Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 48 : Terjebak


__ADS_3

"Wah, aku gak nyangka banget, rumah ini ada lorong rahasianya, Bang. Ku pikir cuma rumah tua biasa," kata Thalita.


"Kalau Abang sih udah curiga, Neng. Tapi gambaran Abang tuh cuma ada ruang bawah tanah yang di pakai jadi gudang, atau lemari dinding kayak yang di film Narnia itu lho, Neng."


"Mungkin ada juga kali, Bang. Ibarat gunung es di film Titanic, rahasia rumah tua ini baru ujungnya saja yang kita tau. Masih ada lereng dan kaki gunungnya."


"Boleh juga perumpamaannya. Abang haus, Neng, pengen ambil minum di dapur."


Kristian hendak beranjak ke dapur untuk mengambil minum, tapi Thalita segera mencegahnya. Gadis itu kemudian memberikan botol minumnya pada Kristian.


"Nih, Bang, habisin! Setelah ini baru ku isi ulang lagi di dapur."


Kristian menerima botol minum itu, dan meneguk isinya sampai tandas. Setelah itu, Thalita mengendap ke dapur, dan mengisi ulang botol minumnya. Beberapa saat kemudian, gadis itu sudah kembali.


"Lanjut yuk, Bang!"


Kristian beranjak dari sofa, dan berjalan ke rak tempat pintu masuk ke lorong rahasia berada, Thalita mengekor di belakangnya. Setelah tombol kecil di sebelah dipencet, pintu masuk ke lorong mulai terbuka. Thalita dan Kristian melangkah perlahan.


"Kita ke atas nih, Neng?"


"Iyalah, emang kita mau kemana lagi?"


Kristian mengangguk, kemudian melangkah pelan menyusuri lorong. Thalita melangkah di belakang cowok itu sambil memegangi tangannya, sengaja juga tidak menyalakan senter, agar lebih hemat daya. Siapa tau mereka nanti membutuhkannya, setelah senter yang dibawa Kristian padam.


Ada desir halus di dada Kristian, ketika merasakan tangan lembut Thalita dalam genggamannya. Buru-buru cowok itu menepis rasa itu, karena teringat Thalita adalah pacar temannya.


"Kita naik ya, Neng?"


"Iya, Bang."


"Kalau begitu, pegang senter ini, biar Abang bisa melihat saat naik ke atas!"


"Abang bawa aja senter itu, biar Thalita pakai punya Thalita!"

__ADS_1


Kristian memasukkan senter ke dalam saku jaket ojolnya, kemudian bersiap naik saat Thalita sudah menyalakan senternya.


Di ujung tangga, ada sebuah pintu persegi cukup besar, untuk dapat dilewati seorang pria dewasa. Kristian berusaha mendorong pintu itu, tapi terkunci. Tak habis akal, cowok itu kemudian mencari tombol atau semacam tuas, yang dapat digunakannya untuk membuka pintu.


Setelah cukup lama mencari, Kristian menemukan seutas tali yang biasa digunakan untuk saklar tarik untuk menghidup dan mematikan lampu. Mengira itu untuk menyalakan bola lampu yang ada di atas kepalanya, Kristian menarik tali itu.


Pintu persegi berlahan terayun ke atas, dan menampakkan ruangan di atasnya. Kristian naik ke atas, setelah sebelumnya memeriksa keadaan di atas sana. Aman. Dengan isyarat, Kristian menyuruh Thalita naik. Cahaya dari atas, cukup terang untuk Thalita bisa melihat tanpa bantuan senter.


"Dimana ini, Bang?" tanya Thalita.


"Menurut prediksi Abang, kita berada di kamarnya ortu Bang Moses."


Thalita mengangguk membenarkan. Dugaannya juga seperti itu. Kamar ini besar, ukurannya dua kali dari kamar yang di tempati Moses, pastilah ini kamar utama di rumah ini, dan tentu saja milik tuan rumah.


Thalita dan Kristian memeriksa kamar itu dengan seksama. Bersih, tidak ada debu sedikitpun di tempat itu, artinya kamar ini secara rutin dibersihkan.


Ada pintu penghubung antara kamar itu dengan kamar sebelahnya, yang mereka duga kamar yang ditempati oleh Moses sekarang ini. Pintu seperti itu, biasanya ada di antara kamar bayi dengan orang tuanya, jadi saat bayinya menangis, orang tua bisa cepat menengoknya.


