Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 24 : Gudang


__ADS_3

Bik Sari tampak berdiri di depan pintu gudang yang terbuka lebar, wanita tua itu tampak ketakutan. Deasy menghampiri dan memeluk Bik Sari agar lebih tenang. Thalita bergegas mengambil segelas air.


"Suara apa sih itu tadi, Bik?" tanya Deasy.


"Iii ... itu, Neng. Koper besar itu jatuh dari rak, Bibi kaget banget, sampai gemetaran," jawab Bik Sari.


"Ini, Bik! Minum dulu, biar gak gemetar!"


Thalita memberikan segelas air putih, dan Bik Sari meneguknya sampai habis. Para cowok bergegas masuk ke dalam gudang, dan mengangkat koper yang terjatuh.


"Ini koper siapa, Bik? Kok isinya barang-barang milik cewek? Bukankah cewek di rumah ini cuma Bibi? Masa Bibi pakai beginian?" tanya Gideon sambil menunjukkan bando warna pink dengan hiasan bunga lily yang gede.


"Duh, bisa aja kan Bik Sari pakai begituan, kali aja lagi bersolek buat tukang sayur, hahahaha," Kristian ikut meledek Bik Sari.


"Huss! Para bujang nih suka ngawur, masa Bibi yang udah peot gini masih ganjen? Itu barang-barang milik Non Renata. Setelah dia menghilang, Den Moses mengumpulkan semua barang-barangnya dalam koper dan menaruhnya di gudang," Bik Sari sedikit sewot karena diledek para bujang.


Thalita ikut masuk ke dalam gudang, dan mengamati barang-barang yang katanya milik Renata. Deasy tetap berdiri di tempatnya, phobia pada laba-laba, membuat cewek itu mencegah dirinya sendiri ikut masuk ke dalam gudang.


"Hemm, hanya barang-barang cewek seperti biasa. Cuma yang agak aneh, semua barang ini ada hiasan bunga lily," gumam Thalita sambil mengamati jepit rambut berbentuk bunga lily.


"Coba pakai, Yang! Pasti kamu makin cantik."


Gideon mengambil jepit rambut itu, dan memakaikannya pada rambut Thalita.


"Nah, bener kan? Kalau gini, aku gak ragu, kalau kamu beneran cewek tulen, hahaha."


Sebuah cubitan yang mendarat di pinggang Gideon, membuat cowok itu menjerit kesakitan.


"Ampun, Yang, ampun!!! Lepasin dong!! Busi abis nih pinggang Abang kamu cubit."


"Salah sendiri! Siapa suruh ngeledek mulu, hah??" kembali Thalita mendaratkan cubitan, tapi Gideon berkelit.


Kristian mengamati semua benda milik Renata yang berserakan, dan menatanya kembali dalam koper yang terbuka di lantai.


"Neng Renata, sering nginep di sini ya, Bik?" tanya Kristian.

__ADS_1


"Yang lumayan sering sih, Den. Apalagi setelah tunangan sama Den Moses, hampir tiap hari dia nginep di sini."


Ada rasa cemburu yang dirasakan oleh Deasy, mendengar Renata sering menginap di rumah Moses. Rumah ini sepi, cuma ada Bik Sari. Bukan hal mustahil kalau Renata dan Moses melakukan perbuatan yang lebih dari sekedar berpacaran.


Kristian yang menyadari perubahan mimik wajah Deasy, segera mengalihkan obrolan. Cowok itu merasa tidak enak, telah membuat Deasy merasa cemburu.


"Iya benar kata Thalita, barang-barang ini memang ada bunga lily sebagai hiasan. Apa Renata itu pengagum bunga lily, Bik?" tanya Kristian.


"Enggak kok, Den. Semua barang ini, Den Moses yang beli untuk Non Renata. Tapi karena Non Renata gak suka, barang-barang ini sengaja di tinggal di sini. Dulunya barang-barang ini ada di kamar tamu di lantai bawah. Oh iya, Aden ini siapa sih? Kok Bibi seperti pernah lihat?"


"Gimana gak pernah lihat? Kan Bik Sari ini sering naik ojol saya."


"Hah? Ojol?"


"Iya, Bik. Saya kan driver ojol yang sering numpang berteduh di depan situ kalau siang. Bik Sari kan sering minta antar saya, malau ke pasar."


"Yang bener, Den!"


"Bener, Bik. Saya emang driver ojol kok. Cuma hari ini saya kebetulan gak narik. Itu Neng Deasy kan juga langganan ojol saya."


