
Thalita yang paling khawatir dengan menghilangnya Deasy. Cewek itu tampak panik, mukanya merah dan hampir menangis. Gideon memeluk pacarnya itu agar merasa tenang. Kristian mencari ke hampir semua ruangan di rumah Thalita, bahkan sampai di halaman belakang.
"Gimana, Bro?" tanya Gideon begitu Kristian kembali ke ruang tengah. Temannya itu cuma mengangkat bahu, tanda tak menemukan Deasy.
"Kemana sih, tuh anak? Kok main menghilang gak pamitan, gak tau apa situasi lagi gawat kayak gini?" gerutu Thalita.
"Sabar, Sayang! Mungkin Deasy ada urusan mendadak dan buru-buru, jadi gak sempat pamit pada kita," hibur Gideon.
Thalita menghela napas, kemudian meraih ponsel milik Deasy yang tergeletak di sofa. Cewek itu membuka pesan di aplikasi hijau, aplikasi yang terakhir dilihat Deasy itu belum tertutup.
"****!! MEMANG KURANG AJAR NIH BOCAH!!"
"Kenapa, Sayang?"
Thalita memberikan ponsel Deasy pada Gideon, setelah membaca pesan di sana, Gideon menarik napas lega, kemudian terpingkal.
"Kenapa, Bro?" Kristian penasaran.
"Nih, lihat!"
Kristian menerima ponsel Deasy dan turut menarik napas lega," syukurlah."
"Aturan kan pamit dulu! Masa diem aja, kan kurang ajar. Awas aja, kalau pulang, ku bikin perkedel tuh bocah!!" Thalita masih merasa kesal.
"Dia itu tau, temannya yang cantik ini detektif handal, makanya dia ngelakuin itu, hahahaha."
"Tapi kan harus tau situasi, Bang. Ini kan kita lagi khawatir karna hal aneh di rumah pacarnya, dia main pergi-pergi seenak udel aja."
"Ya udah, sekarang jangan marah-marah ya, nanti cepat keriput, lho! Kan udah jelas sekarang, Deasy diajak mama kamu pergi shopping."
Thalita hanya mendengkus kesal, cewek itu masih merasa gondok dengan ulah sahabatnya.
"Abang sama Kristian pamit dulu ya, Sayang! Kamu istirahat, jangan marah-marah lagi!"
__ADS_1
"Iya, Bang. Hati-hati di jalan! Terima kasih ya, Bang Kris, udah mau dibikin repot sama Cewek Tengik itu."
"Hahahaha, iya Neng. Pamit dulu ya."
Thalita mengantar kedua bujang itu ke depan, setelah keduanya berlalu, gadis itu mengunci pintu, dan bergegas ke kamarnya untuk istirahat.
Di rumah Moses, Bik Sari sedang bersih-bersih halaman belakang, mencabuti rumput liar yang tumbuh di antara bunga lily. Kemarin tukang kebun yang datang, tak sempat membersikan kebun, karena harus bersih-bersih gudang.
Bik Sari tampak tertegun melihat serumpun lily yang warnanya berbeda dari yang lain, lily ini berwarna orange. Bukan itu saja, di sekitar bunga itu, seperti bekas orang duduk untuk waktu yang lama. Tanah yang lembab, membentuk sebuah cekungan. Juga rumput-rumput rebah, seperti ada yang menimpanya.
Puntung-puntung rokok juga tampak berserakan di sekitar tempat itu. Jelas, ada yang sudah duduk lama sambil merokok di sana. Tapi kapan? Bik Sari tak pernah melihatnya. Bik Sari mengerutkan dahi, puntung rokok itu berasal dari merk yang sangat familiar baginya, tapi wanita tua itu lupa, siapa yang biasa merokok dengan merk itu.
Aroma bunga lily yang harum, menyeruak ke indra penciuman Bik Sari, tapi---
"Kok seperti ada bau bangkai, sih? Bikin ngeri aja, hiiiiiii."
Bik Sari bergidik ngeri, ketika bau bangkai itu semakin kuat tercium. Wanita tua itu segera berlari masuk ke rumah melalui pintu dapur. Dengan napas masih ngos-ngosan, Bik Sari mengunci rapat pintu dapur, setelah itu jatuh terduduk, menyender di pintu.
