
Pulang sekolah, Deasy dan Thalita pergi ke rumah Moses. Tak ada yang berubah di tempat itu, meski dua minggu lebih mereka tak berkunjung. Kebetulan Kristian abis narik di sekitar tempat itu, dan sedang menunggu orderan selanjutnya sambil terteduh di depan rumah Moses.
Deasy melambai ke arah Kristian, dan cowok itu menghampiri Deasy dan Thalita.
"Gimana ujiannya, Neng? Sukses kan?" tanya Kristian pada Deasy.
"Sukses dong, Bang. Kan kita berdua gak bego-bego amat juga. Ini aja kita dari sekolah, katanya nama kami berdua keterima lewat jalur SNMPTN."
"Wah, hebat dong, Neng. Bisa kuliah di universitas negeri, gak kayak Abang dan Gideon yang harus banga karena kuliah di luar negeri, hahaha."
"Syukurlah, kami lolos, jadi bisa sekampus sama Thalita. Ngirit ongkos jadinya, kan bisa nebeng dia, hehehehe. Yuk ikut masuk, Bang! Kata Bik Sari, ada yang aneh."
"Oke, Neng."
Kristian memasukkan motornya ke dalam halaman rumah Moses. Sedang Thalita sudah terlibat obrolan dengan Bik Sari di teras. Setelah Deasy dan Kristian ikut bergabung, Bik Sari menceritakan keanehan yang ditemuinya selama ini.
"Yuk ke halaman belakang, aku mau lihat bunga lily itu!" ajak Thalita.
"Lihat, Neng! Itu puntung rokok yang Bibi ceritakan," Bik Sari menunjuk sekumpulan puntung rokok yang ditemukannya beberapa hari lalu.
"Hem, kami pernah melihat Bang Moses menyimpan rokok merk ini di laci bawah meja ruang tamu, Bik. Iya kan, Tha?" kata Deasy.
"Iya, yang malam-malam kami ke sini dan Bang Moses lagi mabok."
"Ah iya, hampir lupa Bibi, Neng. Yuk Bibi tunjukan!"
Bik Sari berjalan ke arah tempat sampah besar di dekat pintu dapur, dan menunjukkan isinya pada ketiga remaja itu.
"Ini sengaja belum Bibi buang ke depan, Neng, karena Neng berdua katanya mau kemari. Ini sampah dari kamar Den Moses selama dua minggu dia mengunci pintu."
"Wow, sebanyak ini, Bik? Berarti dia mabok tiap hari dong? Selama dua minggu, dia gak keluar kamar?" tanya Kristian.
"Keluar kok, Den. Tapi katanya cuma ke kantor, pamit gitu sih sama Bibi."
__ADS_1
"Ke kantor aja? Gak ke kampus?"
"Entah, Neng Deasy. Pamitnya ke kantor gitu kok."
"Apa kira-kira Bang Moses ini berubah kepribadian ya? Kayak merasa dirinya orang lain gitu lho. Kesurupan kali," kata Thalita.
"Masa kesurupan lama bener, Neng? Kalau di kampung Bibi, orang kesurupan itu ngamok-ngamok gitu."
"Ya kali aja, Bik. Tapi sekarang udah normal lagi kan, dia?"
"Udah, Neng. Sejak kemarin, Den Moses bersikap normal seperti biasanya kok. Tadi pagi aja, dia pamit ke kampus, terus langsung ke kantor."
"Oh iya, selama dua minggu ini, Den Moses juga sering di perpustakaan, dan mengunci pintunya dari dalam."
"Sebelumnya, dia juga suka di perpustakaan?" tanya Kristian.
"Enggak, Den. Paling dia ambil buku, terus di baca di kamar atau sambil rebahan di ruang teve. Den Moses jarang Bibi lihat baca buku kok."
"Lho? Kok dia punya perpus yang bisa dibilang lengkap gitu, Bik?" Thalita si kutu buku merasa penasaran.
