
Thalita menjawab sendiri panggilan dari Kristian, direbutnya ponsel yang masih dipegang Gideon.
"Loudspeaker, Sayang! Abang juga pengen dengar obrolan kalian," perintah Gideon.
Thalita mengangguk, kemudian menjawab panggilan itu, "hallo, Bang Tian. Ada kabar apa, nih?"
"Eh, Abang cuma mau nanya nih, Neng. Apa Neng Thalita tau, kalau keluarga Neng Deasy punya villa di daerah dingin?"
Daerah dingin yang dimaksud Kristian, pastilah daerah pegunungan yang letaknya di luar kota. Tak begitu jauh juga dari kota tempat tinggal mereka. Di daerah dingin, banyak terdapat obyek wisata dan bangunan villa serta rumah peristirahatan.
"Aku gak pernah dengar sih, Bang. Emangnya kenapa?"
"Abang melihat taksi yang ditumpangi Bang Moses masuk ke sebuah villa di daerah dingin. Dan di sana, ada seorang gadis. Dari jauh sosoknya mirip banget sama Neng Deasy."
Thalita dan Gideon berpandangan, mereka cukup terkejut dengan penemuan Kristian kali ini.
"Abang bisa lihat wajah gadis itu?"
"Jaraknya terlalu jauh, Neng. Lagi pula, mulai turun kabut di daerah ini, jadi Abang gak bisa lihat wajah gadis itu dengan jelas. Cuma bentuk tubuhnya saja yang mirip dengan Neng Deasy."
"Abang gak bisa mendekat lagi?"
"Gak bisa, Neng. Tadi Abang sudah coba lebih dekat ke gerbang masuk villa itu, tapi Abang buru-buru menjauh, ada anjing galaknya, Neng."
"Cemen banget sih kamu, Bro? Masa sama anjing aja takut?" sunggut Gideon.
"Eh, Kutil Onta, kamu pikir ngadepin dua anjing doberman yang galak gak butuh nyali? Kamu aja yang ke sini, gih! Biar dikunyah anjing kamu," kata Kristian kesal.
"Oke, Bang. Lalu rencana Abang selanjutnya apa?" tanya Thalita untuk melerai perdebatan dua kutil, Gideon dan Kristian.
"Ini Abang masih pantau, Neng. Kalau sampai sejam kedepan belum ada tanda-tanda Bang Moses atau siapapun yang tinggal di villa itu keluar, terpaksa Abang balik pulang."
"Sekarang Abang dimana? Udah makan apa belum?"
"Sayang!! Ngapain sih perhatian sama si Kutil Monyet? Biarin ajalah dia kelaparan!"
Thalita melotot ke arah Gideon yang sedang merajuk seperti anak kecil. Ingin sekali Thalita mencubit Gideon pacarnya, agar cowok tidak rese dalam suasana genting seperti sekarang ini.
"Cemburu? Bilang, Bos! Eh, Neng Thalita. Mending Neng putusin aja tuh si Kutil Onta, terus jadian sama Abang! Toh Abang lebih cakep dari dia, hahaha," Kristian sengaja kompor, supaya Gideon kesal.
__ADS_1
"Usul yang bagus, Bang. Nanti Thalita pertimbangkan lagi deh. Sekarang Abang cari makan dulu lah, di situ kan dingin, kalau perut Abang kosong, bisa-bisa malah masuk angin!"
Gideon semakin geram mendengar obrolan Kristian dan Thalita. Gideon berusaha merebut ponsel, tapi dipelototi oleh Thalita.
"Ini Abang lagi di warung kok, Neng. Dari sini Abang bisa mengamati villa itu. Dan Abang akan ada di sini sampai warung tutup, satu jam lagi, tadi Abang udah nanya pemiliknya."
"Ya udah kalau gitu, Bang. Hati-hati, ya!"
"Iya, Sayang. Hahahaha."
"Woy, Kutil Monyet!! Sini!! Biar ku kuliti!!"
Gideon berteriak marah, dan berusaha merebut kembali ponsel yang dipegang Thalita. Begitu ponsel itu berada di tangan Gideon, Kristian sudah mematikan sambungan telepon.
"Menurut, Abang, itu villa punya siapa ya?" tanya Thalita pada Gideon.
