
Lima orang yang berada di ruang tamu rumah Moses terdiam, tidak ada seorangpun yang bicara, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya sesekali, suara isak Tante Anna yang terdengar memecah kesunyian.
Moses berkali-kali memijat pelipis, juga menyedot ingusnya keras-keras, seolah menunjukkan pada semua orang di tempat itu, bahwa dia sedang sakit yang cukup parah dan butuh istirahat. Tante Hesti-menggaruk kepalanya yang tidak gatal-cukup peka, kalau Moses hendak mengusir mereka secara halus.
"Sebaiknya, kita cari Deasy di tempat lain aja, Jeng. Mungkin di rumah temannya yang lain, atau tempat yang biasa dia kunjungi," ajak Tante Hesti pada Tante Anna.
"Aku gak tau, Jeng, dimana Deasy biasa main. Teman-temannya juga aku gak ada yang kenal, selain Thalita," keluh Tante Anna.
Thalita memutar matanya karena merasa jengkel. Tentu saja Tante Anna tak mengenal teman-teman anaknya, karena dia memang tidak pernah memperhatikan Deasy. Wanita itu hanya sibuk kerja dan berkarier, serta mengumpulkan cuan. Dalam anggapannya, seorang anak akan merasa dilimpahi kasih sayang dan perhatian, kalau tidak pernah kekurangan uang. Pemikiran yang sangat picik.
"Jeng Anna lupa? Kan ada Thalita, dia pasti tau lah, siapa teman-teman Deasy dan dimana dia biasa bermain," imbuh Tante Hesti.
"Woiya, jelas Thalita tau, sangat tau malah, siapa teman Deasy dan dimana Deasy biasa main," kata Thalita kalem, tapi dalam hati, cewek itu merasa sangat jengkel.
"Dimana itu, Nak? Ayo kita ke sana, siapa tau Deasy bisa ketemu!" Tante Anna merasa ada harapan baru untuk menemukan anaknya.
"Teman-teman Deasy yang Thalita tau, Bang Moses, Bang Kristian, Bang Gideon, Mama, Bik Sari dan Thalita. Kalau tempat yang biasa Deasy kunjungi ya rumah ini sama rumah Thalita."
Tante Hesti mencubit lengan Thalita, karena merasa anak gadisnya itu sudah keterlaluan. Tante Hesti paham, Thalita sedang menyindir Tante Anna yang sangat tidak peduli pada anak semata wayangnya itu. Malangnya, yang disindir tidak peka sedikitpun.
"Ya kalau begitu, kita cari di rumah Thalita saja yuk! Emang jauh gak rumah si Thalita ini? Tapi---"
"Tapi kenapa, Ma?" Om Hans merasa heran, sang istri tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi kok namanya sama ya, Pa? Apa jangan-jangan nama Thalita itu pasaran?"
"SEMBARANGAN!! THALITA GAK TERIMA, NAMA THALITA DIBILANG PASARAN!!"
Thalita yang tiba-tiba berteriak karena namanya dibilang pasaran, membuat Tante Anna terkejut dan jatuh dari sofa. Moses hampir tergelak, tapi cowok itu segera menutup mulutnya dengan tangan. Tante Hesti merasa tak enak, kemudian membantu mengangkat Tante Anna berasa Om Hans.
__ADS_1
"Dengar ya, Tante! Deasy anak Tante itu cuma sedikit punya teman, makanya dia sering kesepian. Mungkin sekarang ini, dia sengaja minggat dari rumah karena merasa gak ada yang menyayangi."
Thalita memilih untuk berkata sarkas, agar Tante Anna mengerti dan paham akan apa yang dibutuhkan anaknya. Perempuan itu sudah tak mempan lagi disindir, harus dikatakan to the point, baru dia mengerti.
"Masa sih Deasy gak punya teman? Dia kan cantik dan banyak duit, pasti pada ngantri tuh yang mau berteman dengannya. Kalau sampai dia gak punya teman, berarti ada pihak-pihak tertentu yang mempr*v*katori teman-teman Deasy untuk tidak berteman dengannya," kata Tante Anna sambil melirik Thalita sinis.
Cewek itu melotot dan berkacak pinggang pada Tante Anna, tidak terima dirinya dituduh mempr*v*katori teman-temannya, untuk tak berteman dengan Deasy.
