
"Nah, itu Thalita pulang," kata Tante Hesti, mama Thalita.
Thalita dan cowoknya berjalan menghampiri Tante Hesti dan Deasy. Motor cowok itu tidak dibawa masuk ke halaman, tapi tetap terparkir di luar pagar. Mungkin pemiliknya tak punya maksud lama-lama di rumah Thalita, masuk hanya untuk pamit.
"Kok motornya gak dimasukkan, Yon?" tanya mama Thalita.
"Dion mau langsung pamit, Tante. Sebentar lagi mau ada acara dengan teman-teman kuliah. Ini cuma ngantar Thalita aja," Gideon menyalami Tante Hesti yang kebetulan sudah mencuci tangan.
"Gak mau masuk dulu?"
"Terima kasih, Tante. Lain kali saja, Dion buru-buru sekarang."
"Ya udah, terima kasih ya, udah antar anak Tante. Hati-hati kamu di jalan, jangan ngebut!"
"Iya, Tante. Dion permisi dulu, mari Mbak!"
Gideon berlalu setelah pamit pada Tante Hesti dan mengangguk pada Deasy yang dipanggil 'Mbak'. Thalita mengantarnya sampai pintu pagar.
"Itu yang namanya Gideon ya, Tante?" bisik Deasy.
"Ho oh, cakep kan calon mantu Tante? Sopan lagi anaknya, Tante suka."
"Sopan sih iya, tapi kalau cakep sih, lebih cakep Bang Moses kayaknya, hihihi."
"Kalau kedengaran Thalita, dia bisa ngamuk lho."
"Gak bakal kedengaran kok, ini kan Deasy bisik-bisik."
"HAYO!! Ngomongin Thalita, ya?" tanya Thalita sewot.
"Enggak kok, Sayang. Kami cuma ngomongin Gideon," kata Tante Hesti.
"Iya, makanya jangan ge-er dulu jadi orang! Berasa artis kali, digosipin," kata Deasy.
Thalita cemberut, mendengar jawaban Deasy dan mamanya. Cewek itu tak suka, ada orang yang ngomongin pacarnya.
"Dari mana kamu tadi, Tha? Mama lupa."
__ADS_1
"Dari warung nasi padang. Bang Gideon lapar, mau minta makan, eh Mama gak masak."
"Lho? Gitu kok nawarin Deasy makan sih, Tante?"
"Siapa juga yang nawarin Deasy, kan Tante cuma nanya, Deasy sudah makan apa belum. Ya kan?"
Deasy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Benar juga, apa yang dikatakan oleh mama Thalita, beliau cuma nanya, bukan nawarin.
"Ngapain kamu ke sini, Des? Katanya mau ke rumah Bang Moses?"
"Ini udah dari sana kok. Ada yang mau aku bahas nih, tentang Bang Moses. Aku yakin jiwa detektif mu bakal meronta."
"Yuk ke kamarku, kita konseling di sana!" ajak Thalita.
"Mama mau ikutan dong!" kata Mama.
"Oh tidak bisa, Kisanak, ini urusan anak muda. Yuk, Des!"
Deasy tertawa kemudian mengikuti Thalita ke kamarnya. Tante Hesti cemberut, kemudian melanjutkan kegiatan berkebunnya. Tante Hesti memindahkan bibit cabe dari polibag kecil ke dalam pot yang lebih besar. Rasanya, menanam cabe lebih menguntungkan dari menanam bunga.
Thalita merebahkan diri di atas kasur, siap mendengar cerita Deasy yang duduk di kursi. Deasy menceritakan semua keanehan yang tadi dia temui di rumah Moses, kecuali tentang bunga lily warna orange yang tumbuh di antara bunga lily putih. Hal itu menurut Deasy tidak begitu penting.
"Baru akhir-akhir ini sih, aku merasa begitu. Kadang dia periang dan bawel, kadang pendiam dan murung, kadang juga suka marah-marah dan arogan. Perasaan dulu dia gak gitu deh, cuma bawel dan periang aja."
"Kamu bucin sih, jadi baru akhir-akhir ini saja menyadarinya. Sebelumnya kamu dibutakan oleh cinta, jadi gak menyadarinya."
"Asem kamu, Tha! Aku serius ini lho. Bik Sari juga bilang begitu kok."
