Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 46 : Temuan Baru


__ADS_3

Seperti janji sebelumnya, jam delapan pagi Kristian sudah stand by di depan rumah Thalita dengan memakai jaket ojol. Thalita yang melihat kedatangannya, segera pamit pada mamanya yang sedang menyiram bunga.


"Thalita berangkat dulu ya, Ma."


"Hati-hati ya, Tha, jangan sampai kamu hilang juga kayak Deasy!" kata Mama sambil memberi tangannya untuk dijabat Thalita.


"Iya, Ma. Thalita pasti akan jaga diri kok. Mama juga, jangan terlalu memikirkan Deasy, kan masalahnya sudah ditangani polisi, bentar lagi pasti Deasy akan ditemukan. Thalita udah kesiangan nih, berangkat dulu, Ma."


"Iya, Ndhuk."


Mama mengantar Thalita sampai pagar dan menunggu anaknya berlalu, baru masuk ke halaman kembali. Kristian hampir saja menyapa mama Thalita, karena lupa kalau sedang menjalankan aksi sebagai Kang Ojol.


Setelah motor melaju, barulah Kristian menghela napas lega.


"Kenapa, Bang?" tanta Thalita.


"Haduh, hampir saja Abang tadi mau nyapa mamanya Neng Thalita, untung saja sadar kalau lagi jadi kang ojol."


"Wah, bisa berabe kalau ketahuan, Bang. Pasti Thalita disuruh balik lagi ke kamar. Hari-hari ini, Mama makin sensi aja, karena kepikiran sama Deasy. Aku aja jadi susah tidur kok, kepikiran juga sama Deasy."


"Sama, Neng. Abang juga kepikiran mulu. Ngebayangin Neng Deasy disekap di suatu tempat, terus gak ada yang kasih makan, tangan dan kaki diikat, mulut dilakban. Pokoknya ngeri aja sih, Neng."


"Makanya, Bang, kita harus bisa secepatnya menemukan Deasy. Biar semua orang gak kepikiran."


Kristian memarkir motornya di sebuah warung makan yang tak jauh dari rumah Moses, kemudian mengajak gadis itu berjalan kaki.


Tiba di pagar samping rumah Moses, tempat kemarin menemukan pintu rahasia, Kristian celingak-celinguk untuk memastikan situasi aman. Setelah dirasa tak ada yang mengawasi, Kristian menarik tuas yang membuat dinding pagar bergeser terbuka.


"Wah, sama persis kayak yang di film-film, Bang. Aku gak akan percaya, kalau gak melihat sendiri, di sini ada pintu seperti ini," kata Thalita merasa takjub.


Kristian hanya tersenyum, kemudian mendahului melangkah masuk melalui pintu rahasia. Thalita mengekor di belakang pemuda itu, dan merasa semakin takjub, ketika sampai di halaman samping rumah Moses.


Kristian menekan tuas di balik pagar, dan dinding itu menutup kembali seperti semula.

__ADS_1


"Keren sekali," Thalita merasa takjub.


"Kita ke depan Neng! Abang tunjukkan lubang tempat menguping ke dalam ruang perpustakaan," bisik Kristian.


Thalita mengangguk, kemudian kembali mengekor di belakan Kristian.


"Den Moses ada di kamarnya kok, Pak Tarno. Semalam dia pulang, jam dua pagi kalau gak salah. Aku kira dia maling, karena mengendap-endap ketika masuk."


Terdengar suara Bik Sari sedang berbincang dengan Pak Tarno, mungkin mereka berdua sedang membereskan perpus. Suaranya terdengar sangat jelas dari tempat Thalita dan Kristian menguping. Thalita melihat ke arah Kristian, dan Kristian mengerling jenaka sambil mengangkat bahu.


Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri seperti maling, Kristian mengajak Thalita ke halaman belakang rumah Moses.


"Neng, kita masuk dan sembunyi di gudang, gimana?" tanya Kristian ketika melihat pintu dapur terbuka.


"Oke siap, Bang." Thalita mengangkat kedua jempolnya.


Berdua mereka berjalan mengendap-endap menuju pintu dapur, kemudian masuk pelan-pelan tanpa menimbulkan suara, ke dapur rumah Moses dan terus ke dalam gudang. Kristian mengunci pintu gudang dari dalam, agar Bik Sari atau siapapun tak bisa masuk tanpa setau mereka.


