
Cukup lama Kristian dan Thalita larut dalam pikiran masing-masing. Kristian tak berani mengusik Thalita yang sedang menarik-narik bibir bawahnya, artinya cewek itu sedang sibuk berpikir.
Tiba-tiba ponsel milik Thalita berkelip, menandakan ada yang sedang menghubungi gadis itu. Nama sang Papa yang berpendar di sana, membuat gadis itu segera menggeser ikon telepon ke arah tombol hijau.
"Iya, Pa. Thalita baik-baik saja, tapi sudah ingin banget keluar dari tempat ini."
"Papa masuk ke kamar Bang Moses di lantai dua, terus di salah satu lemari dinding, ada pintu menuju kamar lain. Nah, di salah satu sudut kamar, ada pintu kecil di lantai, Thalita dan Bang Kristian terjebak di bawahnya.
Thalita tampak menghela napas. Rupanya sang Papa sedang memberi nasehat panjang pada gadis itu. Tak bisa membantah, karena sang Papa yang sedang bertitah, gadis itu memilih mengiyakan nasehat papanya.
"Iya, Pa. Thalita tunggu, udah gak betah banget di sini. Thalita lapar, Pa."
Setelah mematikan panggilan, Thalita menghela napas lega, kemudian tersenyum pada Kristian. "Kita selamat, Bang."
"Puji Tuhan. Yuk kita ke lorong yang tadi ada tangganya, Neng! Biar nanti gampang papa Neng Thalita nemuin kita."
Okey, Bang."
Tak menunggu lama di lantai tangga, tingkap di atas mereka terbuka, dan wajah papa Thalita tampak melongok dari atas.
"Naik!"
Thalita naik terlebih dulu, baru Kristian mengikuti di belakangnya. Sampai di atas, Thalita memeluk sang Papa dan menangis di dada pria itu.
"Dih, kenapa anak Papa jadi cengeng kayak gini sih?"
"Thalita takut, Pa. Tadi di bawah sana, Thalita gak yakin bisa selamat."
"Sudah! Yang penting sekarang kamu sudah selamat. Tapi, kamu hutang penjelasan sama Papa, oke?"
Thalita mengangguk, kemudian memeluk papanya sekali lagi. Papa mendekati Kristian yang sedang duduk, menepuk bahunya dan mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga Thalita.
__ADS_1
"Pak, kami sudah memeriksa seluruh tempat ini, dan kami menemukan bukti bahwa di sini pernah ada dikurung seorang wanita. Kami menemukan beberapa helai rambut panjang di dalam sebuah lemari dinding."
Salah seorang petugas kepolisian memberitahu papa Thalita tentang temuan mereka.
"Apa mungkin itu Deasy teman saya, Pak? Dia sudah beberapa hari ini menghilang. Saya dan teman saya ini, tadi sedang mencari bukti akan dugaan kami, sebelum ada orang yang mengunci kami di lorong rahasia itu," kata Thalita.
"Tapi, sebenarnya tindakan kalian itu tidak dibenarkan juga. Bagaimanapun, memasuki rumah orang tanpa ijin, termasuk sebuah pelanggaran, kalian bisa dituntut dengan jalur hukum."
Thalita dan Kristian tidak bisa membantah, karena memang mereka bersalah. Mereka berdua pasrah, jika mereka harus menerima sanksi.
"Tuh dengar, Tha! Makanya jadi anak jangan bandel. Untung saja Bapak Polisi ini baik hati, coba enggak, kamu bakal tetep terkurung di lorong tadi," omel Papa.
Kristian menjelaskan secara singkat, bagaimana ceritanya mereka sampai terjebak di lorong rahasia. juga tentang pintu rahasia di pagar samping.
"Ini ada apa sih, Neng Thalita?" Bik Sari yang kebingungan, bertanya pada Thalita.
"Ini bapak-bapak Polisi, sedang mencari Deasy, Bik."
"Lho? Memangnya Neng Deasy ada di sini? Kok Bibi gak lihat?"
