Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 40 : Benang Merah


__ADS_3

Kristian berpikir sejenak, pasti dari lubang inilah bau asap rokok di ruang perpus tercium. Pastilah orang yang menguping pembicaraan mereka sambil merokok. Banyak puntung rokok bertebaran di bawah lubang, di tanah dekat kaki Kristian kini.


Mencoba mengintip ke dalam ruang perpus, ternyata sia-sia, karena yang dilihat Kristian cuma tembok yang gelap. Tapi, kok bisa suara di dalam terdengar jelas? Karena penasaran, Kristian meraba ke dalam lubang.


Sebuah permukaan kasar tersentuh tangan Kristian, seperti kawat nyamuk yang berlubang halus, tapi ditutup lapisan cat. Dengan begitu, pasti di dalam sama, permukaan itu tampak seperti tembok biasa. Apalagi tertutup rak dan buku-buku, pastilah orang tak akan menyangka ada lubang itu.


Dari luar, lubang itu juga tampak seperti lubang ventilasi biasa. Bagian yang seharusnya tertutup debu, tampak bersih, menunjukkan lubang itu memang sering tersentuh.


Kristian hendak berjalan ke halaman depan, ketika cowok itu mendengar suara mobil memasuki halaman depan. Mobil Moses masuk, di belakangnya menyusul masuk mobil yang lain. Moses tak tampak turun dari kedua mobil itu.


"Lho? Den Moses mana?" tanya Bik Sari pada orang yang membawa mobil Moses.


"Bos Moses ke luar kota, Bik. Makanya ini mobilnya disuruh antar kemari. Besok dia mau naik taksi aja dari bandara, katanya begitu."


Supir kantor memberikan kunci mobil Moses pada Bik Sari.


"Gak mau masuk dulu? Bibi tadi bikin goreng pisang, lho."


"Wah, boleh banget itu, Bik. Saya suka goreng pisang, apalagi yang masih anget," sopir kantor yang satu lagi, yang menjawab pertanyaan Bik Sari. Memotong temannya yang akan menjawab.


"Kamu kan apa aja yang anget doyan. Telor kucing yang baru keluar juga kamu doyan," kata sang teman.


"E'ek, maksudnya?"


"Ho oh. Kalau baru keluar kan masih anget tuh, hahaha."


"Asem lah kamu tuh."


Bik Sari hanya tersenyum, melihat kedua sopir itu bercanda. Keduanya kemudian duduk di lantai teras, menunggu Bik Sari mengambil pisang goreng dan kopi untuk mereka berdua.

__ADS_1


Kristian memutuskan keluar dari halaman rumah itu, dari tempat dimana dia tadi masuk. Cowok itu sudah menemukan cara menggeser tembok pagar. Bertamu dengan cara yang wajar, itu mungkin pilihan yang paling tepat.


Kristian sudah menyeberang, dan akan ke warung makan untuk mengambil motornya, ketika ada sebuah ojol berhenti di depan rumah Moses. Kriatian mengerutkan kening, ketika melihat Moses turun dari ojol.


Dengan mengendap, Kristian mencari tempat bersembunyi, untuk memantau apa yang akan dilakukan oleh Moses. Setelah turun dari ojol, Moses berjalan ke samping rumah dan menghilang. Kini Kristian sudah tau, kemana Moses pergi menghilang.


Kristian menelepon Gideon, mengatakan kalau dia tak bisa ke rumah Moses karena mengalami musibah. Sengaja menelepon agar terdengar oleh orang yang menguping di luar perpustakaan.


Tak lama, Gideon tampak keluar dari rumah Moses berboncengan dengan Thalita. Keduanya meluncur ke arah warung makan, karena Kristian sudah mengirim pesan pada Thalita, agar menemuinya di sana.


"Bang, mending kita jangan ngobrol di sini, takutnya nanti Bang Moses ke sini. Kita ngobrol di rumahku saja, gimana?" usul Thalita.


"Nah, bener nih usul calon nyonya ku, Kris. Kita jangan ngobrol disini, nanti ketahuan Moses," Gideon mengamini usul Thalita.


