunya memiliki berat badan hampir sembilan puluh kilogram.


Shaka membenahi selimut Ara agar tubuhnya tidak kedinginan karena ia memakai pakaian seksi dan terbuka. Namun, Shaka masih belum bisa memejamkan matanya.


Ia bangun, kemudian berjalan ke balkon depan kamarnya, menyalakan rokok dan menghisapnya. Pandangannya menatap ke depan. Entah apa yang ia pikirkan.


****


Ara bangun lebih dulu dari Rey dan Shaka. Ia pun menyiapkan sarapan untuk kedua pemuda tersebut. "Pagi.." sapanya saat Shaka muncul ke meja makan. Ia telah berdandan rapi.


Tak lama, Rey juga datang dengan memakai pakaian formal juga. Ia akan pergi ke kantor setelah kemarin ia libur.


"Pagi Rey.." Ara juga menyapa Rey dengan lembut.


"Pagi Kim Ara." jawab Rey dengan riang.


"Kayaknya pagi ini seneng betul. Apa semalam Shaka pergi ke kamar kamu saat aku tidur?" tanya Ara dengan curiga.


"Nggak. Semalam aku bisa tidur dengan nyenyak karena ia tidak datang." jawab Rey dengan senang.


"Apa kalian bertengkar? Kalian putus?" tanya Ara masih dengan curiga.


Namun, diantara Rey dan Shaka tidak ada menjawab. Mereka hanya diam dan menikmati sarapan paginya. Tak lama kemudian Shaka bangkit dan berpamitan. "Aku mau berangkat dulu!" katanya.


"Tunggu Ka!" seru Ara menghentikan langkah Shaka.


Ara segera mendekat. Ternyata, ia melihat dasi Shaka yang kurang rapi. Ara membantu Shaka membenahi dasinya. "Nanti aku ke kota A." pamit Ara.


"Mau ngapain?"


"Aku masih ada kerjaan disana. Kayaknya aku nggak pulang." jawab Ara.


"Sama Dea?" Ara menganggukan kepalanya cepat.


"Berangkat jam berapa?"


"Jam 1 siang." jawab Ara lagi.

__ADS_1


"Ya udah hati-hati!" kata Shaka dengan lembut. Ia mulai bersikap baik kepada Ara. Karena biar bagaimanapun, mereka telah resmi menjadi suami dan istri.


__ADS_2