Miss Gendut

Miss Gendut
Part 38


__ADS_3

Shaka dan Ara membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. Sudah sangat larut, namun keduanya masih belum mengantuk. Sementara Dea dan Rey sudah tertidur pulas di tenda masing-masing.


"Dingin?" tanya Shaka.


Ia kemudian memakaikan jaket untuk Ara. Lalu duduk di sebelah Ara sembari menatap ke lautan lepas. "Kamu yakin nggak kalau kak Tika bisa celakai aku?" tanya Shaka yang membuat Ara seketika menjadi terkejut.


"Kak Tika celakai kamu?" tanya Ara masih kaget.


"Nggak yakin sih. Tapi semua petunjuk mengarah ke dia." jawab Shaka masih dengan pandangan ke lautan lepas di depannya.


"Tapi kenapa kak Tika ingin celakai kamu? Dia kan kakak kandung kamu." Ara masih belum mengerti semuanya.


Shaka menghela nafas. Ia kemudian menceritakan semua permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini antara dirinya dengan kakak perempuannya. Termasuk perkataan Tika yang menyakiti hati Shaka tempo hari.


Ara masih tak percaya mendengar cerita Shaka. Ia tahu kakak perempuan Shaka sangat menyayangi Shaka. Ia juga orang yang baik. Tak mungkin akan mencelakai adiknya sendiri.


"Kenapa nuduh kak Tika? Kenapa nggak suaminya?" tanya Ara. Karena suaminya Tika yang minta jabatan. Ara berpikir jika suaminya Tika-lah yang berniat mencelakai Shaka.


"Kak Tika tidak melakukannya sendiri. Tapi dibantu oleh mantan pacarnya." Shaka juga menceritakan mengenai Nathan kepada Ara.


"Cctv malam itu terlihat jika orang misterius itu awalnya keluar dari ruangan kak Nathan. Gelang yang ia pakai sama dengan gelang orang misterius yang ingin tusuk aku itu. Lagi pula kak Nathan sepertinya masih mencintai kak Tika. Dia mungkin di minta kak Tika untuk melakukan itu semua." jawab Shaka yang membuatnya yakin jika pelakunya ada kaitannya dengan kakak perempuannya.


"Kalau kamu yakin, kenapa nggak langsung ditangkap?"


"Aku harus perbanyak bukti, aku nggak boleh gegabah."


"Sebenarnya, aku juga nggak percaya kak Tika akan lakukan semua ini hanya demi warisan." Shaka mengutarakan kekecewaannya terhadap kakak perempuannya.


"Mungkin bukan kak Tika." Ara juga belum percaya jika itu Tika. Namun, mendengar dari cerita Shaka, ia menjadi bimbang.


Shaka menyenderkan kepalanya di pundak Ara. Hatinya benar-benar kalut untuk beberapa hari terakhir. Ia dan kakaknya kini saling mengabaikan. Mereka tidak tegur sapa juga terkesan dingin.


****


Setelah mendengar cerita Shaka malam itu. Setiap hari Ara selalu nampak khawatir. Apalagi jika Shaka pulang kerja dengan wajah murung. Ia tahu sangat berat bagi Shaka untuk bekerja bersama dengan kakaknya dan tidak saling sapa.


Kebetulan beberapa hari terakhir, Ara tidak ada jadwal pemotretan. Setelah selesai masak. Ara segera bergegas ke kantor Shaka untuk mengantar makan siang. Dia benar-benar khawatir. Sama persis dengan apa yang Shaka takutkan.


Kini pikiran Ara menjadi terpecah. Ia tidak lagi fokus dengan keluarganya. Tapi lebih mengkhawatirkan keselamatan suaminya.


Ara pergi ke kantor Shaka seorang diri. Saat ia masuk ke lift. Secara tidak sengaja Ara bertemu dengan Boby, kakak ipar Shaka. "Kamu istrinya Shaka kan?" tanya Boby.


Ara menganggukan kepalanya pelan. Ia tersenyum kecil dan bersikap sopan.

__ADS_1


Namun, Boby justru menatap Ara dengan aneh. Ia menatap Ara dari atas sampai ke bawah. Ya, Boby menyukai bentuk tubuh Ara yang indah. Kulit Ara yang putih mulus, serta lekukan tubuhnya yang seksi.


Ditatap seperti itu membuat Ara menjadi risi. Ia mulai tak nyaman di dalam lift yang hanya ada Boby dan dirinya saja. Ara perlahan mundur dan mepet ke belakang. Sama sekali tidak berani bergerak.


"Kamu takut sama aku? Aku kakak ipar Shaka, suaminya Tika." ucap Boby masih dengan santai.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Mereka tiba di lantai yang sama. "Aku duluan, kapan-kapan semoga kita bisa bertemu lagi, adik ipar." kata Boby sembari mengedipkan satu matanya. Dia genit kepada Ara.


Begitu Boby pergi, Ara juga keluar dari lift tersebut. Ia bergidik mengingat betapa genitnya Boby kepadanya. Namun, itu tak berlangsung lama. Karena Ara segera bergegas ke ruangan suaminya.


"Hai, pak Shaka ada?" tanyanya pada sekretaris Shaka.


"Ada. Udah ada janji sebelumnya?"


"Emang istri nganter makanan untuk suami harus janjian dulu ya?" seketika sekretaris itu terbelalak.


