
Gideon mengirim pesan chat pada Kristian, agar segera pulang dari rumah Moses. Sengaja Gideon tak mengatakan secara langsung, karena cowok itu merasa ada seseorang yang mengawasi mereka. Kristian paham akan pesan itu, dan mengajak Deasy pulang.
"Tugas kita udah kelar nih, yuk ku antar kamu pulang, Des!" ajak Kristian.
Deasy mengangguk, kemudian ke belakang untuk pamit pada Bik Sari. Tak lama cewek itu kembali bersama Bik Sari.
"Bik, kami pamit dulu ya. Tolong sampaikan terima kasih kami pada Bang Moses, ya!" kata Thalita.
"Neng Thalita ikut pulang juga? Gak mau di sini temani Bibi?"
"Maaf, Bik. Lain waktu aja ya! Ini Thalita udah mau ujian akhir. Mungkin bakal jarang main ke sini. Tar abis ujian, janji deh bakal sering main."
"Neng Deasy juga mau ujian?"
"Iya, Bik. Kan kami sekelas, jadi aku juga mungkin jarang ke sini dulu."
"Yah, kesepian deh Bibi kalau gini," keluh Bik Sari.
"Tenang, Bik! Masih ada saya, kan saya sering mangkal di depan situ. Tar kalau Bibi pengen ngobrol sama saya, tinggal ke depan saja!"
"Wah iya lupa, masih ada Den Ojol," Bik Sari tersenyum girang.
Mereka berempat meninggalkan rumah Moses, dengan berboncengan. Bik Sari segera mengunci pintu gerbang, karena Moses sudah bilang kalau pulang malam.
Seseorang yang tadi sedang menguping pembicaraan empat sekawan itu, mematikan rokoknya dengan cara menggenggamnya di telapak tangan. Tak ada kernyit kesakitan sama sekali, padahal puntung itu meninggalkan luka yang melepuh di telapak tangannya. Sosok itu kemudian meninggalkan tempat persembunyiannya, melalui jalan yang hanya diketahui olehnya.
"Ke rumahku, ya! Ada yang pengen aku bahas, nih," ajak Thalita.
"Kenapa gak ke rumahku saja?" tanya Deasy.
"Kanjeng Mami udah masak buat kita, sayang kan kalau mubazir?"
"Aku boleh ikut? Anak kost kan seneng tuh, diajak makan siang gratis," ujar Kristian.
"Iya, Bang, ikut aja! Aku udah bilang ke Kanjeng Mami, kalau kita berempat."
Kedua motor itu melaju beriringan menuju rumah Thalita. Mereka tak sadar, ada sebuah taksi online yang sedari tadi mengikuti mereka. Taksi itu sempat berhenti sejenak di depan rumah Thalita, mungkin untuk memastikan orang-orang yang diikutinya masuk ke sana semua.
"Jalan, Pak!" ujar sang Penguntit.
"Siap, Mas! Ke jalan Darmawangsa, kan?"
__ADS_1
"Enggak, Pak. Kita balik saja ke tempat tadi ya!"
Pengemudi taksi online itu mengangguk, kemudian melaju, untuk mengantar penumpangnya ke tempat asal darimana dia tadi naik.
"Waduh, masakan calon mertuaku memang mantap!" kata Gideon setelah bersendawa.
"Mantap karena gratis kan, Bang?" ledek Deasy.
"Ho oh, kok tau aja, sih? Hahaha."
"Yuk, ke depan! Kita berunding!" ajak Thalita.
"Eh, kalian berdua tadi ada yang merasa aneh gak, di rumah Bang Moses? Kalau Deasy mah pasti gak merasa, bucin bikin dia gak peka," Thalita membuka obrolan.
"Ada seseorang yang menguping pembicaraan kita di rumah itu," kata Kristian.
"Dan dia seorang perokok," imbuh Gideon.
"Moses itu seorang perokok ya, Neng Deasy?" tanya Kristian.
"Setau aku sih bukan, Bang. Tapi aku pernah melihatnya menghisap rokok, waktu aku ke rumahnya bareng Thalita. Cuma waktu itu dia lagi mabok, sebelumnya juga dia gak pernah ku lihat minum."
"Kok aneh?"
