
"Lho, kok ada kamu,Tha?"
Moses terkejut, melihat ada Thalita di perpus pribadinya. Mana Thalita sedang bersama seorang cowok tak dikenal, Moses jadi merasa kesal.
"Maaf, Bang! Aku numpang pinjem perpus, buat ngerjain tugas dari sekolah."
"Tugas apaan, sih? Kok Deasy juga bilang ada tugas yang berhubungan dengan perpus?"
Deasy dan Kristian tiba tepat waktu, mereka bisa mendengar jawaban Thalita pada Moses, jadi mereka bisa menyamakan jawaban.
"Tugas bikin review novel, Bang. Jadi kami harus baca novelnya dulu. Kebetulan aku dan Deasy udah pernah baca novel di perpus ini, jadi kami kemari. Kalau baca novel di tempat lain, tar jadi baca dari awal lagi, itu membuang waktu, tenaga serta pikiran."
Jawaban Thalita yang cukup panjang, membuat Moses mengerti, jadi dia tar meragukan lagi alasan mereka.
"Kamu teman sekelas mereka juga?" tanya Moses pada Gideon.
"Enggak kok, Bro. Aku cuma ngantar Thalita aja. Ini ku pinjam buat ku baca selagi nungguin mereka."
"Kamu udah kuliah atau malah udah kerja?"
"Masih kuliah, cuma lagi skripsi, jadinya santai."
"Sama dong berarti kayak aku. Kalau begitu, kita ngobrol di depan aja yuk! Biar para bocah SMA itu bisa ngerjain tugas tanpa terganggu kita."
Gideon berdiri, dan mengikuti Moses keluar dari perpus. Keduanya kemudian duduk di ruang tamu. Bik Sari datang membawa dua gelas sirop dan satu toples camilan.
"Bik, siapkan makan siang untuk anak-anak, ya!" kata Moses.
"Tadi udah Bibi tanyai, Den, katanya semua udah pada makan. Apa Den Moses mau Bibi siapin makan siang?"
"Aku sih udah makan di kantor tadi. Ya udah kalau gitu, bawain cemilan aja buat mereka, Bik!"
"Siap, Den."
Bik Sari berlalu ke belakang, hal itu dimanfaatkan Gideon untuk bertanya tentang Bik Sari.
"Bik Sari itu udah lama kerja di sini, Bro? Kok sepertinya kamu percaya banget sama dia."
"Ya lumayan sih, ada kali tiga tahunan, Bik Sari kerja di sini. Asisten di rumahku sebelumnya, saudara Bik Sari. Terus, waktu dia pensiun, Bik Sari yang gantiin."
"Kamu akrab banget ya, sama Bik Sari?"
"Namanya kami ini hanya tinggal berdua saja, ya otomatis kami jadi akrab. Kan kami saling membutuhkan juga, kalau salah satu lagi sakit, siapa lagi yang merawat?"
"Iya juga sih. Pasti Bik Sari kerjanya juga bagus. Buktinya, rumah segede ini rapi dan bersih kan?"
__ADS_1
"Iya, cuma kadang aku kasihan sama dia, kalau aku kuliah atau kerja, dia sendirian di rumah. Makanya aku senang, Deasy dan Thalita sering kemari."
"Kamu gak ada tukang kebun atau sopir?" tanya Gideon penasaran.
"Gak ada. Kalau halaman udah terlalu berantakan, baru aku panggil tukang kebun part time. Biasa ya Bik Sari, yang nyapu sama nyiram tanaman. Makanya, motor kamu tadi ku kira motor tukang kebun yang biasa dipanggil Bik Sari."
"SIAL!! Gara-gara motorku butut?"
"Hahahahaha."
Gideon mengambil cemilan di atas meja, cemilan yang tadi diantar oleh Bik Sari. Kemudian meminum teh yang tersedia juga di atas meja, teh itu memiliki aroma yang sedikit aneh.
"Oh iya, aku mau balik ke kantor ya, Bro. Tadi aku pulang mau ngambil berkas yang tertinggal."
"Oke, Bro. Aku numpang merem sebentar di sini ya? Tuh para bocah pasti masih lama tuh."
"Tiduran aja di kamar tamu situ, dari pada di sofa, bikin sakit punggung!"
"Oke, Bro, terima kasih, ya."
Moses mengangguk, kemudian beranjak ke kamarnya untuk mengambil berkas. Gideon ke perpustakaan, memberitahu para bocah, kalau dia akan rebahan di kamar tamu.
