
Ara dan Shaka makan malam romantis di sebuah kafe. Shaka sengaja menyiapkan semua supaya Ara tidak lagi marah dan salah paham. "Kamu harus jaga jarak dari Kresna!" kata Shaka.
"Kenapa?"
"Pokoknya aku nggak suka sama dia. Jangan deket sama dia!" pinta Shaka lagi.
"Nggak bisa. Aku punya kerja sama dengan dia. Kita harus deket." jawab Ara masih saja ngeyel.
Tentu saja Shaka menjadi kesal karena Ara sama sekali tidak mau mendengarkan larangannya. Makanan enak di depannya pun kini terasa hambar. Shaka benar-benar kesal dengan sikap keras kepala istrinya itu.
"Kamu tahu alasan aku putus dari Elsa?" tanya Shaka.
"Nggak. Dan nggak mau tahu." jawab Ara dengan cepat dan santai. Ia masih dengan tenang menikmati makanan di depannya.
"Jadi kamu masih berharap balikan sama Elsa?" tanya Ara masih bisa mengatur emosinya.
Shaka kembali kesal karena Ara hendak salah paham lagi. Dia bingung bagaimana caranya menyakinkan Ara jika dia dan Elsa benar-benar hanya menjadi masa lalu.
"Aku putus dengan Elsa karena Kresna. Elsa selingkuh dengan Kresna." ucap Shaka dengan kesal. Padahal, sebenarnya bukan karena selingkuh. Tapi karena Elsa yang masih belum bisa move on dari Kresna.
Ara terkejut mendengarnya. "Elsa selingkuh dengan Kresna?" tanyanya masih tak percaya.
"Hmm.." Shaka menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Itu sebabnya, aku nggak mau kamu direbut." imbuh Shaka sembari meraih tangan Ara.
"Ra, meskipun belum ada rasa suka dihati kita masing-masing. Tapi kita kan sudah menikah. Gimana kalau kita jalani kehidupan kita layaknya suami istri yang saling mencintai? Kita buka hati kita!" kata Shaka.
Sumpah, pada saat Shaka mengatakan hal tersebut. Ara seketika mematung. Hatinya berdebar tak karuan. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Ia menatap Shaka yang pada saat itu juga menatapnya. Mata mereka saling bertemu. Cukup lama mereka menciptakan suasana romantis tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba Ara menyentuh dahi Shaka dengan tangannya. "Kamu lagi nggak sakit kan?" tanyanya yang membuyarkan suasana romantis tersebut.
Shaka pun menghela nafasnya. Ia kesal karena suasana romantis itu seketika menjadi buyar. "Dasar wanita yang nggak bisa diajak romantis." gumamnya dengan kesal.
Shaka yang kesal kemudian berdiri dan meninggalkan kafe tersebut. Ia juga meninggalkan Ara begitu saja. Tentu saja Ara menjadi bingung karenanya. Ara segera menyusul Shaka yang sepertinya sedang kesal.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ara sambil menarik tangan Shaka yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Kenapa tiba-tiba marah? Tadi aja masih romantis." gerutu Ara juga ikutan kesal.
"Jadi artinya perkataan kamu tadi? Katanya mau membuka hati satu sama lain. Mau jalani hidup kita sebagai suami istri. Tapi ternyata itu cuma kata-kata aja. Karena yang kamu suka sebenarnya bukan aku tapi Elsa, uhm.."
Tanpa peringatan Shaka mencium bibir Ara. Awalnya Ara terkejut. Tapi perlahan dia menikmati ciuman itu juga. Shaka segera membuka pintu mobil. Kemudian mereka masuk agar tidak dilihat oleh orang.
Shaka terus mencium bibir Ara tanpa henti. Bagi Ara, ini pertama kalinya ia berciuman. Jadi agak canggung gimana gitu.
Shaka bukan hanya mencium bibir Ara. Tapi dia menciumi leher Ara sampai ke dada Ara. Shaka memangku Ara dan tangannya mulai aktif meraba-raba. Tak puas melakukan di dalam mobil. Shaka mengajak Ara pulang.
