Miss Gendut

Miss Gendut
Part 26


__ADS_3

"Jadi Kim Ara wanita yang dijodohkan sama kamu karena ucapan peramal, kamu pernah cerita ke aku kan?" Shaka pernah cerita kepada Rey mengenai dia dan Ara sebelumnya.


"Hmm.." jawab Shaka singkat.


"Kalau kamu nggak mau, biar aku aja yang nikahi dia!" kata Rey mengagetkan Shaka. Seketika Shaka menoleh menatap Rey.


"Kamu beneran suka sama dia?" Rey menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Apa yang kamu suka? Dia nyebelin gitu." tanya Shaka.


"Tapi dia cantik banget. Kulitnya mulus, senyumnya itu, wuihh manis banget, anj*r, kenapa nasibku tak semujur nasib kamu.." gerutu Rey. Ia kesal dengan nasib yang ia terima.


"Kalau kamu emang nggak suka. Jangan pernah sakiti dia! Atau aku akan rebut dia dari kamu." kata Rey pelan. Tapi perkataan itu terdengar seperti sebuah ancaman.


Mereka seketika terdiam ketika Ara masuk ke kamar. Ara membawa makanan untuk mereka bertiga. "Makan yuk!" ajak Ara.


Ara juga menyiapkan makan untuk Shaka dan juga Rey. "Ini buat Rey."


"Makasih." ucap Rey dengan tersenyum senang. Baru kali ini ada seorang gadis melayaninya mengambil makan.


"Ini buat suami aku.." goda Ara sembari memberikan makanan ke depan Shaka.


"Ish.. Ngarep.." gumam Shaka.


"Rey, mau disuapin nggak?" tanya Ara.


"Shaka nggak mau disuapin katanya." imbuh Ara sembari tersenyum dan melirik Shaka.


"Mau, mau.." jawab Rey dengan cepat.


Namun, Shaka menghalangi Ara. Ia menarik tangan Ara yang hendak memasukan makanan ke dalam mulut Rey. "Jangan sok akrab dengan pacarku!" katanya.


"Kenapa? Kita kan teman ya Rey? Dia pacar kamu, aku calon istri kamu. Jadi kita harus selalu kompak dan akur." ucap Ara lagi.


"Haa.." Ara tetap menyuapi Rey. Begitu juga Rey dengan senang hati menyuapi Ara. Kedua merasa sangat bahagia.


Sedangkan Shaka hanya menatap mereka berdua dengan kesal. Entah apa yang membuatnya kesal. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


Ia pun segera menyantap makanannya dengan tenang. Tidak lagi mempedulikan Ara dan Rey yang masih suap-suapan.


"Kamu mau kembali ke rumah sakit atau tidur sini?" tanya Shaka setelah ia menghabiskan makanannya.


"Kembali ke rumah sakit aja. Aku nggak tenang ninggalin ayah. Lagipula kita kan belum resmi menikah, jadi belum boleh tinggal bersama. Kalau kepengen ya tahan dulu." ucap Ara dengan genit.

__ADS_1


Jujur saja, pada saat itu hati Shaka berdetak tak karuan. Ya, harus diakui jika Ara sangatlah cantik dengan tubuh langsingnya.


"Nj*r, pengen apaan. Aku aja punya pacar, sudah tentu aku sama pacarku." Shaka tiba-tiba mengecup pipi Rey.


Dan tentu saja perbuataan Shaka tersebut membuat Rey terkejut. Rey melotot ingin memarahinya. Namun Shaka segera mengedipkan matanya. ("Dasar brengs*k si Shaka. Bisa-bisanya dia cium aku di depan Ara.")


Shaka hanya ingin menunjukan jika dia dan Rey memanglah pasangan. Tapi, saat melihat wajah Rey, Ara hanya tersenyum kecil. ("Aku ikuti permainan kamu, Shaka.")


"Rey, aku duluan ya! Aku tinggal disini seminggu lagi, nanti kita tidur bareng dan bisa ngobrol." Ara berpamitan kepada Rey sembari mendekat dan hendak mencium pipi kanan dan kiri Rey.


Namun, ia ditahan oleh Shaka yang menarik kerudung jaketnya. "Mau kemana?" tanyanya.


"Pamitan sama Rey." jawab Ara.


"Nggak usah. Dia nggak terbiasa dicium orang asing." kata Shaka melarang Ara cipika cipiki dengan Rey.


