
"Paket, Neng."
Seorang kurir paket masuk ke halaman rumah Thalita, setelah memarkir motornya di depan pagar.
"Paket buat siapa ya, Mas?" tanya Thalita.
"Buat Neng Thalita Adelia."
Kang kurir menyerahkan bungkusan paket pada Thalita, setelah meminta tanda tangan sebagia bukti penerimaan, Kang Kurir pamit untuk pergi.
"Paket apa itu, Sayang?" tanya Gideon.
"Entah, Bang. Aku gak merasa memesan paket sih. Mungkin ini orang yang ingin menggirim hadiah buat aku."
"Sini! Biar Abang aja yang buka, Sayang! Takut isinya barang yang berbahaya, bom misalnya."
Thalita cemberut mendengar dugaan Gideon yang di luar nalar. Mana mungkin ada orang yang mengirim bom padanya, kan Thalita cuma orang biasa, bukan anak penjabat atau presiden, ada-ada aja si Bang Gideon ini.
Tak urung Thalita memberikan paket yang tadi diterimanya pada sang pacar. Gideon merobek lakban pada kotak pembungkus paket, menggunakan ujung kunci kontak motornya.
"ASTAGA!!"
Gideon melempar kotak yang baru saja dibukanya, hingga isinya berhamburan di lantai. Thalita mengernyit, saat tau apa isi kotak itu.
Sebuah boneka kain yang di bagian mukanya tertempel foto Thalita menggunakan jarum pentul. Bagian leher boneka itu tampak patah, seperti habis digunting, menyisakan sedikit bagian yang membuat kepala boneka itu masih menempel ke badannya.
Di bagian dada boneka itu, tertancap tujuh jarum pentul dengan bagian ujung mempunyai warna yang berbeda. Boneka itu, satu tangan dan satu kakinya tak ada, buntung.
Selain itu, di dalam kotak itu juga penuh dengan kelopak bunga lily berwarna orange, yang sudah digunting kecil-kecil.
"Dari siapa ya ini kira-kira, Sayang?" tanya Gideon.
"Gak tau, Bang. Di kotaknya tak ada nama pengirim, atau juga nomer ponselnya. Cuma ada tulisan, bunga lily, di bungkus kotak untuk nama pengirim."
Gideon diam, sibuk memeriksa sesuatu di ponselnya, sedang Thalita menarik-narik bibir bawahnya, tanda sedang berpikir.
__ADS_1
"Tha? Bunga lily warna orange ini, punya makna tersembunyi yang gak baik. Lily orange melambangkan kesombongan, kecemburuan dan kecemburuan."
"Jadi menurut Abang, paket ini dikirim seseorang untuk memperingatkan aku?" tanya Thalita.
"Iya, Sayang. Kamu merasa ada orang yang sedang cemburu sama kamu, gak?"
Thalita menatap Gideon sambil melotot, kemudian memegang krah baju yang dikenakan cowok itu, dan menariknya mendekat.
"Jangan bilang, Abang main api di belakang Thalita, dan semua ini dikirim oleh cewek yang jadi selingkuhan Abang!" gertak Thalita.
"Eng ... enggak lah, Sayang. Mana berani Abang ngelakuin hal itu ke kamu. Kamu itu satu-satunya cewek di hati Abang. Gak mungkin Abang duain kamu."
"Yakin, Bang?"
"Yakin banget, Sayang," jawab Gideon tegas.
"Oke, Thalita percaya sama Abang, tapi awas saja kalau Abang menghianati kepercayaan Thalita!"
Thalita membuat tanda memotong di lehernya, membuat Gideon bergidik dan meneguk ludah. Pacar Gideon yang cantik dan imut, ternyata bisa juga terlihat menakutkan.
"Entah, Bang. Aku gak bisa menebak, paket ini dari siapa, dan apa maksudnya dikirim pada Thalita."
"Berarti, mulai sekarang kamu harus hati-hati! Jangan pergi-pergi sendiri, harus ada yang menemani. Abang gak mau, kamu hilang juga kayak Deasy," kata Gideon sungguh-sungguh.
Thalita membereskan guntingan bunga lily yang bertebaran di lantai, memasukkannya kembali ke kotaknya, dan membuangnya ke tempat sampah. Sedang boneka kain yang penuh tusukan jarum pentul itu dia simpan.
"Kok gak dibuang saja bonekanya?" tanya Gideon heran.
