Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 38 : Ular di Kamar Bik Sari


__ADS_3

"Lho? Den Kristian ngapain berdiri di situ? Nyari Bibi ya?" tanya Bik Sari mengagetkan Kristian.


"Iiii ... iya, Bik. Tian pikir tadi ada di dalam, soalnya dari dalam kamar Bibi ada suara orang," jawab Kristian salah tingkah.


Tadi cowok itu sempat berpikiran buruk, karena tidak melihat Bik Sari dan Pak Tarno di dapur. Motor Pak Tarno masih ada, tanda pemiliknya belum pulang, kamar Bik Sari tertutup, dan terdengar suara desis aneh dari dalamnya.


"Bibi masih beres-beres gudang, Den. Tanggung, tinggal dikit, jadi Bibi lanjutin dulu. Pak Tarno bantuin Bibi, biar cepat kelar. Jadi maaf, kopinya belum Bibi bikin jadinya."


"Oh, gapapa kok, Bik. Tian disuruh Bang Moses buat liat aja, kok Bibi lama. Kalau Bibi masih beresin gudang, yo gapapa."


"Tinggal buang sampah aja, Den, nanti biar Pak Tarno. Sekarang Bibi mau bikin kopi buat Den Tian dan Den Moses dulu."


Bik Sari mencuci tangannya, dan mulai merebus air untuk membuat kopi. Kristian duduk menunggu di kursi yang ada di dapur, tapi matanya masih menatap pintu kamar Bik Sari. Cowok itu masih penasaran dengan bunyi-bunyi aneh dari sana.


"Bik, boleh gak Tian buka pintu kamar Bibi? Tian mendengar ada bunyi aneh."


"Bunyi aneh gimana, Den? Jangan bikin Bibi takut, ya!"


"Coba Bibi dengar sendiri deh! Eh iya, Pak Tarno mana, Bik?"


"Masih di gudang, Den. Ada barang-barang yang belum Bibi susun, jadi sekarang dikerjain sama Pak Tarno."


"Oke, aku panggil dulu, buat temani buka kamar Bibi."


Kristian beranjak menuju gudang, dan Bik Sari melanjutkan membuat kopi. Tak lama Kristian kembali bersama Pak Tarno, pria tua itu membawa linggis, untuk jaga-jaga katanya.


Dengan hati-hati, Kristian membuka pintu kamar Bik Sari, dan Pak Tarno bersiap di belakangnya. Mereka berhitung sampai tiga, sebelum membuka pintu kamar.


"Satu ... dua .... tiga! ASTAGA, PAK!! GEDE BANGET!"


Kristian berteriak kaget, melihat seekor ular besar melingkar di depan pintu yang baru dibukanya, di mulut ular itu ada seekor tikus yang cukup besar, sepertinya tikus got.


"ADA APA, DEN?" tanya Bik Sari ikutan panik.

__ADS_1


"Aaa ... ada ular, Bik. Gede banget tuh lihat!"


"ASTAGA!! UNTUNG BIBI GAK DI DALAM, DEN. BISA-BISA BIBI DIMAKAN SAMA ITU ULAR."


Kristian ingin tertawa, tapi tak tega. Bagaimana mungkin ular itu akan memakan Bik Sari yang beratnya hampir 80 kilogram?


"Biar Bapak tangkap ularnya, minta karung dong, Bik," kata Pak Tarno santai.


"Ba ... Bapak gak takut?" tanya Bik Sari.


"Gak lah, gini-gini kan aku pawang ular, Bik. Ular tangga, tapi. Hahahaha, ya udah, mana karungnya?"


Dengan tergopoh, Bik Sari mencari karung, bekas wadah beras, kemudian memberikannya pada Pak Tarno. Pak Tarno malah memberikannya pada Kristian.


"Pegang, Den! Bapak akan tangkap ularnya, lalu nanti Bapak masukkan karung."


"Iiii ... iiya, Pak."


Kristian merasa takut, tapi tak enak untuk menolak. Ular itu jenis piton, belum terlalu besar, mungkin masih anakan, tapi membuat Kristian cukup merasa ngeri.


