
"Kamu udah keterlaluan mas!" seru Tika memarahi suaminya.
"Keterlaluan?" Boby tersenyum sinis.
"Jadi kamu masih suka sama mantan pacar kamu itu? Karena jabatan dia lebih tinggi dari aku?" tanya Boby dengan marah.
"Bukan, bukan gitu."
"Terus apa?" Boby menggebrak meja di depannya.
"Aku tahu posisiku lebih rendah dari pecundang itu, tapi aku suami kamu. Suami kamu!"
Brakkk. Beberapa barang di meja kerja Tika pecah. Boby benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Ah.." Tika menangis ketakutan.
"Atau kamu mau balas dendam ke aku?" tanya Boby lagi.
"Aku nggak pernah punya niatan balas dendam ke kamu."
"Terus tadi apa?"
"Mending kamu urus diri kamu yang belum bisa move on dari mantan pacar kamu!" kata Boby kemudian dia pergi dari ruangan Tika dengan marah. Meninggalkan Tika yang menangis sesegukan.
Lagi, lagi Tika menyalahkan Shaka atas apa yang terjadi. Dia merasa suaminya berubah semenjak Shaka kembali dari luar negeri.
****
Shaka pulang ke rumah orang tuanya bersama dengan Ara. Mamanya ingin makan bersama dengan anak dan menantunya. "Ah, mama seneng banget kalian mau meluangkan waktu untuk makan malam bersama." kata Rani dengan senang.
"Iya tante, kebetulan aku dan Shaka nggak sibuk." jawab Ara.
"Kok tante? Mama!" Rani mengajarkan Ara agar memanggilnya mama.
"Iya ma." Ara langsung nurut.
"Ka, ada yang ingin papa tanyain ke kamu." kata Hendra.
"Kebetulan pa, Shaka juga mau ngomong sama papa." Shaka ingin membahas masalah kakak perempuannya dengan papanya.
"Kalau gitu kita makan dulu!" ajak Hendra.
"Kak Tika sama suaminya kok nggak kelihatan?" tanya Ara yang tak mendapati kakak iparnya di meja makan.
__ADS_1
"Kartika ada di kamarnya." jawab Hendra sembari tersenyum. Namun, senyuman itu nampak aneh. Ada raut kesedihan di wajah senjanya.
"Kenapa nggak ikut makan?"
"Dia lagi diet katanya." sahut Rani. Tidak tega melihat wajah suaminya yang sedih dan bingung.
Lalu mereka berempat makan malam dengan penuh bahagia. Mereka bercerita, bersendau gurau, tertawa bersama.
"Oh ya Ka, katanya kamu mau dicelakai lagi?" tanya Hendra yang membuat Ara terkejut. Dia tidak tahu menahu soal itu.
"Dicelakai?" Ara mengerutkan keningnya.
"Kamu dicelakai?" tanya Ara.
Tiba-tiba ia memeriksa tubuh Shaka. Beberapa hari ini Ara sempat curiga karena Shaka yang selalu memakai pakaian lengan panjang. "Dimana yang terluka?" tanyanya.
Saat Ara menyentuh tangannya, Shaka mengerang kesakitan. Akhirnya Ara tahu bahwa tangan Shaka-lah yang terluka. Ara memaksa menaikan lengan baju Shaka. Ia melihat luka gores di tangan suaminya.
"Kapan ini terjadi? Kenapa diam aja?" tanya Ara antara khawatir dan marah.
"Bukan apa-apa. Aku bisa urus sendiri." Shaka menarik tangannya kembali.
"Jadi Ara nggak tahu mengenai ini?" tanya Rani kebingungan melihat Ara dan Shaka hampir ribut.
"Kamu keterlaluan Ka! Hal semacam ini, tapi kamu nggak cerita sama istri kamu!" omel Rani.
"Aku nggak apa-apa kok, ma." jawab Shaka.
Namun, keharmonisan yang tadinya terjalin. Kini berubah menjadi kesunyian. Ara tidak lagi mau ngomong. Wajahnya nampak kesal.
Untuk mengurangi rasa canggung. Hendra mengajak Shaka ke ruang kerjanya. Ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan dengan anak lelakinya.
"Ka, ke ruang kerja papa sekarang!" kata Hendra.
