
Bau tembakau yang terbakar semakin kuat tercium di dalam perpustakaan, tapi ketiga orang itu tak berhasil menemukan sumbernya. Thalita berlari keluar, dan mencoba mengendus, berharap bau itu berasal dari ruang makan atau dapur, tapi di kedua ruang itu tak tercium bau tembakau sama sekali.
Kristian mengikuti Thalita keluar, demikian juga Deasy, ketiganya kemudian ke dapur menemui Bik Sari.
"Bik? Ada tamu ya?" tanya Deasy pada Bik Sari yang asik mengupas bawang.
"Tamu? Gak ada kok, Neng. Emang kenapa?"
"Ada bau orang merokok, Bik. Ku pikir ada tamu."
Bik Sari tampak mengendus-endus seperti kelinci, tapi dari dapur memang tak tercium bau rokok sama sekali.
"Mana sih, Neng? Kok Bibi gak cium baunya? Ini yang tercium malah bau bawang."
"Di sini gak tercium baunya, Bik. Tadi di dalam perpustakaan sana tercium jelas," jelas Thalita.
"Kok aneh ya, Neng? Kan ruang perpus itu gak terhubung kemana-mana, cuma pintu itu aja yang dipakai keluar masuk."
"Makanya, Bik, kami jadi heran, dari mana bau asap rokok itu berasal, sementara di luar sini malah gak tercium baunya," imbuh Kristian.
Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponsel cowok itu, orderan ojol. Segera Kristian pamit untuk narik lagi, dan meninggalkan Deasy dan Thalita di rumah Moses.
"Bik, kami pamit pulang juga deh ya, nih Kanjeng Mami suruh Thalita pulang," pamit Thalita.
Tumben emakmu nyuruh pulang, Tha?"
"Kangen kali. Yuk, kamu mau bareng apa tinggal di sini nunggu Bang Moses?"
"Bareng kamu aja, tar Bang Moses pulangnya malam, bisa lumutan aku nungguin."
"Ya udah kalau gitu. Yuk kita pulang! Bik Sari, kami pamit dulu, ya."
"Iya, Neng. Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut! Besok-besok main ke sini lagi, biar Bibi gak kesepian!"
"Tenang aja, Bik! Kami udah liburan kok, jadi pasti sering-sering main ke sini," hibur Deasy.
Keduanya diantar Bik Sari sampai gerbang, kemudian wanita tua kemudian mengunci gerbang dan kembali ke dapur. Belum lama Bik Sari duduk di meja dapur, terdengar klakson mobil di luar gerbang.
"Lha? Itu suara mobil e Den Moses, kok tumben udah pulang?"
Bik Sari mengambil kunci dan bergegas ke depan untuk membuka pintu gerbang.
"Lho? Kok sepi, Bik? Anak-anak sudah pada pulang?" tanya Moses.
"Udah, Den, baru saja mereka pulang. Neng Thalita disuruh pulang sama mamanya, terus Neng Deasy jadi ikut pulang."
__ADS_1
"Terus yang cowok tadi?"
"Kang Ojol malah udah pulang duluan, Den. Tadi ada orderan katanya."
"Kang Ojol?"
"Iya, Den Kristian itu narik ojol buat tambah-tambah uang jajan, Den"
"Oh gitu ya, Bik. Aku pulang duluan, karena aku gak enak badan, Bik. Kepalaku pusing banget, jadi aku mau tiduran sebentar di kamar ya."
"Gak perlu dibikinkan apa gitu, Den? Teh anget barang kali?"
"Iya, boleh deh, Bik. Bawa ke kamar ya!"
"Siap, Den."
Bik Sari berlalu ke dapur, sedang Moses melangkah ke kamarnya.
"DEN! DEN MOSES! BIBI IJIN PULANG KAMPUNG YA."
Bik Sari berteriak sambil berlari menaiki tangga. Moses yang baru saja merebahkan diri, kembali duduk di atas kasur."
"Kenapa, Bik?"
"Ta ... tapi aku gak bisa antar ya, Bik. Kepalaku pusing banget nih."
"Iya, Den, gapapa kok. Nanti Bibi bisa naik ojol ke terminal."
Moses memberikan sejumlah uang pada Bik Sari, dan memesankan ojol untuk ditumpangi wanita tua itu sampai terminal.
