Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 27 : Melewati Ujian Akhir


__ADS_3

Deasy dan Thalita tak menampakkan batang hidungnya di rumah Moses selama dua Minggu ini. Mereka berdua sedang sibuk menghadapi Ujian Akhir Nasional dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri. Tapi, Moses tak ada menghubungi Deasy sama sekali, sepertinya Moses sengaja menghilang.


"Mondar-mandir mulu nih orang, udah kayak setrikaan aja. Kenapa sih kamu, Des?" tanya Thalita yang sedang sibuk mengecat kuku.


"Bang Moses gak ada ngabarin, Tha, aku jadi khawatir sama dia. Gak biasanya dia ghosting kayak gini," keluh Deasy.


"Kamu gak coba hubungi dia?"


"Ya enggaklah, emang aku cewek apaan? Kan kamu sendiri yang bilang, jadi cewek itu kalau bisa jual mahal, ngapain jual murah, ya kan?"


"He em, Des. Bener banget prinsip kayak gitu. Kalau Bang Moses gak ada hubungin kamu, cuekin aja! Atau kalau perlu, kamu cari aja cowok lain! Dunia gak selebar daun pisang, cowok bukan Moses seorang."


"Ya gitu lah, sekarang ini aku lagi dekat juga sama---"


Ponsel milik Deasy berdering, membuat pemiliknya kaget.


"Iya, Bik Sari, ada apa?" sapa Deasy.


"Gak ada, Neng, Bibi cuma kangen aja sama Neng Deasy, Neng Thalita, kalian berdua gak pernah main ke sini lagi sekarang," kata Bik Sari sedih.


"Kami sedang ujian, Bik. Nanti ya, abis ini kami main lagi ke tempat Bibi."


"Oh gitu ya, Neng. Ya sudah kalau begitu, semoga Neng berdua sukses ujiannya, dapat nilai yang bagus."


"Amin, makasih ya, Bik."


Thalita merebut ponsel Deasy dan bicara pada Bik Sari, hal ini membuat Deasy kesal.


"Gak ada kejadian aneh kan, di rumah Bang Moses, Bik?"


"Eh, ini Neng Thalita ya? Apa kabar, Neng? Bibi kangen nih."


"Baik kok, Bik. Seperti kata Deasy tadi, kami cuma sedang sibuk ujian. Gimana, Bik? Gak ada yang aneh?"

__ADS_1


"Entahlah, Neng. Bibi gak tau, ini aneh apa enggak, sejak Neng Deasy dan Neng Thalita gak pernah ke sini, Den Moses lebih pendiam."


"Maksudnya?"


"Dia gak pernah lagi mengajak Bibi bercanda kayak dulu, selera makannya juga berubah. Dulu kan dia sering minta ke Bibi dimasakkan ini itu, sekarang gak lagi. Dia sering masak sendiri, tapi mie instant, padahal dulu dia paling gak suka mie instant."


"Kok aneh ya, Bik? Apa dia sakit?"


"Bibi gak tau, Neng. Sekarang Bibi dilarang masuk ke kamarnya, pintunya selalu dikunci. Baju kotor dia letakkan di luar kamar, terus kalau sudah bersih, suruh Bibi balikin ke situ lagi. Nyapu kamar aja Bibi gak boleh, dia sapu dan pel sendiri."


Deasy yang ikut mendengar obrolan itu, kerena di loudspeaker, turut merasa aneh dengan sikap Moses yang diceritakan Bik Sari. Sepertinya, Moses sudah berubah sifat, seperti yang dilihat Deasy beberapa kali.


"Eh, Bik. Kami mau ke situ deh, besok. Setelah Bang Moses berangkat, kabari kami ya!"


"Wah, Bibi senang kalau Neng Thalita sama Neng Deasy mau ke sini. Kalau begitu, besok Bibi masakin masakan kesukaan kalian, soto ayam," kata Bik Sari girang.


"Jangan, Bik! Kami gak mau Bang Moses tau kami ke situ, jadi Bibi gak usah masak deh, kami bawa bekal nanti."