"Aneh, ya." Thalita menarik-narik bibir bawahnya dengan ekspresi wajah melamun. Deasy sudah hafal kebiasaan temannya itu ketika sedang berpikir keras. Hanya Kristian dan Bik Sari, mengira Thalita sedang kesambet.
"Hus, ngawur nih, Bibi! Tar bisa dibikin perkedel lho sama orangnya, kalau asal nuduh gitu, hahaha," kata Deasy setelah Bik Sari membisikkan dugaannya di telinga gadis itu.
Sedang Kristian, tampak khawatir dengan Thalita, dan menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah gadis itu.
"Aku lagi mikir, Bang, bukan kesambet," ujar Thalita kesal, karena konsentrasinya terganggu oleh Kristian.
"Maaf, Neng! Abang kira Neng Thalita kesambet, habis tiba-tiba bersikap aneh."
Thalita tentu saja merasa sewot, mendengar dugaan Kristian. Cewek itu menyusul Deasy dan Bik Sari masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kaki. Kristian mengikutinya dari belakang, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Bik Sari dan Deasy sudah masuk ke dalam perpustakaan, dan melihat tumpukan buku di atas meja dekat sofa. Deasy segera menghampiri meja itu.
__ADS_1
"Buku-buku ini semuanya menulis tentang kisah-kisah kriminal dan psikopat, lihat deh, Tha!"
Thalita mendekat ke arah Deasy, dan tertarik melihat sebuah buku yang tergeletak di atas meja, agak jauh dari tumpukan buku lain. Sepertinya itu buku terakhir yang dibaca oleh orang yang duduk di meja itu.
"Jack the Ripper? Siapa sih dia, Tha? Kok aku kayak pernah dengar?" tanya Deasy.
"Dia tokoh pembunuh berantai dalam cerita novel Sherlock Holmes, karya Sir Arthur Conan Doyle. Sampai sekarang identitas Jack the Ripper masih belum diketahui pasti, ada yang bilang dia itu sebenarnya seorang wanita, yang sakit hati pada pembunuh ibunya."
"Jadi, dia membunuh orang-orang yang dia duga sebagai pembunuh ibunya?"
"Sepertinya sih begitu, Des. Aku belum pernah membaca bukunya, cuma pernah nonton movie yang membahas kisah itu."
"Movie apa, Neng Thalita?" Kristian merasa tertarik pada cerita Thalita.
"Movie ke enam Detective Conan, Bang, The Phantom of Baker Street."
"Hem, anime toh. Ku kira box office movie," kata Kristian.
"Jangan heran, Bang! Thalita itu wibu, hahahaha," sela Deasy.
Thalita hanya mendengkus kesal, karena sedari tadi Deasy meledeknya. Kemudian cewek itu berjalan mendekati rak buku yang tampak berkurang isinya. Buku-buku yang tadi bertumpuk di atas meja, tampaknya berasal dari rak itu.
Kristian mengikuti Thalita, dan berdiri di sebelah cewek itu. Deasy merebahkan diri di sofa yang ada di perpustakaan, dan Bik Sari menghilang, agaknya ke dapur, menyiapkan minuman.
Thalita kembali menarik-narik bibir bawahnya, sambil mengamati deretan buku di depannya. Kristian yang sekarang sudah paham kebiasaan cewek itu, tak berani mengusiknya. Bisa-bisa Thalita akan marah seperti tadi, karena konsentrasinya terganggu.
"Hem, semuanya buku tentang kisah kriminal dan psikopat. Ada juga buku tentang Hitler. Sepertinya, papa Bang Moses penyuka kisah-kisah kayak gini toh," gumam Thalita.
"Buku-buku di sini, bersih gak berdebu, tandanya akhir-akhir ini tersentuh. Beda dengan rak-rak lain, tampak ada debunya. Mungkin karena Bik Sari memang gak masuk ke mari hari-hari ini."
Kristian cuma mendengar Thalita yang tampak bicara sendiri. Cewek itu sedang mengeluarkan deduksi.
"Eh, Bang! Abang pernah dengar tentang kepribadian ganda gak?"
__ADS_1
Pertanyaan Thalita yang tiba-tiba, membuat Kristian terkejut.