"Wah, kalau kayak gini, Aden lebih mirip mahasiswa."


"Saya juga kan mahasiswa, Bik. Tapi juga narik ojol buat cari duit, hehehehe."


"Oalah, pantesan."


Koper Renata sudah selesai ditata, Gideon mengembalikannya ke rak tempat semula koper itu berada. Gideon mengamati koper itu lagi, begitu juga dengan Thalita.


"Bik, emang sebelumnya koper itu letaknya di sini, ya?" tanya Gideon.


"Enggak, Den. Baru kemarin koper itu dipindahkan ke situ. Bibi minta tolong tukang kebun yang biasa kerja di sini, untuk membantu merapikan gudang. Sebelumnya kan berantakan banget."


"Berantakan kenapa, Bik? Kapan hari aku ke sini, gudang ini rapi kok. Waktu itu aku menutup pintunya yang terlihat terbuka. Untuk memastikan di dalam gak ada orang, aku memeriksanya, sebelum mengunci pintunya dari luar," kata Thalita.


"Ya baru kemarin lusa, Den Moses kayak kesurupan, terus ngamuk di gudang. Barang-barang pada di berantakkan gitu, Neng. Makanya, kemarin Bibi minta tolong tukang kebun buat rapikan."

__ADS_1


"Kenapa Bang Moses ngamok, Bik?" tanya Deasy.


"Entah, Neng. Bibi juga gak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba Den Moses lari dari kamarnya sambil teriak-teriak memanggil nama Non Renata. Terus masuk gudang dan ngamok-ngamok."


Deasy tampak murung, mendengar cerita Bik Sari. Selama ini cewek itu mengira, Moses sudah melupakan Renata. Tapi dari cerita Bik Sari, bisa dilihat, ternyata Moses belum move on dari Renata.


"Aneh banget, kenapa koper ini bisa jatuh, ya? Padahal posisinya udah pas banget, gak goyah sedikitpun," Gideon berusaha menggoyang koper untuk memastikan benda itu tak bakal jatuh tanpa sengaja.


"Tikus kali, Den. Kan di gudang ada banyak tikus. Kalau malam-malam, mereka suka ribut."


"Kok Bik Sari tau, kalau malam banyak tikus membuat keributan di gudang ini," tanya Gideon.


"Bibi dengar suaranya dari kamar Bibi. Kan kamar Bibi di situ," Bik Sari menunjuk pintu kamarnya, yang letaknya memang dekat gudang.


"Kalau tikus, menurutku sih gak mungkin, ini koper kan udah kokoh letaknya, gak mungkin jatuh hanya karena disenggol tikus," Kristian ikut memastikan letak koper.


"Berarti, yang jatuhin tuh koper, hantu penunggu rumah ini, hiiiii takut!!"


Thalita berlari dari dalam gudang. Bik Sari yang sedikit latah, menyusulnya dari belakang sambil berteriak ketakutan. Wanita tua itu sampai mengangkat daster yang dikenakannya, tinggi-tinggi. Deasy, Kristian dan Gideon, sampai terpingkal melihatnya.


Bik Sari merasa kesal, ketika sadar sedang dikerjain oleh Thalita. Segera saja Bik Sari menjewer telinga cewek itu, agar tau rasa. Thalita meringis kesakitan sambil memegang telinganya yang merah.


"Sukurin!! Bisa-bisanya ngerjain orang tua! Kalau Bibi jantungan gimana tuh?" Bik Sari masih mengomel karena kesal.


"Kayak Bibi ini pohon pisang aja, punya jantung," gerutu Thalita.


"Bibi juga punya jantung, Neng. Masa pohon pisang doang sih??!" Bik Sari ikutan kesal.


Gideon dan Kristian melongok ke halaman belakang dari pintu dapur. Hamparan tanaman lily yang bermekaran, segera memanjakan mata mereka dengan keindahannya.


"Oh, ternyata Moses itu penyuka bunga lily toh. Pantesan kalau beliin pacarnya, ada hiasan bunga lily," gumam Gideon.


Aroma bunga lily yang ada di depan mata, seharusnya menyapa juga indra pencium kedua bujang itu. Tapi yang tercium malah aroma tembakau yang sedang dibakar. Gideon dan Kristian berpandangan heran. Keduanya mengusap tengkuk yang mulai merinding, kemudian masuk ke dalam, menyusul yang lain.


Di tempat yang gelap, tampak sosok yang sedang tersenyum-lebih tepatnya menyeringai- menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2