Miss Gendut

Miss Gendut
Part 44


__ADS_3

Shaka tetap tak mau pergi. Dia menjelaskan semuanya kepada mertuanya serta meminta izin untuk tinggal sementara waktu di rumah itu. Tentu saja Wijaya dan Siska mengizinkannya. Mereka justru senang kalau Ara dan Shaka satu rumah dengan mereka.


"Bolehkan Yah? Aku sementara tinggal disini?" tanya Shaka kepada mertuanya.


"Tentu saja boleh. Nanti biar ayah bantu jelasin ke Ara." kata Wijaya menenangkan Shaka.


"Makasih ya yah." Shaka merasa sangat senang karena mendapat dukungan dari mertuanya.


Sembari menjelaskan yang sebenarnya kepada istrinya. Shaka meminta bantuan Rey untuk menyelidiki siapa sebenarnya yang memfotonya secara diam-diam. Rey seorang ahli komputer, dia pasti akan mampu masuk ke situs perusahaan Shaka dan mencari tahu.


Sementara Ara terus mengusirnya. Dia bahkan tidak mau menemui Shaka sama sekali. Kalau pun ketemu, dia pasti akan diam. Ara masih kesal karena foto tersebut.


Shaka masuk ke kamar Ara disaat Dea sedang keluar kamar. Dengan segera Ara mengusirnya. "Keluar nggak?" kata Ara.


"Aku akan keluar setelah aku jelasin semuanya!"


"Ra, apa yang kamu lihat itu tak benar. Ada seseorang yang ingin memisahkan kita." katq Shaka mencoba menjelaskan meskipun Ara tetap menolaknya.


"Ya itu Elsa. Tapi kamu masih aja baik sama dia. Itu artinya kamu lebih percaya sama dia!" jawab Ara juga dengan emosi.


"Aku baik sama dia cuma sebatas pekerjaan."


"Pekerjaan apa? Pekerjaan kok gini-gini!" kata Ara dengan sewot.


Namun, tiba-tiba Shaka malah terbahak. Dia salah fokus dengan bibir Ara yang monyong-monyong.


"Ish, ngapain tertawa?" seru Ara semakin kesal.


"Jangan marah mulu, nanti makin cantik." kata rayuan Shaka dikeluarkan.


"Marah aja cantik, apalagi kalau senyum." lanjutnya.


"Ish, nggak lucu." Ara justru malah semakin kesal.


"Bibirnya jangan manyun-manyun gitu! Ntar aku nggak bisa nahan. Kamu ingat nggak semalam?" kata Shaka pelan. Dia membuat pikiran Ara kembali mengingat apa yang terjadi di antara mereka tadi malam.

__ADS_1


Seketika wajah Ara memerah. Dia malu jika mengingat apa yang terjadi semalam. Mengingat betapa ganasnya mereka berdua.


"Keluar nggak!" seru Ara tidak lagi mau meladeni Shaka.


"Kata ayah aku disuruh tinggal disini sampai kamu mau aku ajak pulang." Shaka berjalan dengan santai kemudian berbaring di atas ranjang tanpa beban pikiran.


"Ra, hari ini aku pusing banget. Perusahaan dalam masalah. Tadi kita meeting, ternyata pendapatan perusahaan menurun drastis. Dan masalah itu ada setelah aku memimpin perusahaan." kata Shaka menjelaskan apa yang terjadi tadi pagi di kantornya.


Ara terdiam. Ia merasa iba setelah mendengar penjelasan Shaka. Namun, hatinya kembali panas saat teringat akan foto Shaka dan Elsa.


"Kak Tika marahin aku habis-habisan, dia menghina aku, mencaci aku, bilang semua ini karena aku yang nggak becus." lanjut Shaka. Ara kembali diam.


"Padahal, meskipun aku nggak tertarik dengan bidang ini. Aku nggak mungkin kan akan jatuhin perusahaan papaku sendiri?" imbuh Shaka dengan suara pelan.


Ara mendengar kekecewaan dari nada suara Shaka. Benar apa yang Shaka katakan. Tidak mungkin Shaka akan menjatuhkan perusahaan papanya sendiri.


"Kalau bukan karena papa yang maksa, aku nggak akan tinggal di perusahaan itu. Papa masih belum percaya kepada kak Bobby, karena kak Bobby belum berpengalaman. Sama-sama belum berpengalaman, papa lebih percaya ke aku. Karena aku anak kandungnya sudah pasti tidak akan mungkin menjatuhkan perusahaan dengan sengaja." kata Shaka lagi.


