Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 44 : Kisah Renata


__ADS_3

Renata bangun dari pingsannya, dan mendapati diri sedang terbaring di ranjang periksa dokter kandungan yang menjadi langganannya.


"Udah bangun kamu, Ren?" tanya Dokter Sinta yang masih asik dengan ponsel miliknya.


"Siapa yang bawa aku ke sini, Mbak?" Renata balik bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan bapak dari anak di perutmu itu?"


"Bang Moses? Kemana dia sekarang, Mbak?" Renata memijit kepalanya yang masih terasa berdenyut, pusing.


"Tentu saja dia balik ke villa miliknya. Mana mau dia nungguin di ruang praktekku yang sempit ini. Kamu udah kuat jalan kan, Ren? Yuk pindah ke rumahku!"


Tempat praktek Dokter Sinta berada di depan rumahnya, dia tak perlu jauh-jauh untuk membuka praktek, juga lebih mudah saat pasiennya sedang butuh bantuan mendadak.


Tanpa banyak bicara, Renata berusaha turun dari atas ranjang, tampak sedikit kesulitan, karena kepalanya terasa luar biasa pusing. Dokter Sinta hanya melirik, tak ada niatan untuk membantu sama sekali, membuat Renata mendengkus kesal.


Setelah merasakan pusingnya sedikit reda, Renata mendahului Dokter Sinta beranjak keluar dari ruang praktek. Dengan terhuyung, Renata melangkah menuju teras rumah sang Dokter, dan duduk menunggu di kursi teras.


"Mbak punya makanan?" tanya Renata, ketika Dokter Sinta datang, setelah mengunci ruang praktek.


"Kamu belum makan?" Dokter Sinta balik bertanya.


Renata menggeleng, sedari pagi, belum ada secuil makananpun yang masuk ke perutnya. Pembantu yang ada di villa sedang pulang kampung, lebih dari seminggu yang lalu. Persediaan makanan di kulkas sudah ludes dari kemarin. Itulah kenapa dia menyuruh Moses datang ke villa, untuk membawakan dia bahan makanan.


Renata hanya keluar dari villa untuk memeriksakan kandungannya ke tempat prakter dokter kandungan, tidak pernah untuk pergi berbelanja. Biasanya sang Pembantu yang pergi keluar untuk membeli semua kebutuhan mereka. Tapi karena sedang mudik, Renata terpaksa menelpon Moses agar datang ke villa.


"Masuk! Katanya lapar, kok malah bengong?" teguran Dokter Sinta membuat Renata terjaga dari lamunan.


"Eh iya, Mbak."

__ADS_1


Renata masuk ke dalam rumah, dan Dokter Sinta mengunci pintu di belakangnya. Rasa lapar yang sudah tak bisa ditoleransi, membawa Renata menuju ruang makan. Rumah Dokter Sinta bukan tempat yang baru sekali ini didatangi Renata, cewek itu sudah sering menginap di sana, terutama saat kandungannya mulai terasa tak nyaman.


"Yang ada cuma mie instant, Ren. Kamu mau yang rasa apa?" tawar Dokter Sinta.


"Apa aja deh, Mbak. Yang penting kenyang."


Dokter Sinta memasak mie instant untuknya sendiri dan juga Renata. Meskipun tak baik makan mie malam-malam, itulah makanan paling mudah untuk dihidangkan saat ini. Persediaan makanan di tempat sang Dokter juga sedang menipis.


"Pembantu di villa Moses sedang mudik ya, Ren?" tanya Dokter Sinta sambil sibuk berkutat di depan kompor.


"Iya, Mbak. Makanya tadi ku hubungi Bang Moses, maksudku ku minta tolong beli bahan makanan, eh dia datang sambil marah-marah, terus pergi lagi."


"Dasar cowok gak bertanggung jawab. Masa dia gak tau, kalau wanita hamil tuh gampang lapar?"


Renata mengendikkan bahu. Ketika Dokter Sinta menghidangkan mie yang masih menggebulkan asap di hadapannya, Renata segera menyantapnya dengan lahap."


"Aku tanya sama kamu deh, apa benar, itu anak Moses?"


"Tapi kok Moses bilang, itu bukan anaknya. Dia selalu mungkir, pernah melakukan hal itu sama kamu, Ren."


"Ya suka-suka dia sih, mau bilang apa, yang jelas ini anaknya. Kalau gak percaya, tes DNA aja kalau orok sialan ini nanti lahir!"


Renata berkata dengan sangat yakin, tak ada keraguan sedikitpun dalam ucapannya, membuat Dokter Sinta meragukan juga ucapan Moses, dan lebih mempercayai Renata.


"Gimana kejadiannya?"


"Ya gak gimana-gimana, Mbak. Namanya juga orang pacaran. Mungkin malam itu kami aja yang kebablasan. Tau sendiri kan, rumah Bang Moses gimana? Suasana juga mendukung."


"Lantas?"

__ADS_1


"Lantas, setelah aku bilang kalau hamil, dia ungsikan aku ke villa itu."


Kali ini wajah Renata tampak sedih. Mungkin ada rasa rindu pada kedua orang tuanya, karena sebagai anak semata wayang, tentu saja Renata juga anak kesayangan.


"Orang tuamu gimana?"


Renata menggeleng pelan. "Aku gak tau, Mbak. Aku gak pernah punya nyali untuk mengatakan pada orang tuaku. Aku menghilang begitu saja. Mungkin saat ini, mereka sudah melaporkan aku hilang ke polisi."


"Yang ku dengar memang begitu. Apa kamu gak punya niatan untuk pulang?" tanya Dokter Sinta hati-hati.


"Aku akan pulang, setelah orok sialan ini lahir, meski aku tak yakin dia lahir dalam keadaan hidup."


"Kok gitu?"


"Entahlah, aku merasakan kalau dia lahir dalam keadaan mati."


"Hahahaha, wong aku saja sebagai dokter kandungan, menyatakan kalau bayi kamu baik-baik saja kok. Dia akan lahir dengan selamat, meskipun..."


Renata memandang Dokter Sinta dengan penasaran, karena Dokter cantik itu tak melanjutkan ucapannya. "Meskipun?"


"Dia akan lahir dengan kondisi kurang normal."


Renata tercekat. Seketika rasa bersalah merambati hati gadis itu. Padahal tadi dia masih membenci orok di dalam perutnya, tapi mendengar bayi itu tidak lahir secara sempurna, membuat dia merasa sedih.


"Udah malam, Ren, tidur yuk! Biar aja piring-piring itu dicuci asistenku besok pagi!"


"Mbak tidur saja dulu, pasti sudah capek karena praktek sampai larut, gara-gara pasien satu ini. Biar ku bereskan ini sebentar."


"Okey. Kamu tau kan, dimana kamar tidur untukmu di rumah ini?"

__ADS_1


Renata hanya mengangguk, dan Dokter Sinta meninggalkannya sendirian di ruang makan. Dengan pelan, Renata mengangkati piring kosong dan mencucinya di tempat cuci piring. Pikiran cewek itu masih tertuju pada bayi dalam perutnya. Bagaimana kelak nasibnya, kalau ternyata bayi itu terlahir cacat?


Hampir tiga puluh menit, Renata masih saja berdiri di depan tempat cuci piring. Sampai kemudian sebuah suara membuatnya sangat terkejut.


__ADS_2