Tiba-tiba, Moses masuk ke dapur dari ruang tengah, sepertinya cowok itu baru keluar dari perpustakaan. Melihat kondisi Bik Sari, Moses berlari menghampiri.
Bik Sari tak menjawab, tapi malah menjatuhkan wajahnya dalam pelukan Moses. Cowok itu juga merasakan, tubuh asistennya itu, gemetar karena ketakutan. Moses menepuk-nepuk punggung Bik Sari, membuatnya merasa tenang.
"Ada apa, Bik? Coba cerita sama aku, ada apa?" bujuk Moses.
"Bibi takut, Den. Bibi merasa rumah ini berhantu," Bik Sari mulai terisak.
"Berhantu gimana, Bik?"
"Den Moses ke kebun belakang deh! Di sana banyak puntung rokok, sepertinya ada seseorang yang duduk cukup lama di sana untuk merokok."
"Gitu aja Bibi bilang seram? Kan bisa saja itu puntung rokok punya tukang kebun yang biasa ke sini."
"Bukan Den bukan! Kemarin tukang kebun kan gak bersihin kebun, tapi bersihin gudang."
__ADS_1
"Mungkin saja puntung itu udah lama di situ, bukan puntung dari kemarin."
"Enggak Den, sebelumnya gak ada puntung di situ. Kan kemarin sore, Bibi bersih-bersih juga di situ."
"Apa mungkin, puntung teman-temannya Deasy, Bik? Tadi ku lihat mereka ngobrol di pintu dapur, mungkin mereka sedang merokok, dan melempar puntungnya sembarangan."
Bik Sari merasa yakin, dua cowok yang tadi ke rumah ini bersama Deasy dan Thalita tidak merokok. Memang mereka tadi sempat ngobrol sebentar di pintu dapur, sambil melihat-lihat kebun bunga lily. Tapi waktu itu, bukankah Moses sudah balik ke kantor? Bagaimana bisa majikan Bik Sari itu melihat mereka?
Meskipun dalam hati masih penasaran dengan omongan Moses barusan, Bik Sari tak berani bertanya lebih lanjut. Entah kenapa, mimik yang ditampilkan Moses saat ini, berbeda dari biasanya. Mimik yang mengintimidasi, membuat Bik Sari merasa ngeri.
"Kok Den Moses sudah pulang? Katanya hari ini mau pulang malam?"
"Aku udah dari tadi di rumah kok, Bibi aja yang gak tau."
"Iya, Bibi memang gak tau. Makanya Bibi tadi bersih-bersih aja di kebun belakang, karena gak masak buat makan malam."
"Terus? Bibi makan apa nanti malam?"
"Bibi rencana masak mie rebus aja sih, Den. Udah lama juga Bibi gak makan mie rebus."
"Kalau gitu, bikinin buat aku juga deh, Bik! Aku jadi pengen makan mie rebus juga, gara-gara Bibi."
"Kok Bibi, Den?"
"Yang barusan bilang mau masak mie rebus kan Bik Sari, bikin aku jadi pengen makan."
"Ya udah, kalau gitu Bibi beli dulu mienya, Den. Di lemari cuma sisa satu, rencananya itu buat Bibi."
"Kalau gitu, aku nitip rokok ya, Bik! Yang merknya Gudang Gula, ini duitnya."
Moses menyodorkan selembar uang kertas merah pada Bik Sari, kemudian pamit pergi ke perpustakaan. Dia katanya mau membaca buku di sana.
Bik Sari menggaruk kepalanya yang tak gatal, mendengar merk rokok yang baru saja disebutkan Moses, membuat wanita tua itu teringat puntung-puntung di kebun belakang. Merk yang sama. Yang membuat Bik Sari merasa heran, kenapa Moses menyuruhnya membeli rokok? Setau Bik Sari Moses bukanlah seorang perokok.
__ADS_1
Bik Sari segera pergi ke mini market, untuk membeli mie instant dan rokok. Tapi, pintu gerbang masih terkunci, biasanya, Moses tak pernah mengunci lagi pintu gerbang, jika dia pulang dari kantor.