Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 45 : Dimana Deasy


__ADS_3

"Lho, Non, ngapain melamun di situ?" tanya Mbok Minah, asisten rumah tanga di rumah Dokter Sinta.


"Eh, Mbok Minah, bikin kaget saja. Ini lho, Mbok, aku lagi mikir, kenapa sekarang ini aku gampang banget merasa lapar?" jawab Renata.


"Pastinya, karena yang butuh asupan makanan itu, gak lagi satu, tapi sekarang dua. Kan Dedek utun yang ada di dalam perut Non Renata makin gede, butuh lebih banyak makanan. Begitu lho, Non."


"Wah, sekarang Mbok Minah pinter ya? Udah mirip Mbak Sinta kalau lagi jelasin ke pasiennya," kata Renata sambil tersenyum.


"Mungkin karena terbiasa dengar, Non. Jadinya malah apal. Mbok Minah kan gak pernah hamil juga, jadi gak tau gimana rasanya jadi wanita hamil."


Mbok Minah memang tidak pernah menikah. Sekarang ini, di usia senjanya, Mbok Minah masih tetap hidup sendiri. Sendiri dalam arti yang sebenarnya, karena Mbok Minah tak mempunyai seorangpun yang disebut keluarga.


"Rasanya gak enak, Mbok. Kalau boleh memilih, aku aja ogah hamil kok," kata Renata sedih.


Renata melangkah menuju kamar tamu di rumah Dokter Sinta. Merebahkan diri, dan tertidur sampai pagi, itulah keinginan Renata saat ini.


Di tempat lain, ada seseorang yang juga sulit memejamkan mata, mata gadis itu tampang nyalang, meski jam di dinding sudah berdentang dua kali. Jam dua dini hari.


"Des, kamu kemana aja, sih? Aku kangen banget sama kamu, tau! Cepat pulang dong!"


Thalita sedang berbicara dengan foto Deasy di layar ponselnya. Kentara sekali, gadis itu sangat merindukan sahabatnya. Bersama sedari kecil, membuat Thalita merasa Deasy bukan hanya sekedar teman, mereka sudah seperti saudara, meski berbeda orang tua.


Secara iseng, Thalita membuka aplikasi hijau miliknya. Sekedar menghilangkan kegabutan dengan membaca chat-chat lama. Tiba di room chat Kristian, Thalita melihat cowok itu sedang online. Segera Thalita mengirim pesan chat.


[Belum tidur, Bang?] ~ from Thalita.


Setelah centang abu-abu berubah jadi biru, ponsel Thalita pun berdering.


"Kok malah nelpon sih, Bang? Gak tidur aja?" sapa Thalita.


"Abang gak bisa tidur, Neng. Sedang kepikiran. Boleh curhat gak, Neng?"


"Curhat apa, Bang?"


"Abang tuh kepikiran Neng Deasy terus, Neng, sampai-sampai gak bisa tidur. Dari tadi Abang pengen banget diskusi dengan Neng Thalita, tentang penyelidikan yang Abang lakukan seharian ini, tapi itu si Kutil Onta, ngancam Abang mulu," kata Kristian kesal.


"Kutil Onta? Bang Gideon maksudnya?"

__ADS_1


"Iya, Neng."


"Abaikan dia! Sekarang Abang cerita pada Thalita, tentang penyelidikan Bang Kristian!"


Kristian menceritakan semua yang dia lakukan seharian kemarin. Mulai dari penemuan pintu masuk rahasia dari pagar samping rumah Moses, sampai penyelidikannya ke villa di daerah Dingin.


"Abang yakin, gadis yang di villa itu bukan Deasy?" tanya Thalita setelah mendengar cerita Kristian.


"Yakin, Neng. Itu bukan Neng Deasy, karena gadis itu seperti wanita yang sedang mengandung. Perutnya belum begitu besar banget, tapi udah kelihatan kalau hamil. Gak mungkin kan, Neng Deasy yang baru ngilang beberapa hari udah hamil gede?"


"Ya emang gak mungkin, Bang. Lagian Thalita itu kenal betul siapa Deasy. Gak mungkin dia melakukan perbuatan itu, apalagi sampai hamil."