"Maksud Tan---"
"Maaf ya, Jeng! Thalita tidak bermaksud kurang ajar sama Jeng Anna. Thalita cuma lagi sedih karena Deasy hilang, makanya gampang emosi," kata Tante Hesti sambil menutup mulut anaknya dengan tangan.
"Sudah ya, Ma! Jaga emosinya! Sebenarnya, di sini kita juga yang salah. Kita berdua terlalu sibuk cari uang, tapi mengabaikan Deasy. Kita mengira, dengan memberi uang yang berlebih, kita sudah menunjukkan perhatian dan kasih sayang kita padanya," kata Om Hans pada istrinya.
Moses sedari tadi hanya diam saja, hanya menatap keempat orang yang sedang adu pendapat itu dengan pandangan matanya yang tajam. Thalita yang mempunyai insting seorang penyelidik, menyadari perubahan air muka yang ditampilkan Moses. Ada yang berubah pada sosok itu.
"Jadi gimana, Tha? Menurut kamu, Deasy pergi kemana?" tanya Om Hans lembut.
"Kira-kira, Deasy pergi kemana, selain ke sini dan ke rumah kamu?" ulang Om Hans.
"Entahlah, Om. Thalita tak bisa menebak. Thalita paham betul gimana Deasy, dia tak suka bepergian sendiri. Deasy itu tak mau merasa sepi, sudah bosan katanya. Jadi, kalau pergi-pergi Deasy selalu mengajak Thalita, atau Mama."
"Mama kamu?"
"Iya, Om. Emang mama siapa lagi yang mau menemani Deasy pergi, kalau bukan mamanya Thalita?"
Tante Anna hendak membalas omongan pedas Thalita yang digunakan untuk menyindirnya, tapi segera dicegah oleh Om Hans. Thalita masih muda, wajar saja kalau gampang emosi. Tante Anna yang lebih tua, seharusnya bisa memahami cewek itu, bukan malah mengajaknya berdebat.
"Kalau begitu, kita memang harus lapor polisi, Pa! Biar mereka yang cari Deasy, Mama rasa mereka lebih jago dari detektif karbitan ini," kata Tante Anna sambil melirik sinis Thalita.
__ADS_1
"Gak bisa seperti itu, Tante. Melaporkan orang hilang harus ada prosedurnya. Orang akan dianggap hilang bila 1 x 24 jam tidak dapat dihubungi atau tidak terlibat. Ini kan Deasy baru hilang kurang dari dua belas jam saja." Moses akhirnya bersuara.
"Jadi, kita harus nunggu besok biar bisa lapor?"
"Iya, Tante."
Tante Anna menghela napas, rasanya tak sabar harus menunggu besok untuk melaporkan hilangnya Deasy. Wanita itu kembali menangis, dan Om Hans memeluk istrinya itu.
"Apa Om dan Tante masih mau di sini? Maaf, bukannya ngusir, tapi saya merasa sangat pusing. Saya ingin beristirahat."
"Baiklah, Nak Moses. Kami pamit dulu, ya. Maaf sudah ganggu istirahat kamu, juga terima kasih, selama ini kamu sudah menjaga Deasy."
Om Hans berdiri diikuti ketiga wanita di tempat itu. Moses ikut berdiri, tapi kemudian duduk lagi sambil memegangi kepalanya."
"Kamu gapapa, Nak Moses," tanya Tante Hesti khawatir.
"Gapapa kok, Tante, hanya sedikit pusing. Pasti sebentar lagi sembuh kalau minum obat."
"Obatnya ada, kan?"
"Ada, Tante. Kemarin Moses panggil dokter kemari."
"Ya udah kalau begitu. Aman kan kalau kami tinggal? Apa perlu Thalita temani kamu disini?"
"Saya gapapa, Tante. Sebentar lagi Bik Sari akan datang kok, ini udah diperjalanan."
"Ya sudah kalau begitu, kami pergi dulu ya," pamit Tante Hesti.
Moses mengantar tamunya sampai depan pintu. Cowok itu meminta tolong Thalita menutup pintu gerbang tanpa menguncinya.
__ADS_1
setelah semua pergi, Moses pergi ke kamarnya dengan senyum aneh menghiasi bibirnya.