Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 39 : Petunjuk ke Dua


__ADS_3

Kristian bergegas pulang ke kost, dan langsung mencari Gideon di kamarnya. Seperti biasa, Gideon sedang asik bermain game online.


"Eh, Bro! Ada berita bagus nih," kata Kristian.


"Berita apaan? Kamu dapat arisan dan mau traktir aku? Wah kebetulan banget kalau gitu, aku memang lagi lapar."


"Makan mulu yang kamu pikirin, Bro. Ini lebih penting, tau. Aku tadi dari rumahnya Bang Moses lagi."


"Terus? Ada apa di sana?" tanya Gideon acuh tak acuh.


"Ada ular piton di kamar Bik Sari. Kata Pak Tarno, itu masih anak ular, mungkin dia sedang mencari mamanya yang lagi jalan-jalan," kata Kristian asal.


"Hmm," gumam Gideon.


"Ya udah deh kalau kamu gak mau dengerin aku, Bro. Aku akan nelpon Thalita aja, lebih enak diajak berunding."


"Eh, tunggu! Thalita siapa yang kamu maksud? Thalita pacarku?"


"Iya lah Thalita pacarmu, emang ada berapa Thalita yang kamu kenal, Bro?"


"Ngapain coba kamu nelpon pacarku? Gak boleh! Bisa-bisa nanti dia jadi naksir sama kamu, kalau kamu telponin mulu," gerutu Gideon.


"Makanya, kamu dengerin aku, biar aku gak nelpon Thalita! Lagi pula, aku lebih cakep dari kamu, bisa banget Thalita lebih milih aku timbang kamu."


"ENAK AJA! GAK BOLEH! THALITA CUMA BOLEH NAKSIR AKU DOANG!!" Gideon merasa kesal.


"Becanda lah, Bro. Mana tega aku nikung pacar teman, sih? Aku sadar kok, aku lebih cakep dari kamu, gampang banget bagiku cari cewek, aku sadar diri kok, Bro."


"HELEH NARSIS!! SADAR DIRI DARI HONGKONG? NGOMONGNYA AJA KAYAK GITU KOK," Gideon masih sewot.


"Oke, sekarang kita ngobrol serius, Bro! Besok katanya Moses mau ke luar kota, mungkin juga nginep. Gimana kalau kita ke rumahnya dan cari petunjuk! Aku merasa, rumah itu ada hubungannya dengan hilangnya Renata dan Deasy. Gimana?"

__ADS_1


"Thalita diajak?"


"Ya iya lah diajak, aku kan lagi kangen sama dia."


"SIALAN!! AWAS AJA BERANI KANGEN SAMA PACAR ORANG! KU BIKIN RUJAK BEBEG BARU TAU RASA." Gideon kembali sewot.


"Becanda, Bro. Sensi amat jadi orang, dah. Gimana tuh, setuju apa enggak?"


"Setuju banget. Oh iya, kemarin aku menemukan jepit rambut milik Deasy di gudang dan di perpus. Juga sepatu Deasy ditemukan di sungai. Sungai yang lewat di belakang rumah Moses. Benar katamu, Bro, semua petunjuk mengarah ke rumah tua itu."


"Siapa yang nemu sepatu?"


"Orang yang lagi mancing, terus melaporkannya pada polisi. Sepatu itu lengkap sepasang, saling terikat, jadi orang mancing itu curiga."


"Iya, aneh tuh. Biasanya kalau sepatu hanyut kan satu-satu, ya?"


"Iya. Meski dibuang bareng ke sungai, belum tentu bareng terus kan, sepatunya?"


"Iya, pasti misah."


"He em, ajak Thalita ya, Bro. Cewek kamu itu punya insting bagus buat jadi detektif, jadi ku pikir, dia bakal lebih berguna dari kamu."


"SIAL!"


Dengan ngakak, Kristian meninggalkan kamar Gideon, untuk kembali ke kamar kostnya sendiri. Tiba-tiba terlintas dalam benak Kristian, untuk mencari info di internet.


Keesokan harinya, sedari pagi Kristian sengaja memantau rumah Moses. Cowok itu sengaja tak menampakkan diri. Motornya sengaja dia parkir di depan sebuah warung makan di dekat situ, dan Kristian berjalan kaki menuju rumah, Moses.