"Kata siapa? Aku terbiasa kok, apalagi aku sama Ara kan teman." sahut Rey. Dia juga berharap bisa cipika cipiki dengan Ara.


Ara kemudian menarik dirinya lalu cipika cipiki dengan Rey. Diam-diam Rey meledek Shaka yang menatapnya dengan tajam. Ia menjulurkan lidahnya saat Shaka menatapnya. Shaka pun semakin melotot.


"Ayo buruan!" Shaka dengan segera menarik Ara yang masih berpelukan dengan Rey.


"Aku anter Ara dulu sayank.." pamit Shaka sembari menyentuh dagu Rey dengan lembut.


Rey mengelap dagunya berulang kali.


Di mobil, Shaka meminta supaya Ara tidak terlalu dekat dengan Rey. "Jangan terlalu dekat dengan Rey!" katanya.


"Kenapa?"


"Pokoknya nggak boleh!" Shaka tidak mau mengatakan alasannya.


"Kamu cemburu?" tanya Ara.


"Iya." jawab Shaka dengan cepat.


"Cemburu sama Rey, atau sama calon istri kamu?" Ara menatap Shaka yang masih fokus menyetir.


"Aku takut Rey akan menyimpang kalau deket sama kamu terus." jawab Shaka asal. Karena dia kehabisan kata-kata dan tak memiliki alasan lainnya.


Ara terbahak mendengar jawaban Shaka. "Bukannya dia udah menyimpang ya? Kamu pikir kamu juga normal? Kamu itu juga menyimpang, beg*." ucap Ara sembari terbahak.


"Pokoknya kamu nggak boleh deketin pacarku!" Shaka masih ngeyel.

__ADS_1


"Takut aku akan direbut kan?" Ara kembali menggoda Shaka membuat Shaka tidak fokus menyetir.


"Jangan ganggu aku. Aku lagi nyetir, bahaya!" Shaka berdalih.


****


Di perusahaan milik papanya Kresna. Seorang cleaning service muda sedang dimarahi oleh salah satu karyawan. Karena kurang berhati-hati, pemimpin perusahaan itu terpeleset saat lantai sedang dipel, mengakibatkan pemimpin perusahaan itu terjatuh.


"Bisa kerja nggak? Kamu tahu itu berbahaya, kalau pak Erik kenapa-napa gimana?" seru karyawan yang kebetulan ada di situ.


"Maaf.." cleaning service itu menundukan kepalanya sembari meminta maaf.


"Kamu baru disini?" tanya Erik dengan marah. Ia juga mendorong cleaning service tersebut sampai jatuh.


"Cuci ini sampai bersih!" Erik melepas jasnya, kemudian ia melemparkannya kepada cleaning service baru tersebut.


Ia kemudian meninggalkannya tanpa berbelas kasihan.


Akan tetapi, seseorang dibelakangnya berjongkok dan membantu cleaning service tersebut. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Kresna.


Kresna merasa pernah melihat cleaning service tersebut. Wajahnya sangat familiar baginya. Begitu juga cleaning service tersebut menatap Kresna dengan kaget. ("Ini kan kak Kresna teman sekolah kakak dulu?")


"Kak Kresna kan?" tanyanya memberanikan diri.


"Kamu?" Kresna memicingkan matanya, mengingat siapa wanita itu.


"Oh, kamu Raisa adiknya Ara?" tak lama kemudian Kresna ingat siapa wanita tersebut.


"Kenapa kamu kerja disini? Kakak kamu tahu?"


Raisa menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang kak Ara. Aku libur sebulan kak, daripada cuma bengong mending aku kerja cari uang. Bisa bantu kak Ara buat biaya pengobatan ayah." jawab Raisa.


"Kresna, ngapain kamu?" seru Erik ketika melihat adik tirinya berbincang dengan cleaning service.


"Nanti kita ketemu lagi!" kata Kresna kemudian berlari mendekati kakaknya.


"Kenapa kamu tolongin dia?" tanya Erik.


"Nggak kenapa-napa kak, cuma kasihan aja." jawab Kresna.


"Tapi kalau dilihat-lihat, kalian emang pantas. Sama-sama rendahan." ucap Erik sembari tersenyum sinis.


Kresna terdiam. Setidak sudah bertahun-tahun lamanya ia menerima penghinaan tersebut dari kakak tiri juga mama tirinya. Tanpa sadar tangan Kresna mengepal dengan erat. Ia telah memendam rasa sakitnya selama bertahun-tahun.

__ADS_1


__ADS_2