Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 43 : Gadis Penghuni Villa


__ADS_3

Sampai di kost, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tak mungkin Kristian pergi ke rumah Thalita, meskipun bersama Gideon. Sudah terlalu malam, takut menganggu istirahat Thalita dan keluarganya.


[Yon, aku nemuin sesuatu. Besok kita bahas ya! Sekarang aku udah capek dan ngantuk.] ~ from Kristian.


[Oke, Bro. Tapi awas, kalau kamu nelpon cewekku malam ini!] ~ from Gideon.


[Dimana-mana, orang jelek mah bawaannya sensi mulu. Bersyukur banget aku jadi orang ganteng.] ~ from Kristian.


[Eh, Kutil Monyet, sini lu! Kalau ngajak ribut.] ~ from Gideon.


Kristian tertawa keras, setelah membaca balasan chat dari Gideon. Temannya itu memang agak sensitif kalau sudah menyinggung soal Thalita. Maklumnya, Thalita terlalu bagus untuk Gideon yang gak ada bagus-bagusnya.


Setelah mematikan daya dan mencharger ponselnya, Kristian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Seharian naik motor untuk mengikuti Moses, membuat badan Kristian terasa remuk redam. Mandi air hangat, mungkin solusi yang paling tepat untuk saat ini.


Di villa, Moses belum juga kembali, setelah sore tadi pamit untuk pergi. Gadis yang tinggal di villa itu menjadi gelisah, karena ponsel Moses tak bisa dihubungi, sepertinya ponsel Moses mati.


"Haduh, si Abang kemana sih? Mana gak bisa ditelpol. Kayak e HP Abang mati deh, gak ada nada sambung saat ku telpon."


Gadis di villa itu, berjalan mondar-mandir sambil memegangi perutnya yang sedikit menonjol. Gadis itu tampak meringgis, ketika merasakan pergerakan di dalamnya.


"Bisa diem gak sih, lu! Nyusahin aja deh jadi orok, tar kalau lahir, ku buang ke tong sampah baru tau rasa lu," gerutu gadis itu sambil meninju perutnya.


"Aww, sakit!! Bener-bener orok sialan!"


Si gadis tampak meringgis, menahan sakit karena dia terlalu keras meninju perutnya sendiri. Orok di dalam sana jadi berontak, dan menendang perut emaknya dari dala..


"OROK SIALAAAN!!"


Kali ini, rasa sakit yang dirasakan gadis itu begitu memuncak, sampai tak tertahankan. Sambil memegang perut dan mimik wajah kesakitan, gadis itu jatuh terduduk di lantai, dan pingsan.


Moses melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan menuju daerah Dingin, sangat lenggang dan sepi, membuat Moses semakin menambah laju kendaraannya.


"Duh, kok bisa-bisanya, ponselku ketinggalan di villa, sih? Kan aku jadi balik lagi, padahal males banget menghadapi perempuan cerewet itu," gerutu Moses.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tak mungkin hanya mengambil ponsel dan kembali ke rumah, jadi malam ini Moses sangat terpaksa harus menebalkan telinga, agar lebih kebal menghadapi omelan.

__ADS_1


Pintu gerbang tak bisa dibuka menggunakan remote, jadi terpaksa Moses turun dan membuka pintu gerbang secara manual. Sambil mendengkus kesal, Moses turun dari mobil, dan berjalan menuju gerbang. Suara gonggongan anjing, segera terdengar memekakkan telinga.


"Anjing geblek! Masa dari dulu gak hafal juga bau majikannya? Tar kalau ribut, bisa-bisa aku dikira maling."


Moses terus menggerutu, apalagi saat gembok pagar sedikit susah dibuka dari luar. Dengan sedikit kasar, Moses membiarkan pintu gerbang menjeblak terbuka. Pun ketika mobil sudah masuk ke halaman, Moses mendorong pintu pagar, sampai pintu itu terbanting menutup.


Seringai seram, terlihat di wajah Moses, ketika pintu gerbang itu berbenturan dengan suara yang menyeramkan.


Sampai di teras villa, sebuah pemandangan membuat Moses menggerutkan kening heran. Gadis yang tinggal di villa itu, tampak tergeletak di lantai ruang tamu, yang pintu depannya menjeblak terbuka.