"Kira-kira, siapa ya yang mengawasi kita tadi?" tanya Gideon.
"Yang jelas sih bukan Bang Moses."
"Kok kamu bisa yakin, Des?"
"Yakin dong, Bang Dion. Karena tadi aku melihatnya naik taksi, dan aku baru masuk rumah setelah taksinya menghilang. Terus pintu gerbang juga ku gembok dari dalam, rumah itu tak ada gerbang belakang, satu-satunya jalan cuma gerbang depan."
"Berarti, gak mungkin Bang Moses kembali ke rumah tanpa setau kita kan?" tanya Thalita meminta pendapat teman-temannya.
"Jelas gak mungkin, mau masuk dari mana dia? Kan tadi waktu kita mau pulang, pintu gerbang masih terkunci dengan rapi dari dalam, kan?"
"Iya juga sih, Des. Apa jangan-jangan, tukang nguping itu masuk sebelum kita ya, Bang Dion? Kita masuk tadi kan gerbang gak dikunci."
"Mungkin sih itu, Tha. Abis itu si Kang Nguping, sembunyi di suatu tempat di rumah itu."
"GUDANG!!" jawab Kristian dan Deasy kompak.
__ADS_1
"Nah, benar nih. Dia yang jatuhin koper Renata," duga Thalita.
"Tapi, Yang, bukankah di dekat gudang itu dapur? Pasti terlihat Bik Sari, kalau Kang Nguping ngumpet di sana."
"Bang Gideon, Bik Sari itu udah tua, pasti gampang cari saat dia lengah."
"Tapi kan kita tadi sempat ke gudang, gak ada siapa-siapa gitu kok."
Gideon masih bersikukuh dengan dugaannya, karena dia merasa yakin di gudang gak ada orang sama sekali.
"Ya bisa jadi dia udah keluar tanpa setau Bik Sari, Bro. Ingat gak, kita lagi mencium bau asap rokok di halaman belakang?" kata Kristian.
"Wah, bener tuh Bro. Berarti dia sudah kabur begitu kita sampai di gudang. Antara bunyi benda jatuh dan Bik Sari teriak tadi, ada jeda waktu juga kan?"
"Iya, jeda waktu yang cukup untuk kabur ke luar dari gudang. Eh, Neng Deasy, untuk jaga-jaga, sebaiknya Neng Deasy jangan ke rumah itu sendiri deh. Minimal ajak aja Neng Thalita, dia kan cukup preman, bisa menghadapi orang yang berniat jahat!"
"Bener tuh, Kris. Cewek satu ini emang barbar, gak ada sifat feminin sama sekali. Cowok banget," Gideon mengelus rambut Thalita yang panjang sampai sepinggang.
Deasy dan Kristian tertawa, tapi Thalita tampak cemberut. Bisa-bisanya Gideon ngatain dia cowok banget, padahal rambut Thalita panjang.
"Emang sih, sejak tau Bang Moses mabok, aku belum pernah sendirian ke sana. Biasanya juga ajak Thalita.
" Kayak e, hari-hari ini kita gak bakal ke sana dulu, aku dan Deasy tar lagi ujian akhir."
"Nanti kuliah di kampus yang sama kayak aku dan Gideon, Neng!"
"Ogah, Bang Kris, jauh. Cari yang dekat-dekat aja."
"Ada tuh, Sayang. Deket banget, sampai gak perlu keluar rumah. Universitas Terbuka, namanya."
"Ya ogah kalau Universitas terbuka. Bisa jadi tape kalau di rumah terus," elak Thalita.
"Gak apa-apa, tape kan manis."
"Eh, Neng Deasy mana nih? Kok tiba-tiba ngilang?" Kristian mencari keberadaan Deasy.
"Lho? Perasaan dari tadi dia duduk di belakangku, kok sekarang ilang?"
Ketiga orang itu saling berpandangan, menunjukkan di antara mereka tak satupun yang melihat Deasy pergi. Kristian mencoba menelpon ke ponsel Deasy. Tapi cowok itu sampai melompat, ketika suara nada dari ponsel Deasy membuatnya kaget.
"Dia gak bawa HP?"
__ADS_1
Ketiganya kembali berpandangan.