Untung pada saat itu Rey sedang di kamarnya, asyik main game. Jadi dia tidak melihat Shaka yang membopong Ara masuk ke rumah. Ara mengalungkan tangannya dileher Shaka. Ia terus menatap suaminya dengan senang. Lelaki yang ia cintai selama bertahun-tahun.
Membuka pakaian Ara satu per satu. Menciumi dan mencumb*nya. Shaka kemudian mengubah posisi. Kini ia berbaring, dan giliran Ara melakukan tugasnya. Ara berdansa di atas tubuh Shaka tanpa menggunakan apapun.
Satu per satu ia membuka pakaian Shaka. Menciuminya dan menggigitnya pelan. Terus turun sampai ke bawah. Ara membuka sabuk Shaka dan mulai menarik celananya.
"Ah.." Shaka tak kuasa menahan rasa gelinya. Matanya merem melek menikmati pelayanan istrinya.
Tak bisa menahan lagi. Shaka segera bangkit dan memutar tubuh Ara. "Ah..." setiap ia menggerakan tubuhnya, Ara akan mengerang. Itu adalah pengalaman pertama bagi sepasang suami itu.
Darah segar mengotori sprei putih tersebut. Shaka berhenti sejenak saat melihat Ara yang kesakitan. "Dilanjut nggak?" tanyanya dengan nafas memburu.
Ara tak menjawab. Tapi dia melebarkan kakinya kemudian mengalungkan tangannya di leher Shaka. Shaka pun tersenyum, dia mulai menggerakan tubuhnya perlahan.
__ADS_1
Setiap hentakan Shaka, terdengar erangan Ara. Namun, Ara semakin memeluk Shaka. Ia bahkan mencakar punggung Shaka karena tak kuat menahan sakitnya.
Kini, kamar itu penuh dengan suara desah*an dan suara daging bertabrakan. Pok. Pok. Pok.
"Hah.."
"Huh.."
Cukup lama sampai akhirnya Shaka mengerang cukup keras. Ia memuntahkan cairan kental itu ke rahim Ara tanpa sisa. "Akh...."
Namun, Shaka tak mau berhenti. Ia memutar tubuh Ara. Kemudian memasuki Ara dari belakang. Dengan posisi itu, Shaka bisa melihat bentuk tubuh Ara yang indah. Ia terus mengguncangkan tubuh Ara dari belakang. Dari cermin, Ara melihat dirinya yang terus mengerang dan mend*s*h. Dibelakangnya Shaka dengan cepat terus mengguncangkannya. Ara mencengkeram sprei untuk menahan guncangan itu.
Semalaman mereka melakukan hubungan suami istri tanpa lelah. Dengan berbagai gaya dan posisi. Mereka meluapkan semua apa yang mereka rasakan selama ini.
Keesokan paginya.
Ara membuka mata dengan tubuh yang terasa sakit. Dia menatap dirinya yang tak mengenakan apapun. Kemudian melihat Shaka yang juga tak mengenakan apapun.
Ara tersenyum kecil mengingat apa yang terjadi semalam. Namun sesaat kemudian, ia merasakan tubuhnya sakit semua. Ada banyak bekas cium*n juga di tubuhnya. Ara menatap Shaka yang masih terlelap.
"Kenapa? Mau lagi?" tanya Shaka yang tiba-tiba membuka matanya.
"Bangun, kamu kerja nggak?" tanya Ara.
"Jam berapa?"
"Enam."
"Masih ada waktu setengah jam lagi. Kita lanjut!" Shaka menarik Ara ke dalam pelukannya. Kini, posisi Ara duduk di atas tubuh Shaka.
Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. Menyinari Ara yang sedang menari dengan indah. "Uh.. Ah.." des*hnya.
__ADS_1
Sementara Shaka menikmati semua itu dengan mata merem melek. Keenakan. Dia menatap Ara yang menari dengan tubuh indahnya.
**Selamat berbuka puasa**