
Kresna menatap Ara dengan lekat. Sepertinya dia juga tidak lupa dengan Ara meskipun kini bentuk tubuh Ara sudah tidak gendut lagi. Namun, wajah Ara tetap sama. Sekarang nampak lebih cantik.
"Ini perempuan yang bunda pernah ceritakan kemarin." kata bunda panti tersebut.
"Nak, kenalin, ini anak bunda. Namanya Kresna." bunda panti tersebut memperkenalkan Ara kepada Kresna.
"Hallo, kenalin, aku Kim Ara." kata Ara mengulurkan tangannya.
"Kresna." Kresna menjabat tangan Ara. Ia menatap Ara dengan tajam.
"Kamu pikir aku lupa kamu?" tanya Kresna tanpa melepaskan tangan Ara.
Seketika kepala Ara terangkat. Ia menatap Kresna yang juga menatapnya dengan tajam.
....
Di sebuah taman rumah sakit. Ara dan Kresna duduk bersama tapi lama sekali mereka diam tanpa berkata apapun. Kresna sengaja mengajak Ara ketemu setelah ia mengantar bunda panti asuhan.
"Tadi ibu angkat kamu?" tanya Ara membuka pembicaraan. Sudah sangat lama mereka tidak saling bicara setelah bertemu kembali.
"Hmm.. Bunda panti yang dulu merawat aku." jawab Kresna.
"Kamu kemana aja? Kenapa ganti nomer tanpa kasih kabar?" tanya Kresna dengan kesal. Ia masih kecewa dan kesal karena Ara tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
"Berteman sama aku itu memalukan?" tanya Kresna.
"Bukan.. Bukan gitu. Ayahku bangkrut dan kami terpaksa pergi." jawab Ara menjelaskan.
"Terus kenapa harus putuskan kontak?"
"Karena aku nggak mau bikin kamu khawatir." mendengar jawaban Ara, seketika Kresna menoleh. Ia menatap Ara dengan lekat.
Wanita yang dulu berbadan gemuk hampir sembilan puluh kilogram. Kini ia menjelma menjadi cewek cantik dan berbentuk badan indah. "Jauh dari aku susah kan? Makanya kamu jadi kurus." tutur Kresna.
Ara tersenyum kecil mendengar banyolan Kresna. "Maafin aku ya yang ninggalin kamu. Gimana kabar kamu?" tanya Ara sembari meminta maaf.
"Buruk." Ara langsung menoleh.
"Nggak ada yang bikin aku senyum." imbuh Kresna.
"Kenapa kamu di rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Ayah aku. Sejak bangkrut, dia sakit-sakitan." jawab Ara.
Kresna menatap Ara kembali. Dia bisa melihat betapa beratnya hidup yang Ara jalani. Raut wajah Ara menampakan semuanya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Ara berbunyi. Dea yang berada di ruang rawat ayahnya mengabarkan jika kondisi ayahnya terus menurun. Dokter menyarakan supaya ayahnya segera melakukan operasi.
"Jantungnya melemah, kita harus segera melakukan operasi pemasangan ring jantung." kata Dea dari seberang telepon.
"Aku akan segera kesana."
"Maaf Kres, kapan-kapan kita bertemu lagi!" Ara berpamitan. Namun, sebelum ia pergi. Ara memberi Kresna kartu namanya.
"Tunggu Ra.." Kresna hendak mengejar Ara. Namun, tiba-tiba ia menerima telepon dari kakak tirinya.
Kakak tirinya meminta Kresna supaya segera kembali ke kantor. Ada sesuatu yang mendesak.
....
Di depan ruang rawat ayahnya. Dea memeluk Siska yang nampak bingung dan sedih. "Ibu jangan khawatir! Ara akan segera kesini!" ucap Dea terus menenangkan Siska.
"Kamu jangan khawatir, Sis. Mas Hendra sedang tanda tangan supaya Wijaya segera di operasi." kata Rani yang kebetulan juga sedang menjenguk Wijaya bersama suaminya.
Beberapa saat kemudian. Ara berlari mendekati ibunya. "Ayah gimana buk?" tanyanya dengan panik.
"Dokter harus melakukan tindakan segera." Dea yang menjawab. Karena Siska masih cemas.