*****
Sudah seminggu ini Bik Sari pulang kampung, hingga di sini lah Thalita sekarang. Di dapur rumah Moses untuk membuat minuman bagi semua orang di rumah itu. Thalita tampak melamun di depan kompor, dan suara teko yang bersuit menyadarkannya.
Bergegas Thalita membawa nampan berisi teh ke ruang tamu, dan menyuguhkannya pada papa mama Deasy dan mamanya sendiri.
"Jadi, kamu ini pacaran dengan anak kami, Nak Moses?" tanya Om Hans, papa Thalita.
"Iya, Om." Moses menjawab lemah, selain karena sakit, juga sedih mendengar Deasy hilang.
"Kamu kenal di mana dengan anak saya?" Tante Anna, mama Deasy ikut bertanya.
Moses menceritakan pertemuannya pertama kali kepada orang tua Deasy dan juga mama Thalita, ketiganya mendengarkan dengan serius.
"Jadi, udah lama juga kamu pacaran dengan anak saya ya?" tanya Tante Anna.
__ADS_1
"Sekitar tujuh bulanan, Te," jawab Moses.
"Sekarang, kamu tau Deasy kemana? Hiks hiks hiks, Tante khawatir sekali."
Tante Anna menangis, kemudian Om Hans memeluk istrinya itu supaya merasa sedikit tenang.
"Saya ketemu Deasy seminggu yang lalu, Tante. Waktu itu dia kesini dengan Thalita dan seorang teman prianya, mungkin cowoknya Thalita. Setelah itu, saya belum ketemu Deasy lagi sampai hari ini," jelas Moses.
"Kamu kesini sama Gideon, Tha?" Tante Hesti, mama Thalita ikut bertanya.
"Enggak kok, Ma, sama Bang Kristian, teman kampusnya Bang Gideon. Eh, mereka teman satu kost juga sih."
"Lho? Bukan e waktu itu kamu ngakunya dia pacarmu, Tha?" Gideon merasa bingung.
"Dia temannya pacarku, Bang. Mungkin Abang salah dengar tuh," elak Thalita.
Moses menggaruk kepalanya yang tak gatal, perasaan Thalita waktu itu mengakui kalau Kristian itu pacarnya, kenapa sekarang cewek itu malah menyangkal? Menurut Gideon, ada yang aneh dengan Thalita.
"Coba ya aku tanya Bang Kristian, siapa tau dia tau dimana Deasy, karena Bang Kristian itu langganan ojol Deasy."
Thalita memencet-mencet ponselnya, mencari nomer Kristian, tapi cewek itu ternyata tidak menyimpannya. Terpaksa Thalita menelepon Gideon, untuk meminta nomer Kristian.
"Kristian? Ini dia lagi sama Abang, mau ngomong sama dia?" kata Gideon setelah Thalita menjelaskan tujuannya menelepon.
"Iya, Bang. Urgent ini urusannya, Deasy menghilang dari rumah."
"Menghilang gimana? Terus apa hubungannya dengan Kristian?"
"Abang kasih dulu HPnya pada Bang Tian, nanti Thalita jelaskan, oke?"
Gideon memberikan ponselnya pada Kristian, dan berpesan untuk di loudspeaker, agar dia bisa ikut mendengar obrolan.
"Enggak kok, Neng. Aku belum ketemu lagi dengan Neng Deasy sejak hari itu, yang kita ketemu di depan rumah Bang Moses," jawab Kristian, setelah Thalita menjelaskan dan bertanya tentang keberadaan Deasy.
"Jadi Abang gak tau Deasy berada sekarang ya?" tanya Thalita.
"Abang gak tau, Neng. Abang juga seminggu ini gak narik ojol, sibuk ngurusi skripsi."
"Ya sudah kalau begitu, Bang. Terima kasih ya."
Thalita menutup panggilan dan mengangkat bahu, semua orang di tempat itu tau, Deasy tidak sedang bersama Kristian.
Tante Anna kembali menangis, dan Om Hans memeluknya. Tante Hesti juga tampak menangis, karena Deasy juga sudah dianggap anak sendiri. Thalita menarik-narik bibir bawahnya sambil berpikir, kemana Deasy mungkin pergi.
Hanya Moses yang sekilas tampak menyeringai, seolah tak pernah peduli, kemana perginya Deasy.
__ADS_1