Di kamar itu, berjejer lemari dinding yang memenuhi dua sisi dindingnya. Sesuatu hal yang sedikit tak wajar, atau terlalu dipaksakan, hingga penampakan kamar itu tak lagi elegan.


Thalita hendak membuka pintu sebuah lemari dinding, ketika mendengar suara pintu dibuka dari kamar sebelah, kamar Moses. Kemudian terdengar juga suara cowok itu bernyanyi-nyanyi riang.


Kristian dan Thalita saling pandang, tatapan keduanya menyiratkan kekhawatiran yang sama, Moses bisa saja masuk ke kamar ini melalui pintu penghubung. Dengan isyarat, Kristian mengajak Thalita masuk lagi ke lorong rahasia.


Perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Kristian membuka tingkap di lantai yang menjadi pintu lorong rahasia. Setelah pintu itu terbuka, Kristian membiarkan Thalita turun lebih dulu.


Sampai di bawah, Thalita menyalakan senter, dan mengarahkannya pada tangga, agar Kristian bisa turun dengan cukup penerangan. Pintu rahasia telah tertutup sempurna, ketika terdengar suara pintu di buka, dan ada suara langkah yang terdengar berdebam di lantai yang ada di atas kepala.


Masih memasang telinga, untuk mendengarkan suara orang yang berada di atas, Kristian tidak langsung turun, meski Thalita udah memberinya isyarat melalui cahaya senter, agar Kristian segera turun.


Suara salah satu pintu lemari dindin yang dibuka, tertangkap oleh telinga Kristian. Kemudian terdengar pula suara seperti orang bercakap-cakap. Tak jelas, itu suara siapa, karena begitu lirih. Yang masih bisa didengar hanya suara Moses, meski tak jelas dia berkata apa.


Kembali Thalita memberi isyarat untuk turun, dan kali ini tidak dibantah oleh Kristian. Beruntung, baru saja Kristian dan Thalita berbelok, terdengar pintu tingkap dibuka. Buru-buru Thalita mematikan senternya, kini keduanya berdiri dalam gelap dan menempel ke dinding.

__ADS_1


"Hem, cuma suara tikus ternyata. Aku aja yang parno, mengira ada orang di bawah sini," gumam Moses.


Tiba-tiba lorong itu terang-benderang, karena ada yang menghidupkan lampu. Thalita dan Kristian menahan napas, dan tak berani bergerak sedikitpun. Tubuh mereka udah seperti dua ekor cicak yang menempel di dinding.


"Benar dugaan ku, cuma tikus."


Lampu kembali padam, dan lorong itu kembali gelap. Terdengar pintu tingkap ditutup, dan kali ini di kunci juga. Kristian saling pandang dengan Thalita, setelah masing-masing menyalakan senter.


"Naik lagi, Neng?"


"Sepertinya sih dikunci, Bang. Mau coba lagi?"


Kristian mengangguk, dan tanpa membuang waktu, cowok itu memanjat naik. Benar saja, tingkap itu tak lagi bisa dibuka. Buru-buru Kristian turun.


"Bener, Neng, dikunci."


"Apa Thalita bilang?"


"Sekarang ke mana?"


"Kan gudang udah jelas-jelas terkunci, jadi kita terpaksa keluar lewat perpustakaan aja, gimana?"


"Oke, Neng. Abang rasa itu pintu keluar yang masih bisa dilalui."


Setelah mengacungkan dua jempol, Thalita mendahului Kristian berjalan ke arah perpustakaan berada. Setelah sampai, Thalita berusaha membuka pintu, namun gagal.


"Gak bisa dibuka, Bang. Coba Abang yang buka!"


Tanpa bicara, Kristian segera bertukar posisi dengan Thalita. Cowok itu berulang-ulang menarik tuas, tapi benar seperti kata Thalita, pintu itu tak mau terbuka. Kristian berbalik dan mengangkat bahu tanda menyerah.


Saat ini, satu-satunya jalan hanya lewat gudang. Meski pintu gudang terkunci, masih ada peluang untuk meminta bantuan dari luar, tidak seperti di dalam lorong ini.


Bergegas Thalita berjalan ke arah gudang, bahkan gadis itu sedikit berlari. Kristian mengikuti dari belakang, ketegangan yang sama juga dirasakan oleh cowok itu.

__ADS_1


"Abang aja yang buka!"


Suara Thalita bergetar, jelas sekali gadis itu merasa takut. Lagi-lagi Kristian mengangkat bahu, membuat Thalita jatuh terduduk di lantai lorong.


__ADS_2