Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 36 : Petunjuk Pertama


__ADS_3

Setelah Thalita pulang ke rumahnya, Gideon pamit untuk kembali ke kost, sedang Kristian masih berdiam diri di taman itu. Menunggu orderan, itu alasan yang diberikan Kristian pada Gideon. Tapi, setelah Gideon pergi, Kristian juga pergi.


Dengan santai, Kristian mengendarai motornya menuju rumah Moses kembali, dan memarkirkannya di depan rumah itu. Kebetulan, ada penjual es cendol yang lagi mangkal, Kristian tak melewatkan kesempatan, menghilangkan haus, juga mencari informasi.


"Mang, es cendolnya satu, es batunya dikit aja, ya!" pesan Kristian.


"Oke, Mas. Ditunggu!"


Tak lama, Mamang Cendol mengantar pesanan Kristian, karena cowok itu memilih duduk di atas motornya sambil memainkan ponsel.


"Ini Mas, cendolnya! Es batunya dikit aja kan?"


"Iya, Mang. Terima kasih ya. Eh, Mamang udah dari tadi ya, mangkal di sini?"


"He em, Mas. Di sini adem, banyak pohonnya, jadi enak mangkal di sini. Kang sayur, kang ojol, kang becak juga sering ikutan neduh di sini, jadi cendol Mamang yo lumayan laris."


"Bener, Mang. Aku juga sering neduh di sini, sambil nunggu orderan, tempatnya memang adem."


"Oh iya, Mamang lihat, Mas ini sering ya, masuk ke rumah itu?" tanya Mamang Cendol sambil menunjuk rumah Moses.


Pucuk di cita, ulam tiba. Kristian hendak bertanya pada Mang Cendol tentang para penghuni rumah ini, kali aja mendapat informasi, ternyata malah si Mamang yang bertanya lebih dulu, kontan Moses tak menyia-nyiakan kesempatan.


"Iya, Mang. Bik Sari, yang kerja di sini kan langganan ojol ku. Juga ceweknya pemilik rumah ini, teman kuliahku. Jadi aku cukup sering masuk rumah itu. Kenapa, Mang?"


"Di dalam, serem gak, Mas? Kan dari luar rumah ini kelihatan serem. Katanya malam-malam tertentu juga ada suara orang nangis, hiiii ngeri, Mas."


"Enggak kok, Mang. Di dalam mah biasa aja kok, gak serem-serem amat. Mungkin karena bangunannya bangunan lama, terus banyak pohonnya, jadi e rumah ini kelihatan serem."


"Ya itu sih mungkin juga, Mas. Ngomong-ngomong, Mas ini teman pacar e Den Moses yang mana? Yang anak kuliahan apa yang anak SMA?"


"Eh, Mamang kenal juga sama Bang Moses?"


"Ya kenal, Mas. Dia kan suka ikutan nongkrong di sini, beli es cendol. Tapi, orang e agak aneh gitu."


"Aneh?"

__ADS_1


Kristian semakin tertarik dengan obrolan bareng Mamang Cendol, tapi tak terlalu memperlihatkan ketertarikannya. Cowok itu ingin mengumpulkan informasi, tapi ingin terlihat cuek juga. Gaya detektif Sherlock Holmes kan begitu, yang dia baca di novelnya.


"Menurut Mamang sih aneh, Mas. Kadang dia itu ramah, suka bercanda, murah senyum, dan sering menyapa kalau kebetulan lewat. Tapi kadang tampangnya serem, jangankan ngobrol atau nyapa, noleh aja enggak. Kan aneh itu, Mas."


"Bener juga, Mang. Aku juga kadang merasa dia kayak gitu."


"Eh, iya. Mas ini teman pacar e Den Moses yang mana? Tadi belum dijawab sama Mas-nya."


"Yang anak kuliahan itu temanku sekampus, Mang. Tapi aku gak tau kalau dia pacar e Moses. Kalau yang anak SMA itu, dia langganan ojol ku."


"Oh gitu ya, Mas. Yang anak kuliahan itu, udah lama Mamang gak lihat dia, mungkin udah putus kali ya, Mas?"


"Lho? Mamang gak tau kalau dia hilang?"


Mamang Cendol tampak terkejut mendengar pertanyaan Kristian. Laki-laki setengah baya itu tak menyangka kalau Renata hilang, dia berpikir kalau cewek itu sudah putus dengan Moses, karenanya tak pernah kelihatan ke rumah itu lagi.


