
Thalita sudah menghubungi Gideon dan Kristian perihal Deasy yang menghilang dan kecurigaannya pada Moses dan rumahnya. Kedua cowok itu sepakat untuk bertemu dengan Thalita dan membahas masalah itu.
"Oke, Sayang. Aku sama Kristian bisa nih ketemuan sama kamu. Tapi enaknya jangan di rumah kamu deh, mending di tempat lain saja."
Gideon menanggapi usul Thalita untuk bertemu.
"Enaknya dimana kalau gitu, Bang?"
"Di taman aja gimana? Kan biasa si Tian itu mangkal di sana. Biar kalo dia dapat orderan jadi gampang juga."
"Oke, Bang, kita ketemu di sana aja. Tar lagi aku meluncur ya."
"Oke, Sayang, Abang tunggu di sana atau di jemput?"
"Tunggu di sana aja, Bang! Kan aku lebih deket juga dari sini, kalau cuma ke taman."
"Siap, Sayang, tar lagi Abang otewe."
Thalita mematikan panggilan dan menghela napas. Kekhawatirannya pada Deasy, membuat cewek itu kalut. Entah bagaimana nasib sahabatnya itu, masih hidup atau malah sudah menjadi mayat, itu yang menjadi pertanyaan yang memenuhi kepala Thalita.
"Kamu kemana sih, Des? Aku khawatir banget tau! Cepat pulang ya, Sobat!" desah Thalita.
Papa Thalita memutuskan untuk ijin tak masuk kantor hari ini. Papa menemani Om Hans melaporkan hilangnya Deasy pada pihak yang berwajib. Sedang mama Thalita, menemani mama Deasy di rumahnya. Tante Anna terus saja menangis, sejak pulang dari rumah Moses kemarin, juga tak mau makan.
*****
"Bang! Udah lama nunggunya?" Thalita menepuk bahu Gideon dan membuat cowok itu kaget.
"Eh, kamu bikin kaget saja sih, Sayang?"
"Abis Abang melamun mulu, makanya kaget."
" Abang lagi mikirin temanmu, Deasy, kira-kira apa ya yang terjadi sama dia. Abang khawatir dia kenapa-kenapa."
__ADS_1
Thalita menghela napas, cewek itu tentu saja khawatir juga, sampai-sampai dia tak bisa menelan makanan dari kemarin.
"Thalita juga khawatir, bahkan udah mikir yang enggak-enggak, tapi---"
Thalita tak dapat melanjutkan ucapannya, cewek itu sudah menangis, membayangkan sahabatnya mungkin juga sudah menjadi mayat. Gideon memeluk Thalita, untuk membuat cewek itu sedikit merasa tenang.
"Eh, Bang Kristian mana, Bang? Apa dia gak bisa datang?"
"Tadi dia dapat telepon dari Bik Sari, untuk menjemputnya ke terminal, dia baru balik dari kampung."
"Baguslah kalau Bik Sari udah balik, ada yang merawat Bang Moses, dia lagi payah juga sakitnya."
"Gak dirawat di rumah sakit?"
"Dia gak mau. Mungkin takut gak ada yang jagain."
"Kan bisa minta tolong Abang atau Kristian buat jagain di RS, kami berdua kan udah free, gak perlu ke kampus lagi."
"Gak enak kali, Bang. Kan kalian belum lama kenal juga."
"Kenapa kamu, Bro? Kok wajahmu kayak dikejar setan gitu?" tanya Gideon sambil mengerutkan kening.
"Aku barusan ngantar Bik Sari dari terminal sampai ke rumah Moses."
"Terus?"
"Aku ketemu Moses, Yon. Tapi mukanya serem banget, gak kayak waktu ketemu sama kita itu."
"Serem gimana, Bang?" tanya Thalita kepo.
"Ya serem. Pandangan e itu tajam, terus dia juga gak ada senyum sama sekali ke aku. Ke Bik Sari juga ngomongnya bentak-bentak gitu. Biasanya Moses gak bersikap gitu, kan?"
"Setau Thalita sih gak pernah, Bang. Bang Moses itu kan orangnya ramah, suka senyum, ngomongnya juga lemah lembut."
__ADS_1
"Makanya, Tha, aku juga merasa heran kok."
"Kamu nganter Bik sari sampai masuk rumah, kok ketemu Moses?"
"Awalnya sampai gerbang aja sih. Tapi ada Moses yang kayak mau keluar rumah gitu. Nah, dia bentak-bentak Bik Sari itu di pinggir jalan depan rumahnya."
"Hah? Yang bener, Bang!"
"Bener kok, Tha. Makanya aku heran."
"Terus, gimana lanjutannya, Bro?"
Sepertinya Moses itu udah pesan taksi, karena dia langsung naik taksi yang seperti sudah menunggu di depan gerbang. Aku kasian sama Bik Sari yang bawa banyak barang, jadi ku bantu dia bawa masuk barangnya."
"Hem gitu doang," kata Gideon.
"Jangan salah, Bro! Waktu masuk ke dalam rumah, rumah itu sangat berantakan, seperti ada orang yang abis ngamok."
"Maksudnya, Bang?"
"Ya rumahnya berantakan banget, Tha. Bik Sari aja jadi nangis lihat kondisi rumah berantakan kayak gitu. Paham sih, dia kan baru saja tiba, mungkin masih capek. Lihat rumah berantakan kan auto tugas dia buat bersihin."
"Kita bantuin yuk, Bang!"
Thalita menggoyang lengan Gideon seperti sedang merajuk, mirip sekali dengan seorang bocah yang merayu mamanya supaya dibelikan permen. Lucu sekali.
"Ayok, deh. Kamu ikut gak, Kris?"
"Bukan gak mau bantu bersih-bersih ya. Tapi aku lagi kejar setoran nih. Nanti deh abis narik, aku nyusul ke sana."
"Ya udah kalau gitu, kami tunggu ya."
"Oke, Bro!"
__ADS_1
Mereka berpisah di taman itu. Gideon dan Thalita pergi ke rumah Moses, sedang Kristian melanjutkan narik ojol.