Gideon masih di dalam perpus, ketika Moses pamit untuk balik ke kantor. Deasy mengantarnya sampai pintu pagar, setelah Moses pamit pada Bik Sari.
"Enggak, Sayang. Abang naik taksi aja, karena nanti pulang malam, capek kalau nyetir sendiri."
"Pulangnya naik taksi lagi?"
"Gak lah, diantar sopir kantor."
"Kirain malam-malam naik taksi, kan bahaya, Bang."
"Abang itu laki, bukan cewek manis kayak kamu. Jadi gak bakal ada preman yang bakal modu ke Abang, hahaha."
"JAHAT!!" Deasy pura-pura ngambek. Moses mengingatkan akan perkenalan pertama mereka, saat Deasy diganggu preman di halte depan sekolah.
Deasy masuk ke dalam rumah, ketika Moses sudah menghilang bersama taksi yang membawanya. Cewek itu kemudian mengunci gerbang, supaya aman.
"Kok bisa kalian kemari juga?" tanya Deasy pada Thalita dan Gideon, ketika dia sudah bergabung dengan mereka di perpustakaan.
"Kami ingin menyelidiki perpustakaan ini, karena mendengar ceritamu yang aneh itu," jawab Thalita.
"Katanya, kamu sama bebeb mu ada urusan yang lebih penting, hingga gak mau bantuin aku?" tanya Deasy sedikit sewot.
"Ya itu urusan kami, menyelidiki tempat ini tanpa setahu kamu. Takut kamu keceplosan ke Bang Moses."
__ADS_1
"Iya, Des. Maaf ya, kami gak ngasih tau kamu, takut kamu keceplosan dan ngasih tau pacarmu!" Gideon mengatakan kata pacar, sambil melirik Kristian.
"Gak usah lirik-lirik kayak gitu, aku udah tau kalau Neng Deasy ini punya pacar pemilik rumah ini! Aku kan ngantar dia, karena aku driver ojol."
"Kok Bang Gideon bisa kenal sama Bang Kristian?" tanya Deasy heran.
"Gimana gak kenal, Neng, kami kan satu kampus, satu kost, satu kamar juga," jawab Kristian.
"Pantesan, keliatan akrab banget kalian ini," kata Deasy.
"Gimana, Sayang? Kamu nemu keanehan di perpus ini?" tanya Gideon pada Thalita.
Thalita menggeleng. Sedari tadi, dia ,Deasy dan Moses sudah mencari sesuatu yang terlihat janggal di perpus ini, tapi tak menemukan apa-apa. Bahkan Kristian sudah hampir menurunkan semua buku-buku dari rak, berharap menemukan pintu rahasia seperti di film-film. Untung Deasy mencegahnya, karena bisa membuat Moses curiga.
"Kami tadi juga mencoba membuka pintu yang terkunci dari luar, tapi anak kunci masih menempel di dalam. Gak bisa tuh, Bang," kata Thalita.
"Berarti, waktu itu memang ada anak kunci menempel di dalam, jadi Deasy dan Bik Sari tak bisa membukanya dari luar, kan?"
"Iya, Bang Gideon, tadi kayak gitu juga gak bisa dibuka."
"Terus, akhirnya pintu bisa dibuka, setelah kamu turun bareng Moses kan, Des?"
"Iya, Bang Dion."
"Aku tadi sempat ngobrol dikit sama Moses. Aku melihat ada keanehan pada cowokmu itu, Des, tapi aku gak tau, apanya yang aneh."
"Ya kamu itu yang aneh, Bro. Masa melihat tapi gak tau, kan aneh?" sungut Kristian.
"Justru di situlah letak keanehannya, Yan. Kalau aku tau anehnya dimana, itu namanya gak aneh."
"Kalian berdua ini, membuat kepalaku pusing!" keluh Deasy sambil merebahkan diri di sofa.
"Eh, kalian mencium aroma rokok, gak?" Thalita mengendus seperti kelinci.
"He em nih, padahal dari tadi gak ada yang merokok di sini, kan?" Deasy merasa heran.
"Kristian kali tuh, abis merokok, jadi bau badannya mirip."
"Kamu pengen ku ***** ya, Bro? Sembarangan kalau ngomong. Aku kan bukan perokok!"
GLODAKKK
"SUARA APA TUH?"
Deasy menghambur keluar dari perpustakaan, diikuti ketiga temannya. Sementara itu, ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati mereka, juga sepasang telinga yang menyimak obrolan mereka. Tampak asap putih mengepul dari bibir sang Pengintai.
__ADS_1