"Ara?" Rani kaget melihat perubahan bentuk tubuh Ara yang kini nampak lebih cantik.
"Tante Rani?"
"Tante kangen banget sama kamu." kata Rani.
"Aku juga tan.." Ara membalas pelukan Rani.
Sesaat kemudian, Ara teringat ayahnya. "Ayah gimana De?" tanya Ara sembari melepas pelukannya.
"Ayah kamu akan segera dioperasi. Om Hendra lagi ngurus administrasinya." sahut Rani.
Ara membulatkan matanya. "Tapi biaya operasi kan mahal tan?"
"Nggak masalah, yang penting ayah kamu sehat." jawab Rani tanpa beban.
"Aku akan ganti, tapi nyicil ya tan?" ucap Ara lagi.
"Nggak perlu diganti. Tapi kamu harus mau menikah dengan Shaka!" kata Rani membuat Ara kembali membulatkan matanya.
Ara bingung dengan keputusannya. Tapi untuk saat ini, dia harus lebih mementingkan kesehatan ayahnya. Ara menganggukan kepalanya dengan cepat. "Tapi semua itu tergantung Shaka. Apakah dia mau nikah sama aku atau nggak." jawab Ara.
"Dia harus mau. Karena kalian memang sudah dijodohkan dari kecil." kata Rani.
__ADS_1
"Kita tunggu ayah kamu sembuh dulu! Nanti kita bahas lagi!" imbuh Rani.
****
"Papa dan mama ketemu Ara?" Shaka masih nggak percaya dengan apa yang papa dan mamanya katakan.
"Ya.. Dia sekarang cantik."
"Tapi aku tetap nggak mau nikah sama dia." kata Shaka menolak permintaan papa dan mamanya.
"Shaka, kamu harus ngerti! Kamu akan selamat dan bahagia jika menikah dengan Ara." ucap Hendra dengan kesal. Anak lelakinya itu memang sangat pembangkang.
"Nggak mau." Shaka masih kekeh tidak mau menikah dengan Ara.
"Alasannya? Ara sekarang cantik, dia seorang model." tutur Rani.
"Karena.. Karena.. Karena aku nggak suka wanita.." mata Hendra dan Rani terbelalak mendengar jawaban anak lelakinya yang tak masuk akal.
"Jangan ngaco!" omel Rani tak percaya dengan apa yang Shaka katakan.
"Aku serius. Aku udah lama pacaran sama Rey." kata Shaka lagi.
Rey adalah teman baik Shaka saat ia masih tinggal di luar negeri.
"Papa nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus nikah sama Ara. Akh..." Hendra tiba-tiba terjatuh sembari memegangi dadanya.
"Papa kenapa?" Rani menjadi histeris.
Begitu juga Shaka yang menjadi panik saat melihat kondisi papanya. "Papa kenapa ma?" tanya Shaka.
"Papa kenapa?" tanya Shaka lagi dengan khawatir.
Namun, Hendra mulai tak sadarkan diri. Shaka pun bergegas menggendong papanya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Rani terus menangis sembari memangku kepala suaminya. Ia duduk di kursi tengah. Namun ternyata, itu hanyalah trik Hendra. Dia mengedipkan matanya saat Shaka fokus menyetir.
Melihat suaminya yang sudah sadar. Rani hendak melompat. Namun Hendra memintanya untuk diam. Dan Rani pun nurut.
"Ka, kamu nggak kasihan sama papa?" tanya Rani masih dengan terisak. Kali ini dia berpura-pura menangis.
"Papa jadi seperti ini karena kaget dengan perkataan kamu. Nak, sebelum mama dan papa pergi, tolong kabulkan keinginan papa dan mama!" imbuh Rani.
Akan tetapi, Shaka hanya terus diam. Dia seperti orang yang kebingungan. Ia takut papanya pergi dengan kecewa. Tapi ia juga tak mau menikahi Ara. Wanita gendut yang dulu sering mengganggunya.
"Terus Rey gimana? Aku nggak mau sakiti hati pacar aku, ma." ucap Shaka.
__ADS_1
"Nanti mama yang bilang ke Rey." Rani pun menjadi frustasi. Ia masih tak percaya jika anaknya menyukai sesama jenis. Apalagi Shaka bilang kalau dia dan Rey sudah tinggal bersama.