"Kamar orang tuanya Den Moses itu di bawah, Neng. Kamar besar yang di dekat kamar tamu itu. Kok bapak-bapak polisi cari di atas?"
"Eh iya, Bibi udah tau belum, di sebelah kamar Bang Moses kan ada satu kamar lagi."
"Gak ada kok, Neng. Kamar di atas cuma satu, kamarnya Den Moses aja," kata Bik Sari yang merasa heran.
Thalita mengajak Bik Sari ke atas, kemudian menunjukkan kamar tersembunyi, yang pintunya ada di dalam lemari dinding. Tentu saja Bik Sari terkejut, tak menyangka di dalam situ ada kamar lagi.
"Astaga! Baru kali ini, Bibi tau di sini ada kamar, Neng. Jadi Neng Deasy disembunyikan di sini sama Den Moses?" tanya Bik Sari kagum.
"Iya, Bik. Dan kamar ini ada tembusannya ke perpus dan gudang, lewat lorong. Tadi Thalita dan Bang Kristian terjebak di situ, sebelum ditemukan oleh para polisi."
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, Neng! Berarti, waktu Den Moses masuk ke perpustakaan dan gak keluar-keluar, dia bisa aja pergi ke kamarnya dan tidur?"
"Ya bisa saja, Bik, kan ada lorong yang menghubungkan perpustakaan dan kamar dia."
Bik Sari manggut-manggut mendengar penjelasan Thalita. Wanita tua itu mulai paham, berarti majikannya bisa berpindah-pindah dengan mudah, tanpa dia ketahui, itu yang Bik Sari tangkap dari penjelasan cewek itu.
"Yuk, Bik! Kita tunggu di bawah! Biar bapak-bapak polisi ini melakukan tugasnya tanpa terganggu oleh kita."
Bik Sari mengangguk dan mengikuti Thalita ke bawah. Mereka duduk di sofa ruang tamu, dimana ada Pak Tarno yang sedang menunggu.
"Eh, Neng! Ada apa sih ini sebenarnya?" tanya Pak Tarno bingung.
Pelan-pelan Thalita menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah itu. Pak Tarno yang lugu, awalnya kurang paham, tapi lama-lama mengerti juga. Orang tua itu juga menceritakan penemuannya tentang pintu rahasia lewat pagar samping, yang tak sengaja dia temukan.
"Wah! Bisa gak Bapak tunjukkan jalan itu pada polisi?"
"Bisa kok Neng, bisa banget," jawab Pak Tarno antusias. Pria tua itu merasa sangat senang, karena bisa terlibat dengan urusan ini. Ada rasa banga yang sangat kentara di raut wajahnya, karena bisa membantu tugas aparatur negara.
"Baik kalau gitu, Pak Tarno. Bapak tunggu di sini ya! Akan Thalita sampaikan dulu kesediaan Bapak pada petugas."
Pak Tarno mengangguk antusias. Thalita segera menghampiri papanya, dan menyampaikan kesediaan Pak Tarno untuk ikut membantu.
"Pak, sepertinya Pak Tarno bisa memberikan informasi yang Bapak butuhkan. Dia sudah lama dipanggil kemari kalau tenaganya dibutuhkan. Mungkin Bapak bisa mengorek keterangan darinya, tentang hilangnya seorang gadis di rumah ini, tujuh bulan yang lalu."
"Maksud kamu siapa?" tanya Pak Polisi.
"Gadis bernama Renata, Pak. Kekasih pemilik rumah ini sebelumnya."
"Wah? Terima kasih infonya, Mbak. Saya ingat kasus itu. Kasus yang menemui jalan buntu, belum berhasil dipecahkan."
"Nah, Pak. Bisa jadi karena hilangnya teman saya, Deasy, kasus itu juga bakal terungkap."
__ADS_1
" Mudah-mudahan, kami akan usahakan yang terbaik pokoknya."
Papa mengacak rambut Thalita dengan sayang, ketika Bapak Polisi itu menghampiri tempat Pak Tarno duduk bersama Bik Sari.