"Oh maaf, anda istrinya pak Shaka?" Ara tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


"Pak Shaka ada di dalam. Mari silahkan!"


Sementara itu di dalam ruangan Shaka. Elsa mengantar dokumen untuk Shaka tanda tangani. "Ka, nanti siang makan siang bareng lagi ya!" ajak Elsa. Sudah seminggu lebih setelah kejadian malam itu. Shaka selalu mengiyakan ajakan Elsa untuk makan siang bersama. Atau terkadang mereka juga makan malam bersama.


"Hmm.." jawab Shaka singkat. Jika bukan karena dia merasa berhutang budi, Shaka tidak mau menuruti apa mau Elsa.


Shaka menangkap Elsa dan sedikit mendorongnya. Menjauhkannya dari dirinya. "Kamu nggak apa?" tanya Shaka menahan rasa kesalnya.


"Enggak. Maaf ya Ka, kakiku tersandung." ucap Elsa.


Sementara Shaka hanya menganggukan kepalanya.


Namun, belum Elsa berdiri. Pintu ruangan Shaka terbuka. Ternyata Ara masuk tanpa mengetuk. Ia ingin memberi kejutan kepada suaminya. Tapi justru dia yang terkejut melihat Shaka dan Elsa dengan posisi berpelukan.


Mata Ara membulat dengan apa yang ia lihat. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Ara dengan dingin. Ia menahan rasa kesalnya.


Shaka yang juga terkejut kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mendorong Elsa. "Kenapa kamu kesini?" tanya Shaka balik.


"Kalau aku nggak kesini aku nggak akan tahu apa yang suami aku lakukan di belakang aku." kata Ara tersenyum sinis.


"Ini nggak seperti yang kamu lihat!" kata Shaka.


"Iya Ra, aku nggak sengaja kesandung dan hampir jatuh. Untung pak Shaka menangkap aku." sahut Elsa mencari simpati Shaka dengan membela Shaka.


"Oh, pahlawan kesiangan dong kayak gitu?" kata-kata Ara masih begitu sinis.

__ADS_1


"Kamu pasti seneng kan bisa duduk di pangkuan bos? Sampai kamu cetak bibir kamu di baju bos kamu." Ara mendekati Shaka kemudian menunjuk baju Shaka yang terkena lipstik Elsa.


Seketika Shaka terkejut. Ia tidak tahu mengenai hal tersebut. Shaka kemudian meraih tangan Ara. "Ini nggak seperti yang kamu bayangin!" ucapnya lagi.


Ara segera menarik tangannya. "Aku kesini cuma nganterin makan siang. Maaf kalau ganggu kalian." ucap Ara.


"Ganggu apa sih? Elsa nggak sengaja kesandung. Kamu terlalu jauh berpikir." kata Shaka mulai agak kesal.


"Terlalu jauh berpikir?" tanya Ara dengan marah, tapi ia menahannya.


"Istri mana yang bisa berpikiran positif saat melihat suaminya pangkuan dengan wanita lain?" tanya Ara semakin kesal.


"Aku khawatir kamu setiap saat. Tapi di belakang aku, ini yang kamu lakukan?" imbuh Ara.


"Kalian berdua keluar! Aku harus ngomong berdua dengan istriku!" Shaka meminta kedua sekretarisnya keluar dari ruangannya.


Begitu mereka berdua keluar. Shaka segera memeluk Ara dengan erat. "Kamu salah paham. Aku sama Elsa tidak ada apa-apa. Dia tadi jatuh dan tak sengaja jatuh dipangkuanku." dengan lembut Shaka menjelaskan.


Saat dirasa Ara sudah mulai tenang. Ia segera membuka kancing bajunya. "Kamu mau ngapain?" tanya Ara dengan gugup. Pasalnya, pasangan itu belum melakukan hubungan badan sejak mereka menikah.


"Ganti baju."


"Kamu ganti baju disini? Nggak takut dilihat orang?" Ara mulai menutup matanya.


"Disini nggak ada orang. Cuma ada kamu dan aku."


Deg.


Digoda seperti itu membuat jantung Ara berdegup tak karuan. "Tak tahu malu.." seru Ara masih menutup matanya dengan tangannya.


Ara menjauh. Ia duduk di sofa sembari menutup matanya. "Udah belum?" tanyanya.


Shaka hanya tersenyum melihat tingkah Ara. Ia kemudian berbaring di sofa dan menjadikan paha Ara sebagai bantal. "Aku capek, pengen bobok bentar." katanya.


Perlahan-lahan Ara membuka matanya. Ia melihat wajah Shaka yang nampak kelelahan. Tangan Ara kemudian menyentuh rambut suaminya. Dengan lembut mengelusnya.


"Kamu pasti sangat lelah. Maafin aku ya!" lirihnya.


"Hmm.. Aku tahu kok kamu lagi cemburu." jawab Shaka dengan mata yang masih terpejam.


"Itu wajar karena kamu suka sama aku." imbuh Shaka.


Namun, perkataan itu membuat Ara menjadi kesal. Ia berusaha mendorong kepala Shaka. Namun Shaka sama sekali tidak bergerak. "Biarin aku bobok bentar aja!" gumamnya. Ara pun seketika terdiam. Ia hanya terus menatap wajah suaminya.

__ADS_1


__ADS_2