"Papa pinjam Shaka dulu ya Ra!" kata Hendra sembari tersenyum kepada menantunya.
Namun Ara hanya menganggukan kepalanya sekali. Wajahnya masih nampak dingin. Ia benar-benar kesal dengan apa yang telah Shaka lakukan. Bisa-bisanya dia tidak memberitahu apapun ke Ara. Dan menyembunyikan darinya.
"Ra, tunggu Shaka di balkon yuk! Sambil ngopi." ajak Rani.
Ara sebenarnya malas. Tapi, ia tidak mau mengecewakan mama mertuanya yang telah begitu baik padanya. Akhirnya mereka berdua mengobrol di balkon.
"Ra, maafin Shaka ya yang mungkin belum terbiasa jujur sama kamu. Dia orangnya memang seperti itu. Dulu, waktu di luar negeri, dia juga hampir dicekakai orang, tapi dia nggak ngomong ke mama. Mama tahu dari Tika." Rani mencoba membuat menantunya agar tidak marah lagi.
__ADS_1
"Shaka hampir dicelakai beberapa kali?" tanya Ara mulai khawatir.
"Iya. Tapi tidak tahu apa tujuannya. Untung Shaka bisa selamat terus." jawab Rani merasa sedih.
"Mungkin orang itu punya dendam pribadi dengan Shaka atau dengan papa dan mama?"
"Mama juga nggak tahu." Rani dan Hendra juga belum tahu pasti siapa orang itu dan apa tujuannya. Banyak pemikiran liar di dalam pikiran Rani dan Hendra. Tapi, mereka tetap tidak bisa menebak siapa pelakunya.
....
Di ruangan kerja Hendra.
Shaka dan papanya sedang ngobrolin masalah serius. "Tika marah ke papa karena memberikan perusahaan itu untuk kamu." kata Hendra.
"Dia juga marah sama aku. Dan sepertinya merencanakan sesuatu untuk mencelakai aku." jawab Shaka. Ia juga mengungkapkan kecurigaannya terhadap kakak perempuannya.
"Maksud kamu apa?"
"Aku curiga kalau kak Tika dalang dibalik apa yang terjadi sama aku." jawab Shaka dengan yakin.
"Nggak mungkin! Kamu jangan gila! Jangan menuduh kakak kamu seperti itu!" Hendra tidak terima Shaka menuduh Tika tanpa bukti.
"Aku nggak nuduh pa. Tapi melihat kebenciannya ke aku. Itu sangat wajar untuk dia melakukan hal tersebut."
"Cukup Shaka! Papa nggak suka kamu nuduh kakak kamu seperti itu!" kata Hendra. Ia kembali nampak sedih karena kedua anaknya mulai berpikiran negatif satu sama lain. Hendra tak mau kedua anaknya akan saling menyakiti.
"Kakak kamu sedang sedih sekarang. Dia bertengkar dengan suaminya." kata Hendra lagi.
"Ya aku tahu. Itu karena kak Tika selingkuh sama Nathan." Hendra terbelalak mendengar perkataan Shaka.
"Jangan sembarangan bicara!"
"Aku kalau jadi kak Boby juga akan marah kalau lihat istri aku dekat dengan mantan pacarnya." kata Shaka lagi.
"Pa, aku tahu perasaan kak Boby, dia marah karena telah berjuang bertahun-tahun dengan perusahaan tapi dia masih saja jadi manager biasa. Aku nggak nyalahin kak Boby. Itu wajar dia marah." kata Shaka.
"Aku sudah bilang ke papa kalau aku nggak mau perusahaan papa, aku akan bikin perusahaan sendiri." imbuh Shaka. Dia mulai merasa bersalah kepada kakak iparnya.
Namun, Hendra masih diam seribu bahasa. Ia juga masih berada diambang kebingungan. "Kamu pulang dulu aja! Bujuk istri kamu supaya nggak marah lagi!" Hendra mengalihkan pembicaraan.
"Aku nggak peduli kalau dia marah. Kita nikah cuma karena keinginan papa."
"Shaka!!" seru Hendra dengan marah.
__ADS_1
"Berani kamu sakiti hati Ara. Kamu akan berhadapan dengan papa. Dan kamu akan papa coret dari kartu keluarga!" ancam Hendra.