"Kayak mau piknik aja, Neng, bawa bekal segala. Ya udah kalau gitu, Bibi tunggu ya! Ini telponnya Bibi matikan, tuh Den Moses sudah pulang."


"Iya, Neng, sampai besok."


Bik Sari mematikan panggilan dengan tergopoh, suara Moses membuka pintu depan sudah terdengar. Tak lama tampak Moses berjalan mendekati Bik Sari di dapur yang sedang pura-pura cuci piring.


"Siang, Bik. Masak apa hari ini? Aku lapar banget nih."


Bik Sari merasa heran, dengan perubahan sikap majikannya. Kali ini, Moses sudah berubah lagi, seperti Moses yang selama ini dia kenal.


"Bibi gak masak, Den. Biasanya kan Den Moses cuma minta dimasakin mie instant. Ini aja Bibi makan siang juga masak mie instant kok."


"Mie instant? Bibi kan tau, aku tuh gak suka makan mie instant. Lagian itu gak baik juga buat pencernaan, Bik. Jangan sering-sering makan mie, sekali-sekali aja!"


"Lha, kok---"

__ADS_1


"Ya udah, Bibi masak aja sekarang, apa kek gitu, asal jangan mie instant. Ceplok telur aja deh, sama sambal kecap, biar cepet!"


"Siap, Den. Ditunggu ya, Bibi mau masak nasi dulu!"


"Jangan lama, Bik! Udah lapar nih. Nanti bawa ke kamar ya, Bik! Aku masih ada sedikit kerjaan."


"Si ... siap, Den."


Bik Sari semakin heran dengan sikap Moses. Menyuruh membawa makanan ke kamar, bukan sekali ini dilakukan Moses. Itu memang kebiasaan cowok itu ketika banyak kerjaan, tapi beberapa minggu ini, kebiasaan itu tak pernah dilakukan Moses. Bahkan Bik Sari dilarang masuk ke kamar cowok itu.


Cukup lama Bik Sari tertegun, sampai punggung Moses tak terlihat lagi dari dapur, cowok itu sudah naik ke kamarnya. Bik Sari tersadar, kemudian mulai memasak nasi dan telor ceplok pesanan majikannya.


Tok ... tok ... tok ...tok


"Masuk aja, Bik! Gak dikunci kok," teriak Moses dari dalam kamar.


Bik Sari masuk, dan segera mencium bau pengap. Maklum kamar Moses sudah dua minggu ini jarang dibuka pintunya. Bau asap rokok, samar juga tercium oleh Bik Sari.


"Ini makanannya, Den. Yakin mau makan disini? Sepertinya kamar ini agak bau, biar Bibi bersihkan."


"Iya juga ya, Bik. Ya udah, aku makan di bawah aja kalau gitu, Bik. Sini deh nampannya, biar ku bawa sendiri! Bibi bersihin aja kamarku! Jangan lupa ganti sprei dan sarung bantal, udah bau iler!"


"Siapa suruh Den Moses tidurnya ngiler? Kan jadi gak betah sama baunya, hahaha."


"Ya gak ada yang nyuruh juga, Bik. Udah dari cetakannya kayak gitu. Oh iya, Bik, itu pengharum ruangan, ganti aja ya! Aku gak suka sama baunya yang itu."


"Siap, Den."


Moses turun ke bawah sambil membawa nampan berisi makan siangnya. Bik Sari segera membuka lemari untuk mencari sprei dan sarung bantal. Moses tak pernah suka memakai bedcover. Ada yang sedikit aneh di lemari Moses, di bawah gantungan baju, ada bekas tapak sepatu.


Bik Sari mulai menarik sprei dari ranjang, dan suara benda terguling membuatnya penasaran. Di bawah ranjang Moses, ada sebuah asbak besar penuh dengan puntung rokok.


"Sejak kapan Den Moses merokok ya? Pantesan aja kamar ini aromanya aneh, ternyata gara-gara rokok ini sih."

__ADS_1


Bik Sari membuang puntung itu di tempat sampah yang ada di sudut ruangan. Ternyata, tempat sampah itu penuh dengan bungkus rokok dan kaleng minuman beralkohol. Bik Sari merasa, ada yang janggal dengan majikannya.


__ADS_2