
"Gimana ini, Bang? Kita terkunci dari luar," kata Thalita panik.
"Tenang saja, Neng! Kan masih ada si Kutil Onta, nanti kalau sudah mentok banget, dia bisa kita andalkan. Sekarang, mending kita lanjutkan penyelidikan kita di gudang ini, kayak tujuan semula, oke?"
"Oke, Bang."
Thalita menghela napas lega, karena terlalu panik, tadi dia tak dapat berpikir dengan jernih. Benar juga kata Kristian, masih ada Gideon yang bisa mereka andalkan, dalam keadaan darurat.
Teringat tempat dia menemukan jepit rambut milik Deasy, Thalita mendatangi tempat itu, dan memeriksanya lebih seksama.
Tempat itu lebih bersih dari tempat sekitarnya, tak ada debu yang menempel, padahal di sekitarnya berdebu cukup tebal. Mencari sesuatu yang terlihat aneh, Thalita menelusuri inchi demi inchi tempat itu dengan bantuan senter kecil yang dibawanya dari rumah.
Ada semacam tombol kecil di balik rak besi yang penuh dengan barang-barang rongsokan. Tembok di sekitar tombol kecil itu bersih, hampir tidak ada debu sama sekali. Thalita memencet tombol itu.
"ASTAGA!"
Pekik takjub Thalita membuat kaget Kristian. Cowok itu segera berlari menuju Thalita yang sekarang sudah berdiri di sebuah lorong yang terbentuk di tengah tembok gudang.
"Gimana ceritanya ini, Neng?" tanya Kristian ikut takjub.
"Aku tadi pencet tombol itu, Bang, dan tiba-tiba saja ada lubang ini."
Kristian memencet kembali tombol yang dikatakan Thalita, dan dengan ajaib, pintu lorong yang tadi mereka lihat hilang, tertutup kembali dengan tembok.
"Wah, canggih pisan euy, kayak di film-film," kata Kristian.
"Kemana ini arahnya, Bang?"
"Kita bakal tau, kalau kita masuk ke dalam."
"Yakin mau masuk, Bang?"
"Yakin, Neng. Yuk!"
Kristian menekan kembali tombol kecil tadi, dan dinding di depannya menggeser, membentuk lorong.
"Pintu rahasia ini membuat aku ingat pada the chamber of secret. Amazing!"
__ADS_1
"Apa tuh, Neng?" tanya Kristian heran.
"Film kedua Harry Potter, hehehehe."
Kristian menggeleng-gelengkan kepala gemas, karena yang dimaksud Thalita ternyata sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel karya J. K. Rowling, seorang penulis novel fantasy terkenal.
"Nah sekarang, kita ini ibarat Hermione Granger dan Ron Weasly yang akan mengalahkan basillik. Yuk, masuk!"
Thalita tertawa renyah, karena Kristian ternyata paham juga dengan cerita Harry Potter favoritnya. Gideon saja yang hampir setahun menjadi pacarnya, cuma plonga-plongo kalau diajak bahas Harry Potter.
Dengan hati-hati, Kristian memanjat tembok dan masuk ke dalamnya. Ternyata lorong itu lebih lega di bagian dalam, Kristian bisa berdiri tanpa membungkuk.
Thalita hendak ikut memanjat masuk, tapi Kristian segera mencegahnya.
"Tunggu, Neng! Kita coba dulu pintu ini, bisa gak dibuka dari dalam sini. Jangan sampai kita nanti malah terperangkap seperti tikus, bisa masuk tapi gak bisa keluar."
"Wah bener juga, Bang. Coba, tutup dan buka lagi dari dalam, kalau gak bisa, aku masih bisa membukanya dari luar sini."
"Oke, Neng."
Di dinding dekat pintu lorong, ada sebuah tuas mirip yang dipakai untuk membuka pagar samping, alih-alih sebuah tombol seperti di gudang, jadi lebih mudah menemukannya. Kristian menarik tuas itu, dan pintu lorong tertutup. Ketika cowok itu menariknya lagi, pintu lorong terbuka kembali.
Kristian menyalakan senter dan mulai menelusuri lorong. Banyak debu di dalam lorong itu, tapi nampak jelas tempat itu juga dijamah manusia belakangan ini. Ada bekas-bekas telapak kaki dan juga sandal di lantai lorong.
"Bang, ada dua orang yang berjalan di lorong ini," kata Thalita.
"Iya, udah jelas kan? Aku, dan Neng Thalita."