"Hi ... hilang gimana maksudnya, Mas?"


Kristian belum sempat menjawab, ketika ada orang yang hendak membeli cendol si Mamang. Lelaki itu meninggalkan Kristian, untuk melayani pelanggannya. Ketika dia sudah selesai, ganti Kristian yang mendapat orderan, terpaksa obrolan kedua orang itu tak berlanjut. Setelah membayar cendol, Kristian pamit untuk narik.


Di rumah Thalita, tampak Mama sedang menangis, di sampingnya, papa Thalita menenangkannya. Thalita yang panik, memarkir motornya sembarangan, kemudian berlari masuk ke rumah. Kunci motor masih menempel, lupa dicabut, pintu pagar juga tidak ditutup.


"Kebiasaan, baru datang itu ucapin salam dulu, kek!" gerutu Papa.


Pria itu kemudian keluar rumah, hendak menutup pintu pagar, juga mengecek motor anaknya.


"Iya, Tha. Mama yakin itu sepatu Deasy, karena Mama yang beliin buat dia. Hiks hiks hiks..."


"Kok bisa ketemu di pinggir sungai?"


"Ditemukan orang mancing. Masa Deasy hanyut sih, Tha? Huuuuaaaa."


Mama semakin keras menangis, membuat Papa yang sedang memarkirkan motor Thalita di tempat yang semestinya, berlari ke dalam.


"Kenapa mamamu, Tha?" tanya Papa.

__ADS_1


"Nangis sendiri kok, Pa. Padahal gak Thalita apa-apain juga," Thalita menjawab pertanyaan Papa sambil menarik-narik bibir bawahnya.


"Nih anak memang minta disleding kok," kata Papa kesal.


Thalita tak menghiraukan papa dan mamanya yang sekarang sedang berpelukan seperti teletubbies, cewek itu sedang serius menghubungkan benang merah dari petunjuk-petunjuk yang ditemukannya.


"Apa mungkin, Deasy hanyut di sungai sih, Pa?" tanya Thalita.


"Ya mungkin aja, kan sepatunya ditemukan di sungai, Tha. Dua-duanya malah," jawab Papa.


"Dua-duanya? Kok bisa, Pa? Kirain cuma satu aja yang ditemukan."


"Itu sepatu, talinya saling terikat, jadi keduanya ditemukan bareng, makanya kan aneh. Coba cuma sebelah, pasti tuh kang mancing gak lapor polisi."


"Oh, benar juga ya, Pa. Aneh sekali tuh. Tapi ..."


"Kenapa, Tha?"


"Kalau Deasy hanyut, masa sempat dia ikat sepatunya kayak gitu? Lebih mungkin kan sepatu itu sengaja dibuang ke sungai, kan?" duga Thalita.


"Benar juga dugaan kamu, Sayang. Berarti belum tentu Deasy hanyut di sungai. Bisa jadi cuma sepatunya aja yang nyemplung."


Mama mengusap air matanya, wanita itu seketika berhenti menangis, karena kemungkinan, Deasy tidak jatuh ke sungai seperti dugaannya sebelum ini.


"Iya, Ma. Kemungkinan, itu penculik Deasy yang membuang sepatunya di sungai," kata Thalita pelan.


"Maksud kamu apa, Tha? Deasy beneran diculik?"


"Entah, Ma. Itu masih dugaan Thalita aja, kok. Belum tentu benar juga," kata Thalita sendu.


"Kamu tau gak, Tha? Itu sepatu ditemukan di sungai, yang lewat belakang rumah pacarnya Deasy," kata Papa.


Thalita bengong. Cewek itu baru saja akan bertanya, di sungai mana sepatu Deasy ditemukan, tapi Papa sudah memberikan keterangan tanpa diminta.


"Ru ... belakang rumah, Bang Moses?"

__ADS_1


"Iya, kan ada sungai tuh di belakang rumah Moses. Gak besar memang, tapi kalau hujan kan suka banjir. Pernah ada orang hanyut juga di sungai itu dulu," jelas Papa.


Dugaan Thalita tentang hilangnya Deasy semakin kuat. Semuanya ada hubungannya dengan Moses, kekasih gadis itu. Tapi saat ini, Thalita masih memerlukan petunjuk dan bukti keterlibatan cowok itu.


__ADS_2