Tampak Moses keluar rumah mengendarai mobilnya, cowok itu juga menyapa dengan ramah, Mamang Cendol dan beberapa tukang ojek yang mangkal di situ. Kristian berpindah tempat, agar bisa mengawasi samping rumah Moses, tempat cowok itu menghilang beberapa hari yang lalu. Tak ada yang mencurigakan, tapi Kristian bergeming.


Tak lama, tampak motor butut Pak Tarno tiba di depan rumah Moses. Setelah berbincang sejenak dengan Mamang Sayur, Pak Tarna masuk ke halaman rumah Moses. Belum lima menit Pak Tarno masuk, Bik Sari keluar untuk berbelanja sayuran.

__ADS_1


Kristian masih mengamati dari tempat persembunyiannya, belum ada niatan untuk menampakkan diri. Cukup lama Bik Sari berbelanja dan ngobrol, sebelum akhirnya beranjak masuk. Bik Sari sampai di gerbang, ketika Gideon datang bersama Thalita, ketiganya kemudian masuk ke halaman rumah Moses.


Kristian hendak menyusul masuk ke rumah Moses, ketika melihat Pak Tarno muncul di samping rumah Moses. Lelaki tua itu menggaruk kepala, kemudian seperti mengamati sesuatu. Kristian mengambil ponsel, dan merekam aksi Pak Tarna.


Cukup lama Pak Tarno berdiri di sana, dan tampak seperti mendorong sesuatu. Sebuah truk lewat dan menutupi pandangan Kristian dari Pak Tarno. Setelah Truk lewat, Pak Tarno sudah menghilang.


"Halo, Bro. Aku narik dulu ya, satu tarikan lagi. Kamu sudah di rumah Moses?"


Kristian menjawab dulu telepon dari Gideon, sebelum memutuskan mendekati halaman samping rumah Moses.


"Udah, ini aku sama Thalita ada di perpus sekarang. Bik Sari sama Pak Tarno lagi bersih-bersih di halaman belakang," jawab Gideon.


"Oke, Bro. Sebentar lagi aku ke situ, ini masih mau narik dulu."


Kristian menutup telepon, sengaja cowok itu tak mengatakan kalau sudah ada di sekitar rumah Moses, Kristian takut ada yang menguping obrolannya. Dengan terburu-buru, Kristian menyeberang jalan, menuju samping rumah Moses.


Pagar tembok yang cukup tinggi hingga menutupi atap lantai satu dan dirambati tanaman sulur-suluran, menyambut Kristian. Cowok itu mencari-cari tempat dimana tadi Pak Tarno terlihat berdiri.


Di pojok pagar, tampak bekas rumput yang rebah terinjak. Ada jejak kaki memakai sendal jepit di bagian tanah basah yang tak tertutup rumput.


"Hem, berarti Pak Tarno tadi berdiri di sini. Terus, dari mana dia muncul? Bukankah tadi Pak Tarno masuk ke dalam rumah?" gumam Kristian.


Cowok itu memutar ke belakang menuju pinggir sungai, mencari jalan yang mungkin dilewati Pak Tarna untuk keluar. Buntu, tak ada jalan sedikitpun, berarti Pak Tarno tak keluar dari arah sungai.


Kristian berjalan ke arah depan, sambil tangannya meraba tembok. Cowok itu tertegun, ketika tangannya menemukan semacam tuas di antara tanaman menjalar. Iseng Kristian menarik tuas itu, dan perlahan pagar tembok terbelah membentuk pintu.


"Wew! Ku kira pintu rahasia kayak gini cuma ada di film-film, ternyata ada beneran, hebat."


Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, Kristian menyelinap masuk. Dibalik tembok, ada tuas serupa seperti di luar, kali ini Kristian mendorongnya, dan pagar tembok itupun kembali tertutup.


"Keren!" gumam Kristian lirih.

__ADS_1


Dengan mengendap, Kristian berjalan ke arah belakang rumah. Terdengar Bik Sari sedang ngobrol dengan Pak Tarno. Akan aneh rasanya, kalau Kristian tiba-tiba muncul di tempat itu, karenanya Kristian memutuskan memutar lewat depan, agar seolah baru masuk dari pintu gerbang.


Ketika lewat di samping rumah, ada semacam lubang ventilasi kecil, dari situ bisa terdengar suara Gideon dan Thalita bercakap-cakap di perpustakaan.


__ADS_2