"Bonekanya cantik. Nanti aku akan menjahit kepalanya biar nyambung lagi."
"Terus? Kaki sama tangannya?"
"Gampanglah itu, Bang. Nanti aku akan bikin kaki dan tangan palsu, kan aku kreatif."
Gideon menggaruk kepala, cowok itu mengakui, kalau Thalita cewek yang kreatif dan banyak akal. Barang yang biasanya dibuang, akan berubah jadi barang yang berguna, setelah didaur ulang oleh cewek itu.
__ADS_1
"Bener lho, Sayang, kamu harus jaga diri ya! Abang gak mau terjadi sesuatu yang tak diinginkan sama kamu."
"Iya, Bang. Tenang aja, Aku akan jaga diri baik-baik kok. Kalau aku ilang juga, nanti mamaku bisa gila. Sekarang aja Mama udah down banget kok, gara-gara Deasy ilang."
"Itu juga yang Abang khawatirkan, Deasy hilang aja sudah mempengaruhi mama kamu, apalagi anaknya sendiri yang hilang. Pokoknya, kamu harus bisa jaga diri baik-baik, Sayang!"
Thalita merasa terharu, Gideon pacarnya, tidak hanya perhatian padanya saja, tapi pada mama dan juga sahabatnya. Gideon dan Kristian, ikut sibuk meluangkan waktu dan tenaga untuk mencari Deasy.
"Oh iya, Bang, itu Bang Kristian belum ada nelpon atau chat lagi? Gimana tuh keadaannya? Jangan sampai dia kenapa-napa," kata Thalita khawatir.
"Bodo amat lah kalau dia, mau hilang, mau diculik juga gak Abang pikirin. Malah kebeneran tuh, gak nyusahin emaknya lagi. Dia kan beban keluarga," kata Gideon santai.
"Jangan gitulah, Bang! Bang Kristian itu kan sedang membantu kita untuk menemukan Deasy, dengan cara menyelidiki Bang Moses. Kalau dia sampai kenapa-napa, kita juga yang akan merasa bersalah," nasehat Thalita.
"Iya juga sih, Sayang. Tapi Abang rela kok, kalau dia hilang."
Thalita langsung manyun mendengar jawaban Gideon. Cowoknya itu benar-benar gak ada empati sama sekali, padahal Kristian itu teman baiknya, teman satu kost, teman seperjuangan juga.
"Lho? Kok kamu manyun, Sayang? Jangan bilang kamu mulai naksir sama Kristian, karena dia suka chat dan nelpon kamu! Blok aja deh, nomer dia itu!" Gideon merasa cemburu.
"Ngawuuuurrr! Ngawur banget sih Abang ini? Mana ada aku naksir Bang Kristian, aku cuma khawatir, karena dia sudah membantu mencari Deasy. Malah, aku ada niat buat jodohin mereka berdua kok. Lebih baik Deasy sama Bang Kristian aja, daripada sama Bang Moses yang gak jelas dan misterius."
"Pokoknya Abang gak mau, kamu mikirin Kristian! Maunya kamu mikirin Abang doang, karena kamu punya Abang, bukan punya Kristian! Titik."
Thalita mendengkus kesal. Melihat Gideon yang kolokan, kadang Thalita merasa illfil. Tapi, menurut seorang psikolog handal, Irene Puspitasari, seorang cowok akan cenderung bersifat manja, pada cewek yang membuatnya merasa nyaman. Sikap kolokan Gideon, menunjukkan cowok itu nyaman bersamanya.
"Jangan diam aja, Sayang! Bilang sama Abang, kalau kamu gak lagi mikirin Kristian kunyuk itu!"
"Sayangnya, aku lagi mikirin dia tuh. Apa Bang Kristian udah makan ya? Kan kasian kalau dia belum makan, ini sudah mulai sore, waktu makan siang udah lama berlalu."
"SAYANG!"
"Iya, Sayang. Apa sih panggil-panggil, kangen ya?"
Gideon menghampiri Thalita, hendak mencubit pipi chubby cewek itu, ketika ponsel Thalita yang masih dipegangnya tiba-tiba berdering. Nama Kristian, berkedip di sana.
__ADS_1
🥰🥰 Maaf ya Readers, Author lagi meriang, jadi agak telat updatenya. Tinggalkan like n koment ya, agar Author lebih semangat. Terima kasih 🙏🙏