"Tapi, Neng, kok Abang malah merasa, kalau gadis yang Abang lihat di villa itu lebih mirip Renata."


"Renata? Pacar Bang Moses yang katanya menghilang?"


"Iya, Neng. Kalau dipikir-pikir, dulu Abang itu sering lihat si Renata ini di kampus, cuma Abang abai aja, karena gak kenal, cuma sekedar tau. Baru setelah Renata menghilang setelah hari itu, Abang baru nggeh."


"Ada kemungkinan sih, kalau memang benar itu Renata. Mungkin karena hamil, dia sengaja sembunyi dari orang tuanya."


"Tapi ya bego juga sih, apa gak mikir, kalau orang tuanya lapor polisi kan urusan bisa jadi runyam?"


"Ya ya ya, masuk akal sih, Neng. Terus, Neng Deasy dimana?"


"Kalau firasatku nih, Bang, Deasy itu ada di rumah Bang Moses."


"Hah? Kalau memang bener, dimananya, Neng? Kan di situ ada Bik Sari, masa Bik Sari gak tau?"


"Ya itu misterinya, Bang. Itu yang harus kita selidiki!"


Terdengar Kristian menghela napas, mungkin cowok itu sedang memikirkan dugaan Thalita. Tidak masuk akal, tapi pasti Thalita punya alasan.


"Neng Thalita menemukan sesuatu?" tanya Kristian setelah cukup lama terdiam.


"Aku dan Bang Gideon, menemukan jepit rambut Deasy di gudang dan di perpustaan, Bang. Kemungkinan kedua tempat itu berhubungan, mungkin dihubungkan oleh pintu rahasia."


"Ya bisa jadi itu, Neng. Secara juga ada pintu masuk rahasia dari pagar samping. Rumah itu rumah tua, gak heran kalau ternyata rumah itu punya ruangan rahasia atau ruang bawah tanah sekalipun," Kristian menyimpulkan.

__ADS_1


Saat ini, semua pemikiran Thalita mulai masuk akal, apalagi jika digabungkan dengan hasil penyelidikannya tadi.


"Terus gimana nih, Neng? Lapor polisi?"


"Abang mau ditertawakan? Semuanya itu pasti menurut pemikiran polisi, cuma dugaan konyol dari para bocah yang sedang halu main detektif-detektifan. Harus ada bukti dulu, kalau mau lapor polisi, Bang!"


"Iya juga sih, Neng, bener banget. Kalau begitu, kita selidiki dulu aja."


"Besok kita ke rumah itu, tapi lewat pagar yang kata Abang itu!"


"Hah? Neng Thalita yakin?"


"Yakin, Bang. Kita berdua lewat situ, kemudian menyelinap masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang, gimana?"


"Kita berdua saja? Gideon gak diajak?"


"Kan Abang tau sendiri, dia itu resenya minta ampun. Bisa ketahuan kalau kita menyelinap ngajakin dia."


"Iya juga sih. Terus gimana? Abang jemput Neng Thalita ke rumah Eneng atau gimana?"


"Aku akan pamit Bokap dan Nyokap, mau ke kampus, tapi gak bawa motor, naik ojol."


"Abang pura-pura jadi Kang Ojol yang dipesan Neng Thalita?"


"Ho oh, kayak gitu rencananya. Gimana, Bang?"


"Oke, Abang setuju. Jadi jam berapa Abang ke rumah Neng Thalita?"


"Jam delapan, kepagian gak, Bang?"


"Terlalu pagi, Neng. Bang Moses pasti masih berada di rumahnya."


"Bang Kristian lupa, ya? Kalau Bang Moses pura-pura pamit ke luar kota? Pasti dia akan berada di villanya, ya kan?"


"Waduh! Gawat berarti Neng. Kita harus gerak cepat menemukan Neng Deasy. Kalau enggak, kasihan dia. Berarti dari kemarin dia belum makan."


Thalita tercekat. Benar sekali pemikiran Kristian. Kalau itu yang beneran terjadi, pasti Deasy akan sangat menderita.

__ADS_1


"Oke, Bang Kristian. Jam delapan Abang harus ada di depan rumah Thalita."


"Siap, Neng Thalita."


__ADS_2