"Ya udah kalau begitu, kalian duluan, aku nyusul! Ini masih mau ambil motor aku."


Gideon mengangguk, kemudian melaju mendahului Kristian, untuk pergi ke rumah Thalita.


"Ku ikuti aja, ah. Felling ku mengatakan, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bang Moses," gumam Kristian.


Cowok itu melajukan motornya, mengikuti taksi yang ditumpangi Moses. Taksi itu berjalan tak terlalu cepat, karena menuju ke pusat kota. Kristian mengira, Moses akan pergi ke kantor, karena arah yang dituju taksi itu memang ke arah kantor Moses.


Ternyata, taksi itu masih terus berjalan, meski sudah melewati kantor Moses. Kristian masih mengikuti, sambil tetap menjaga jarak. Cowok itu tak mau, kalau Moses menyadari ada ojol yang mengikuti taksinya.


Di rumah Thalita, Gideon ngomel-ngomel, karena Kristian belum sampai-sampai juga, padahal dia dan Thalita sudah sampai dari setengah jam yang lalu.


"Kemana sih si Kunyuk itu? Bikin orang khawatir aja?" gerutu Gideon.


"Sabar, Bang. Mungkin Bang Kristian masih ada orderan, mangkanya lama," hibur Thalita.

__ADS_1


"Kan harusnya, dia itu mikir, Sayang! Masa narik orderan, padahal udah suruh kita duluan? Emang si Kunyuk itu gak punya otak, kok."


"Yang namanya rejeki, masa sih harus ditolak, Bang? Tungguin aja lah, nanti juga Bang Kristian pasti muncul kok!" kata Thalita kalem.


"Tapi kan aku jadi khawatir sama si Kunyuk itu, Sayang. Takut dia kenapa-kenapa lah, karena bisa jadi, yang kita hadapi ini seorang penjahat kelas kakap. Pembunuh bayaran, misalnya."


"Haduh, Bang Gideon ini kebanyakan nonton sinetron, deh. Makanya jadi mikir yang aneh-aneh. Thalita rasa, Bang Kristian itu bisa menjaga diri kok."


"Ini dari tadi Abang telepon, sama si Kunyuk itu gak diangkat, padahal teleponnya berdering."


"Lha kalau lagi di jalan sambil bawa penumpang, gimana mau angkat? Bisa ngomel penumpangnya, dan Bang Tian dikasih bintang satu. Udah deh, Bang Gideon santai aja dulu, jangan mikir macem-macem!"


Gideon menghela napas, lalu menghenyakkan bokong ke kursi teras, mungkin capek karena sedari tadi mondar-mandir kayak setrikaan sembari ngomel. Thalita tergelak melihatnya, Gideon udah mirip banget kayak Nek Ijah, tetangga depan rumah yang suka ngomel.


"Kenapa sih, Sayang? Ketawa mulu dari tadi?" Gideon manyun.


"Gapapa, lucu aja liat Abang ..."


Thalita tak melanjutkan kalimatnya, karena tiba-tiba ponselnya berdering dan nama Kristian berpendar di sana. Gideon mengambil ponsel Thalita, dan menjawab panggilan Kristian.


"He, Kunyuk! Ngapain kamu nelpon calon nyonyaku hah? Mau nikung?"


"Ssttt, jangan keras-keras, Bro! Aku lagi ngikutin seseorang nih."


"Ngikuti siapa kamu? Hati-hati, jangan sampai ketahuan!" Gideon ikut berbisik.


"Dengar ya, Bro! Aku sedang mengikuti taksi yang ditumpangi Moses. Ini tujuannya ke luar kota, nanti aku share lokasi. Sekarang taksinya masih isi bensin."


"Kurang kerjaan kamu ya, Kris? Di sini kami berdua khawatir, kamu malah enak jalan-jalan. Cepet balik ke sini, kala enggak---"

__ADS_1


Gideon mendengkus kesal, karena Kristian mematikan panggilan, padahal dia masih pengen ngomel. Thalita heran melihatnya, dan hendak bertanya, tapi sebuah motor yang berhenti di depan pintu pagar, menyita perhatiannya.


__ADS_2