"Berarti, Bik Sari bucin juga. Oh iya, menurutmu, puntung rokok di perpustakaan itu milik siapa?"
"Kalau aku tau, aku gak nyuruh Bang Moses lapor polisi, Tha. Kan tujuanku suruh lapor, supaya bisa diselidiki itu puntung punya siapa. Kamu ingat gak, Bang Moses pernah merokok, waktu kita ke rumahnya dan dia sedang mabok?"
"Iya ingat. Emang kenapa, Des?"
"Sepertinya, puntung itu punya merk yang sama, dengan rokok Bang Moses malam itu."
"Jadi? Kamu curiga itu puntung rokok Bang Moses? Dan dia gak mau lapor polisi karena takut ketahuan, begitu?"
__ADS_1
"Yup, bener banget, Tha."
Thalita menarik-narik bibir bawahnya, menandakan cewek itu sedang sibuk berpikir. Deasy sudah memahami kebiasaan sahabatnya itu, jadi cewek itu tak mau menganggu. Deasy membiarkan Thalita berpikir.
"Kalau itu puntung milik Bang Moses, terus masih mengepulkan asap, berarti, puntung itu belum lama ditinggalkan. Tapi Bang Moses bilang, dia di kamarnya terus, ngerjain kerjaannya pakai laptop. Jadi, gak mungkin dia bisa berada di dua tempat bersamaan. Dia bukan amuba yang bisa membelah diri," kata Thalita dengan nada melamun.
"Hahahaha," Deasy tertawa ngakak, membuat konsentrasi Thalita hilang.
"Kenapa tertawa?" kata Thalita sewot.
"Habisnya kamu bilang, Bang Moses bukan amuba yang bisa membelah diri, kan emang jelas-jelas dia bukan amuba, dia itu manusia."
"Eh, Des ... waktu kamu naik ke kamar Bang Moses, suara musik di perpustakaan masih terdengar?"
Deasy berusaha mengingat, musik itu masih terdengar atau tidak. Yang dia ingat dengan jelas, musik itu sudah berhenti ketika Bik Sari membuka pintu perpus.
Deasy menggeleng lemah, memorinya tidak dapat mengingat, hal yang ditanyakan oleh Thalita.
"Kamar Bang Moses di lantai dua, perpus di lantai bawah, letaknya juga dekat dapur. Dari perpus ke kamar Bang Moses bisa lewat dalam rumah, bisa juga lewat luar rumah. Andai beneran Bang Moses yang merokok di perpus, terus dia keluar dan lari lewat pintu belakang, terus masuk lewat pintu depan dan naik ke kamarnya, pasti tiba lebih lama dari Deasy. Karena Deasy lewat dalam rumah yang jaraknya lebih dekat."
Deasy menyimak setiap analisa yang dikatakan oleh Thalita dengan perlahan. Semua analisa itu memang masuk akal.
"Bisa sih Bang Moses lari, karena aku sempat berhenti di ruang teve untuk cek HP, ada chat dari Mama, aku sempat baca dan balas, kata Deasy.
" Berapa lama waktunya, kamu baca dan balas chat?" tanya Thalita tertarik. Bisa jadi analisanya salah, karena fakta yang baru saja dikatakan Deasy.
"Gak lama, paling kurang dari semenit. Mama cuma nanya, aku lagi di rumahmu apa enggak. Aku jawab 'gak', gitu doang."
"Semenit ya? Berarti masih gak mungkin Bang Moses lewat luar."
"Emang gak mungkin. Kalau lewat luar, dia kan pasti berkeringat dan ngos-ngosan, itu jam pulang sekolah momennya, siang-siang."
"He em, berarti gak mungkin Bang Moses merokok terus lari ke kamarnya lewat luar. Berarti pelakunya bisa jadi orang luar nih, Des," duga Thalita.
"Bisa jadi, tapi apa tujuannya? Nakutin Bang Moses dan Bik Sari?"
"Ya mungkin saja begitu. Aku sama Bang Gideon sebenarnya sedang menyelidiki sesuatu, Des. Jadi maaf ya, kasus Bang Moses ini kita pending dulu."
__ADS_1
Deasy men*mpuk kepala Thalita dengan bantal. Tak lama, terdengar suara ribut dari kamar itu. Suara itu baru berhenti, ketika Kanjeng Mami berteriak, ada tamu yang mencari Deasy.