"Mau diapain nih ularnya, Pak?" tanya Kristian. Cowok itu usai meminum segelas air putih, untuk meredakan ketegangan yang dialaminya.


"Mau Bapak sate, Den. Mau? Hahahaha."


Kristian ikut tertawa mendengar candaan Pak Tarno, sedang Bik Sari cemberut, karena merasa geli, mendengar Pak Tarno hendak membuat sate ular.


"Ada apa nih? Kok pada ngobrol di sini, padahal ku tungguin dari tadi di depan, lho?" tanya Moses yang muncul di dapur.


"Ada ular gede banget di kamar Bik Sari, Bang. Sepertinya mau makan Bik Sari tuh, hahahaha." Kristian yang menjawab pertanyaan Moses.


"Terus? Mana ularnya sekarang?"


"Itu, Den. Sudah dimasukkan karung sama Pak Tarno, katanya mau dibikin sate, kan Bibi jadi geli, hiiiii."

__ADS_1


"Beneran, Pak?"


"Enggak lah, Den. Cuma mau iseng ke Bik Sari aja. Tapi nanti ularnya biar Bapak bawa, tetangga Bapak ada yang suka piara ular kayak gini, sukur-sukur kalau nanti dibeli sama dia."


"Kira-kira, itu ular dari mana ya, Pak? Seumur-umur tinggal di sini, baru sekarang ini ada ular masuk rumah," kata Moses.


"Bisa juga dari sungai belakang sana, Den. Mungkin hanyut dari hulu, terus mampir nyari tikus di sini, sekalian nengok Bik Sari, hehehehe."


"Awas ya, Pak Tarno! Gak ku bikinkan kopi lagi kalau ke sini lagi," ancam Bik Sari.


"Ya jangan, Bik! Nanti kalau aku kangen kopi buatan Bik Sari, gimana?"


"Makanya, jangan usil!"


Akhirnya mereka semua meneruskan obrolan di dapur. Bik Sari menyiapkan kopi untuk semua orang, termasuk dirinya. Juga menggoreng pisang yang dibawanya dari kampung. Moses tampak bahagia, tawanya lepas menanggapi candaan Pak Tarno dan Bik Sari. Semuanya tak lepas dari pengamatan Kristian. Cowok itu merasa, Moses yang ini sangat jauh berbeda dengan Moses yang ditemuinya tadi pagi.


Menjelang magrib, Pak Tarno pamit pulang, tak lupa dibawanya ular yang ada di dalam karung. Moses menambahkan lagi dua lembaran merah untuk Pak Tarno, yang membuat lelaki tua itu sangat girang.


"Makasih ya, Den Moses! Kalau begini tiap hari, Bapak bisa cepat kaya, nih."


"Iya, Bapak cepat kaya, aku cepat bangkrut. Besok ke sini lagi ya, Pak! Tuh rumput di halaman belakang udah pada tinggi, kalau bunga lily Mama sampai mati, bisa marah tuh Kanjeng Mami," pesan Moses.


Bik Sari dan Kristian merasa terkejut dengan omongan spontan Moses. Kanjeng Mami bisa marah? Bukankah mama Moses sudah meninggal? Bagaimana bisa marah kalau tanaman lily miliknya mati?


"Beres, Den. Besok pagi-pagi Bapak ke sini, sekalian mau benerin pagar di belakang itu. Tadi Bapak liat ada lubang besar di sana, mungkin dari situ ular ini naik dari sungai."


"Atur aja deh, Pak! Nanti kalau perlu beli apa-apa, Bapak minta aja sama Bik Sari, ya! Besok aku mau pergi ke luar kota pagi-pagi."


"Siap, Den."


"Den Moses mau pergi? Bukan e baru sehat ya?" tanya Bik Sari.


"Iya, Bik. Ada urusan penting, mungkin aku bakal menginap, tapi ku usahakan pulang kok."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, nanti Bibi siapkan koper Den Moses."


Pak Tarno dan Kristian pamit pulang. Tapi Kristian yang mengetahui besok pagi Moses akan bepergian, mempunyai suatu rencana. Cowok itu akan berdiskusi dengan Gideon dan Thalita.


__ADS_2