"WOY! RENATA, NGAPAIN KAMU TIDURAN DI LANTAI? UDAH GILA YA?"


Gadis yang ternyata bernama Renata itu, tetap diam tak bergeming, membuat Moses semakin merasa sebal, dan menghampirinya dengan malas.


"Heh, bangun heh! Ngapain kamu tiduran di sini?" kata Moses sambil menepuk-nepuk pipi Renata.


Karena gadis itu tetap diam, Moses memeriksa, apa gadis itu masih bernafas. Bisa gawat kalau ternyata Renata mati di villanya, bisa-bisa Moses akan terjerat perkara pidana.


Merasa usahanya sia-sia, Moses beranjak untuk mengambil air, dan akan disiramkannya di tubuh Renata, agar gadis itu terbangun. Moses mengurungkan niatnya, ketika melihat bekas darah yang hampir mengering, meleleh di kaki Renata.


"Wah, akhirnya kamu keguguran juga, Wanita tak guna."


"Kenapa gak dari dulu aja sih kamu keguguran, Cantik? Kan jadinya gak ngerepotin. Aku gak ikut makan nangka, malah kena getahnya gara-gara kamu bunting, ngeselin!"


Moses menepuk pipi Renata agak keras, tapi gadis itu tetap bergeming, belum juga siuman dari pingsannya. Dengan ngebut, Moses membawa Renata ke dokter kandungan langganan mereka.


TOK ... TOK ... TOK.


Pintu ruang prakter Dokter Santi, dokter kandungan yang selama ini menangani Renata sudah tertutup rapat. Tapi di dalam ruangan masih terang benderang, dan tampak bayangan seseorang melakukan aktivitas di dalam sana.


CEKLEK


"Eh, Moses? Apa apa malam-malam ke sini? Ada masalah dengan Renata?"


"Iya, San. Tadi aku menemukan dia pingsan, dan dari itunya keluar darah."

__ADS_1


"Terus? Dimana dia sekarang? Kok gak kamu bawa sini?" tanya Dokter Santi panik.


"Ada di mobil. Ini aku tadi ketuk pintu dulu, kalau udah dibuka, baru Renata ku gendong kemari."


"Cepat bawa sini, biar ketangani!"


Cepat-cepat, Moses berlari ke arah mobilnya, diikuti Dokter Santi di belakang cowok itu. Dokter Santi masih kerabat jauh dari papa Moses. Setelah menutup pintu mobil, kembali Dokter Santi berlari mengekori Moses.


"Baringkan di situ, biar ku periksa!"


Moses menuruti perintah Dokter Santi, dan membaringkan Renata di ranjang pasien. Dengan cekatan, Dokter cantik itu memeriksa keadaan Renata, dan tak lama kemudian menghela napas lega.


"Gimana, San?"


"Dia baik-baik saja kok, Ses. Mungkin dia pingsan karena merasa sangat tertekan. Kamu harus lebih ekstra memperhatikan Renata, karena kandungannya lemah, tak seperti ibu hamil lainnya.


" Kok aku? Dia aja gak hamil anak aku, kok malah aku kamu suruh jagain dia, enak aja."


"Terus? Kalau bukan sama kamu, dia bunting sama siapa dong?" tanya Santi sarkas.


"Kok tanya aku? Ya tanyalah sama yang bunting!" jawab Moses kesal.


"Kamu kan yang buntingin!"


"Gak!"


"Iya, kok!"


"Gak!"


"Kalau begitu, kamu buktikan dia gak bunting sama kamu! Tes DNA!"


"Oke, siapa takut. Akan ku buktikan, kalau dia gak bunting anakku."


"Good luck, Brother! Aku sih yakin banget, yang di perut Renata itu anakmu."

__ADS_1


"Silahkan saja, mau yakin apa enggak! Yang jelas aku yakin banget, itu bukan anakku. Oke, Sister, nitip dia dimari, ya! Aku sibuk."


Moses melenggang meninggalkan ruang praktek Dokter Sinta, membuat dokter cantik itu ingin sekali mematahkan lehernya.


__ADS_2