"Semoga gak ada yang sadar, kalau pintu gudang ini terkuncinya dari dalam, bukan dari luar," bisik Kristian.


"Kita cari pintu rahasia, Neng! Bukan gak mungkin, di gudang ini ada pintu rahasia juga."


Thalita membentuk jari telunjuk dan jempolnya untuk tanda oke. Kemudian mengulurkan senter kecil yang tadi sudah dia siapkan pada Kristian, dan mulai memeriksa gudang.


Belajar dari pintu rahasia di pagar samping, Thalita dan Kristian mencari semacam tuas, tombol, cekungan atau apa saja yang mereka anggap mungkin bisa digunakan membuka pintu rahasia. Keduanya memeriksa dengan sangat teliti.


"Haduh, capek banget aku, Pak Tarno. Kita istirahat sebentar ya, sebelum bersih-bersih halaman belakang."


Terdengar suara Bik Sari sedang berbincang dengan Pak Tarno di dapur, membuat Kristian dan Thalita saling pandang. Thalita menempelkan telunjuknya di bibir, sebagai tanda agar Kristian lebih hati-hati lagi, jangan sampai menimbulkan suara, agar dua orang tua di dapur itu tidak curiga.


"Boleh aku minta kopi, Bik? Mulutku rasanya pait, dari tadi belum ngopi," pinta Pak Tarno.


"Ngopi bukan e jadi tambah pait, Pak? Kan kopi rasanya pait."

__ADS_1


"Nggak lah, Bik. Kan kopinya ditambahin gula, jadinya manis, kayak Bibi hehehe."


"Halah, bisa aja Pak Tarno ini ngombal, kayak anak muda jaman now, hahaha."


"Kan gaulnya memang sama anak muda, Bik. Den Moses, Neng Deasy, Neng Thalita, sama siapa tuh, temannya yang cowok dua itu?"


"Oh, Mas Gideon sama Mas Kristian."


"Sejak kapan kamu panggil mereka mas, Bik?"


"Sejak barusan, hehehe. Nih, Pak, kopinya. Cepat diminum, biar kita bisa cepat bersih-bersih. Nanti makin siang, makin panas. Aku takut makin hitam, Pak."


"Sabar, Bik. Ini kan masih panas, nanti lambeku mloncot piye? Kamu mau tanggung jawab? Lagian, kan kamu udah hitam juga, Bik. Mustahil jadi putih, meskipun gak panas-panasan," Pak Tarno cemberut.


Bik Sari memberikan piring kecil--lepek dalam bahasa jawa--pada Pak Tarno, agar kopinya bisa didinginkan dan jadi cepat bisa diminum.


"Nyoh, iki ngawe lepek, ben ndang adem kopi e!" kata Bik Sari dalam bahasa Jawa, menyuruh Pak Tarno memakai piring kecil, agar kopinya cepat dingin.


Kedua orang tua itu berbincang sampai setengah jam, membuat Kristian dan Thalita tak bisa berkutik.


"Bang, buka tuh kunci gudang, terus kita sembunyi! Pasti tar takutnya Pak Tarno masuk kemari, cari peralatan berkebun," bisik Thalita pada Kristian.


"Wah iya, Neng. Kok Abang gak kepikiran ya? Kita tar sembunyi di situ aja, di balik kotak gede itu," kata Kristian ikut berbisik.


Benar saja, Pak Tarno mencari peralatan di gudang, tak lama setelah Kristian membuka kuncinya.


"Bik, kok tumben gudangnya gak di kunci?" tanya Pak Tarno, yang merasa heran karena pintu gudang bisa dibuka hanya dengan cara mendorongnya.


"Ku kunci kok, Pak. Masa sih aku lupa, ya?" jawab Bik Sari sambil menggaruk kepala.


"Ya maklum, Bibi kan udah mulai pikun, hahaha."


"Ngawur, wong Bibi masih tujuh belas tahun kok, mana mungkin pikun, hahaha. Kalau gitu, kunci aja, Pak, setelah ambil cangkul!"

__ADS_1


Pak Tarno mengunci pintu gudang, setelah mengambil cangkul dan peralatan, membuat Thalita dan Kristian yang masih di dalam gudang, menghela napas lemah.


__ADS_2