"Selain kita maksudnya. Lihat deh ke bawah, itu ada dua macam jejak kaki! Yang satu besar, pasti jejak kaki seorang cowok. Sedang yang satu, ADUH!!
Thalita memegangi hidungnya yang terantuk punggung Kristian, karena cowok itu tiba-tiba berhenti dah berjongkok.
" Kasih tanda dong, kalau berhenti! Kalau di jalan raya, yang kayak gini bisa menyebabkan kecelakaan beruntun lho. Noh lihat, hidung Thalita jadi pesek gara-gara nabrak punggung Abang!" omel Thalita.
Kristian cuma nyengir. Ada yang sedikit berdesir di hatinya, ketika Thalita mengatakan, kalau hidung Thalita menabrak punggungnya. Pikiran usil Kristian menyimpulkan, Thalita mencium punggungnya, hihihi."
"Benar, Neng. Yang satu jejak kaki cowok, dan yang lebih kecil ini cewek," Kristian memberi analisa, untuk mengusir rasa gugup karena kejadian tak sengaja barusan.
__ADS_1
"Bang ... kok firasatku gak enak ya?"
Kristian menoleh ke arah Thalita, dan melihat wajah gadis itu tampak sangat sedih. Ingin rasanya Kristian memeluk Thalita, agar gadis itu merasa sedikit tenang. Untung saja dia segera teringat, kalau Thalita itu pacar Gideon, teman baiknya.
"Ada hubungannya dengan Neng Deasy?" tanya Kristian lembut.
"Iya, Bang. Aku merasa, hal buruk sudah terjadi pada bocah itu."
"Sabar ya, Neng! Kita akan berusaha untuk menemukan Neng Deasy. Jangan lupa, berdoa juga, itu yang paling utama. Ora et labora, berdoa dan berusaha!"
"Iya, Bang. Makasih ya, Bang Kristian sudah membantu banyak dalam usaha pencarian Deasy ini. Thalita gak bisa balas kebaikan Bang Kristian, biar Tuhan saja yang membalasnya, ya?"
"Hahahaha iya, Neng. Abang iklhas membantu, selagi Abang bisa. Abang gak mengharap balasan kok."
"Eh Bang, lihat deh ke depan! Itu lorong ini bercabang, satu mengarah ke kiri, satu lagi ke atas. Kita mau pilih mana?"
Kristian mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Thalita. Benar sekali, di depan sana ada tangga besi yang mengarah ke atas, sedang lorong di depan mereka berbelok ke kiri.
"Kalau gak salah tebak, itu yang ke kiri, pasti arahnya ke perpustakaan. Dan aku sudah bisa menebak dimana letak pintu rahasianya."
"Dimana?"
"Di rak buku misteri. Kapan hari aku nemu jepit rambut di situ. Pintu masuk kita di gudang tadi, juga tempat aku nemu jepit rambut milik Deasy. Jepit itu buatan mamaku, dan memang ada sepasang."
Thalita mengeluarkan jepit rambut yang dia maksud, dari ransel mungil yang sedari tadi disandangnya, kemudian menunjukkannya pada Kristian.
"Wah, Neng Thalita ini ternyata punya insting bagus buat jadi detektif ya, hahahaha. Jadi, kita kemana dulu, Nih?"
"Kalau menurutku, mending memastikan dulu, beneran ke arah perpustakaan apa enggak. Sekalian aku mau cek pintu perpus, kan nantinya kita bisa keluar lewat situ. Ingat kan, Bang? Kalau pintu gudang terkunci?"
"Wah iya bener, Neng. Kenapa Abang gak kepikiran ya? Jadi fix kita ke arah kiri kan?"
Thalita mengangguk, dan Kristian kembali berjalan, setelah melihat anggukan gadis itu. Sesuai dugaan Thalita, lorong rahasia mempunyai pintu masuk lain di perpustakaan, dekat rak buku misteri.
"Wah, ternyata tombolnya di sini, Neng. Kemarin ini Abang kira tombol apa gitu, mungkin tombol untuk memanggil Bik Sari yang ada di dapur, hehehe."
"Bener dugaanku ternyata. Bentar, aku cek pintu."
__ADS_1
Thalita berjalan ke arah pintu, dan mencoba membukanya, bisa. Gadis itu mengacungkan dua jempol pada Kristian, dan dijawab dengan gerakan yang sama oleh cowok itu.
"Istirahat dulu ya, Bang, capek nih," kata Thalita sambil duduk di sofa. Kristian mengangguk, kemudian ikut duduk di samping gadis itu.