"Sedang untuk kak Tika? Papa sengaja nggak kasih perusahaan ke dia karena takut dia akan dipengaruhi oleh suaminya." lanjut Shaka.


"Keputusan itu yang membuat kak Tika benci sama aku, bahkan berulang kali hendak mencelakai aku." imbuh Shaka. Jelas sekali dari nada bicaranya jika sebenarnya menyesalkan keputusan papanya itu.


"Kamu tahu foto itu dari siapa?" tanya Shaka sembari menatap Ara yang masih diam.


"Kresna, dari story wa Elsa." jawab Ara.


"Jadi dia yang sengaja ingin pisahin kita?" gumam Shaka dengan marah.


"Jangan salahkan orang lain! Kalau bukan karena dia, aku nggak akan tahu kelakuan kamu di belakang aku kayak apa." sahut Ara. Dia tak habis pikir dengan Shaka yang bisa-bisanya menyalahkan Kresna atas perbuatannya sendiri.


Shaka tidak mau berdebat. Namun, dia masih tetap kesal kepada Kresna. Kenapa Kresna selalu ikut campur tentang urusan percintaannya. Dulu Elsa, sekarang Ara.


****


Beberapa hari kemudian. Shaka mengatur pertemuan dengan Kresna. Dia ingin memperingati Kresna agar tidak membuat suasana menjadi runyam.

__ADS_1


"Langsung aja ya. Aku mohon jangan selalu ikut campur urusan percintaan aku! Apa maksud kamu mengadu ke Ara? Padahal kamu sendiri tidak tahu kebenarannya." kata Shaka dengan kesal.


"Gimana rasanya ditinggalkan? Dijauhi? Enak?" tanya Kresna sembari tersenyum sinis.


Shaka membulatkan matanya. Dia marah dengan pertanyaan Kresna tersebut. "Kenapa kamu lakuin ini aku? Padahal aku nggak pernah sama sekali usik kamu?" tanya Shaka dengan marah. Namun, ia masih berusaha menahan amarahnya.


Kresna tersenyum sinis. "Masih ingat anak lelaki yang pernah kamu tolong di dekat panti asuhan?" tanya Kresna.


Shaka memicingkan matanya. Ia mengingat lagi apa yang ada di memorinya. Seketika matanya terbelalak. "Jadi kamu?"


"Ya. Aku Kresna, anak lelaki yang kamu tolong. Juga yang kamu janjiin akan kamu bawa sebagai saudara kamu. Tapu ternyata kamu bohong, kamu ninggalin aku, dan tak ingat aku sama sekali." jawab Kresna dengan marah.


"Aku akui aku salah. Tapi aku nggak pernah tinggalin kamu. Aku kembali dengan orang tuaku beberapa bulan kemudian, tapi katanya kamu sudah dibawa oleh ayah kandung kamu. Terus aku bisa apa?" Shaka mulai melunak.


"Tapi kalau kamu datang lebih awal, aku tidak akan mengalami semua penghinaan di hidup aku." kata Kresna dengan emosional. Matanya berkaca-kaca. Selama ini, Kresna selalu menyesali hidupnya yang harus tinggal bersama dengan papanya dan juga mama tirinya.


"Setiap hari aku dihina, ibuku dihina." imbuh Kresna yang hampir tak kuat menahan semua amarahnya.


"Kres, maafin aku terlambat." Shaka meraih tangan Kresna.


"Sekarang kamu sudah dewasa. Kenapa nggak kamu balas perbuataan mereka? Aku akan bantu kamu mendapatkan hak kamu." imbuh Shaka. Ia menatap Kresna dengan tenang.


Sementara Kresna menatap Shaka juga dengan tajam. Masih ada keraguan di dalam hatinya dengan janji yang Shaka katakan. "Kali ini aku tidak akan terlambat lagi." imbuh Shaka yang membuat hati Kresna mulai tenang.


Kresna dan Shaka mulai berjabat tangan dan berpelukan. Shaka kembali meminta maaf karena dia terlambat datang waktu itu.


"Aku punya sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu." kata Kresna.


"Apa?"


"....."


Mata Shaka terbelalak mendengar sesuatu yang Kresna katakan. "Kamu yakin?"


"Ya." jawab Kresna penuh keyakinan.

__ADS_1


"Oke, thanks informasinya!" ucap Shaka berterima kasih karena Kresna memberi informasi yang penting untuk Shaka.


"Kalau kamu mau menangkap ikan. Aku akan bantu!" Kresna menawarkan bantuan kepada teman masa kecilnya itu.


__ADS_2