"Pasti punya Moses. Kalau punya Deasy, kamu kan pasti tau, kan sahabatnya sejak kecil."
"Iya juga sih. Tapi ..."
"Apa?"
"Mungkin juga, Sayang. Kali aja Deasy lagi ada masalah sama orang tuanya, terus kabur dari rumah buat narik perhatian mereka. Kan bisa jadi kayak gitu."
"Masuk akal. Tapi kalau Deasy beneran kayak gitu, gak ada otak dia itu mah. Bisa-bisanya bikin orang tua cemas sampai segitunya. Sekarang aja nih, Om Hans udah lapor polisi, bisa ribet urusannya kalau ini cuma prank kan?"
"Eh? Udah sampai urusan polisi, ya?"
"Udah, kemarin kan Papa nemenin Om Hans lapor polisi, terus ada orang mancing yang nemu sepatu itu."
"Wah, makin seru aja nih kisah."
"Thalita yakin sih, kalau sebenarnya Bang Kristian itu nemu petunjuk penting, tapi belum ada kesempatan buat ngasih tau kita."
"Abang yakin juga begitu kok. Dia kan sama kayak kamu, hobby main detektif-detektifan."
"Seru tau, kalau kita berhasil memecahkan suatu kasus, apalagi kalau kasusnya itu rumit."
"Terserah kamu aja, Sayang. Cuma Abang pesan, jangan dekat-dekat sama Kristian, nanti kamu malah kecantol sama dia, terus ninggalin Abang!"
__ADS_1
Kembali Gideon menampakkan kecemburuannya pada Kristian. Dan hal itu malah memancing Thalita untuk berbuat usil. Cewek itu cuma nyengir, dan mengerling lucu pada Gideon.
Di warung depan villa, Kristian sedang menggorek informasi tentang penghuni villa, dari pemilik warung makan. Seorang ibu-ibu setengah baya yang ramah. Warung sedang sepi, karena menjelang tutup, hampir semua menu sudah habis terjual. Jadi Ibu pemilik warung sedang santai, dan menemani Kristian mengobrol.
"Sudah lama jualan di sini, Bu?" tanya Kristian.
"Udah ada lima tahunan, Mas. Sejak villa depan itu dibangun."
Kristian menoleh ke arah villa yang ditunjuk Ibu Warung, yang villa yang tadi dimasuki Moses.
"Berarti, villa itu belum lama dibangun ya, Bu? Masih sekitar lima tahunan."
"Iya, Mas. Katanya sih, villa itu dulu dibangun untuk istri muda pemiliknya, tapi keburu ketahuan sama istri tua."
"Wah, seru dong, Bu. Apa sampai berantem?"
"Enggak kok, Mas. Entah kalau berantemnya di tempat lain. Villa itu baru akhir-akhir ini saja ditinggali, setelah yang punya meninggal karena kecelakaan. Istrinya juga."
"Berarti, itu yang tadi saya lihat masuk, pemilik baru?"
"Mungkin, Mas. Ibu sih gak tau ya, yang punya belum pernah keluar sepertinya. Cuma yang cowok aja yang kelihatan keluar masuk. Yang cewek paling ada di teras sana doang."
"Berarti, Ibu belum pernah lihat wajah penghuni cewek e?"
"Belum pernah, Mas. Lihatnya cuma dari sini, jadi gak jelas wajahnya gimana. Kalau lihat sosoknya sih, kayak masih muda."
"Apa itu yang tadi Ibu bilang istri muda? Istri muda pemilik lama maksudnya."
"Ya bisa jadi juga, Mas. Mungkin istri mudanya udah nikah lagi, jadi yang sering keluar masuk itu suami baru."
"Hem gitu ya, Bu. Eh iya, ini jadinya berapa, Bu, makanan saya?"
"Lauknya apa tadi, Mas?"
"Ayam goreng sama sayur lodeh."
"Dua puluh ribu, Mas."
Kristian menyerahkan uang dua puluh ribuan, dan berpamitan dengan Ibu pemilik warung.
__ADS_1
Bergegas cowok itu memacu motornya kembali ke kost, karena ada sesuatu yang ingin dibahasnya dengan Gideon dan Thalita.