
Gideon dan Thalita tiba hampir bersamaan di rumah Moses, karena mereka berdua memang bawa motor sendiri-sendiri. Keduanya langsung masuk ke halaman, setelah membuka gerbang depan yang tidak dikunci. Pasti karena sebelumnya Kristian mengatakan pada Bik Sari, keduanya pasti datang.
Setelah menutup gerbang, Gideon mengetuk pintu depan, cukup lama tidak ada jawaban, atau tanda-tanda pintu dibuka. Thalita memutuskan memutar saja, lewat pintu dapur.
"Bang, mending kita lewat belakang saja, pasti Bik Sari ada di dapur! Itu gerbangnya Abang gerendel dulu deh!"
"Siap, Tuan Putri! Hamba laksanakan perintah."
Gideon lari ke gerbang, sebelum Thalita mendaratkan cubitan mautnya. Ceweknya itu memang suka mencubit kalau digodain.
"Lho? Bik Sari kenapa, kok nangis?" tanya Thalita.
Gadis itu melihat Bik Sari menangis sambil menunduk di atas meja dapur. Sepertinya wanita tua itu cukup lama menangis, karena tampak kesulitan bernapas, sesenggukan. Thalita mengambil segelas air putih, dan mengulurkannya pada Bik Sari.
"Ma ... makasih, Neng Thalita."
Sekali teguk, air itu habis. Bik Sari meletakkan gelas di meja, dan memeluk Thalita. Gadis itu kemudian menepuk-nepuk punggung Bik Sari. Gideon masuk, dan merasa heran melihat dapur yang sangat berantakan, pintu gudang juga terbuka lebar.
"Wusss, udah seperti abis kena tsunami, kira-kira siapa pelaku semua ini, ya?" Gideon memindai dapur dan gudang.
"Bibi datang tadi, udah kayak gini?" tanya Thalita.
"Iya, Neng. Waktu Bibi masuk sama Den Kristian, rumah udah kayak gini. Andai tadi Bibi gak ketemu Den Moses sebelum dia pergi, pasti Bibi sudah lapor polisi, mengira rumah ini dirampok."
Gideon masuk ke dalam gudang, dan menghilang di sana. Thalita masih di dapur bersama Bik Sari.
"Kejadian kayak gini, pernah terjadi, Bik?"
Bik Sari menggeleng, seingatnya, dia tak pernah menemukan rumah dalam keadaan begini, meski dia ijin pulang kampung berhari-hari, baru kali ini saja.
"Thalita, Sayang, coba kemari!" panggil Gideon dari dalam gudang.
"Ada apa, Bang? ASTAGA!" pekik Thalita kaget.
Di gudang suasana lebih berantakan, hampir semua barang yang sebelumnya tertata rapi, kini berserakan di lantai. Terutama kopor besar yang berisi barang-barang Renata. Koper itu terbuka dan isinya berhamburan.
"Sini deh, lihat ini!" kata Gideon.
Thalita mendekat ke arah Gideon, dan ikut melihat benda yang sedari tadi diamati cowok itu.
"Eh, ini kan jepit rambut punya Deasy, Bang. Kok bisa ada di sini? Bukankah Deasy gak berani masuk ke gudang, ya?"
__ADS_1
"Itu lah, Abang ingat Deasy pernah pakai jepit rambut ini."
"Aku yakin banget, jepit rambut ini punya Deasy, karena gak mungkin dimiliki orang lain."
"Maksud kamu?"
Thalita mengambil jepit rambut itu dan memberikannya pada Gideon. Cowok itu menerima jepit rambut dengan dahi berkerut, penuh pertanyaan.
"Jepit rambut ini buatan Mama, jadi gak mungkin dimiliki orang lain, karena gak dijual di toko. Waktu itu Mama bikin dua pasang, bunga matahari dan bunga anggrek. Yang bunga matahari untuk Thalita yang anggrek untuk Deasy."
Thalita membuka sling bag yang dibawanya, dan mengeluarkan jepit rambut serupa, tapi punya Thalita berbentuk bunga matahari. Kedua jepit rambut itu terbuat dari benang yang sama.
"Sama kan warnanya? Waktu itu Deasy sempat protes, karena kata dia, gak ada anggrek warna kuning. Dia minta tukar, tapi Thalita gak mau."
"Jadi ini artinya, Deasy pernah berada di sini. Bener kan, Sayang?"
"Bener banget, Bang. Dan dia gak mungkin secara sukarela masuk kemari, tau sendiri kan, dia phobia laba-laba."
"Apa ya, hubungan dari semua ini?" tanya Gideon.
Thalita mengangkat bahu, tanda dia juga tak tau ada benang merah apa yang menghubungkan semua petunjuk ini. Di dapur ada suara orang bercakap-cakap, membuat Thalita dan Gideon segera keluar dari gudang.
"Baik, Bik Sari."
Bik Sari tampak memberikan petunjuk pada seorang pria tua, tukang kebun yang biasa dipanggil untuk bantu bersih-bersih. Pak Tarno, nama tukang kebun itu, mengangguk pada Gideon dan Thalita, kemudian berlalu ke ruang tamu, sesuai instruksi Bik Sari.
"Kami bantu bersih-bersih dimana, Bik?" tanya Gideon.
"Terserah Aden dan Eneng aja, mau dimana. Namanya juga membantu, gak bisa dong Bibi main perintah seperti pada Pak Tarno."
"Kalau begitu, kami bersih-bersih di gu---"
"Di perpustakaan deh, Bik."
Thalita memotong ucapan Gideon. Cewek itu memilih bersih-bersih di perpustakaan saja. Selain lebih gak berdebu, ada sesuatu yang ingin diselidiki Thalita di perpustakaan.
"Iya, terserah Neng Thalita. Di perpustakaan juga Bibi lihat berantakan juga."
Thalita mengangguk, kemudian mengandeng lengan Gideon dan mengajaknya ke perpustakaan. Bik Sari mulai sibuk membersihkan dapur sendirian.
KRIEEETTT
__ADS_1
Suara pintu ruang perpustakaan yang berbunyi ketika dibuka, membuat kening Thalita berkerut. Biasanya pintu itu tak pernah mengeluarkan bunyi, karena rajin diminyaki.
"Bang, biasanya pintu ini gak bunyi deh, waktu dibuka."
"Mungkin selama Bik Sari pulang kampung, gak ada yang masuk ke sini, Sayang. Kan Moses juga lagi sakit, masa kelayapan ke perpustakaan, sih?"
"Masuk akal juga, Bang. ASTAGA!"
Thalita menutup mulutnya dengan tangan, melihat ruang perpustakaan yang sangat berantakan. Hampir semua buku jatuh dari rak, termasuk buku-buku di rak atas.
"Hmm, masa sih ada manusia yang ngamuk e sampai kayak gini?" tanya Gideon.
Thalita masuk ke dalam, dan mulai memungut buku yang paling dekat dengan kakinya. Begitu juga yang dilakukan Gideon. Keduanya menumpuk buku-buku yang mereka pungut di meja.
"Sayang, kemarin kan kamu kemari, apa perpus udah berantakan kayak gini?"
"Thalita gak tau, Bang. Kemarin waktu lewat mau ke dapur, perpus ini tertutup, jadi gak tau dalamnya udah berantakan kayak gini apa belum."
"Kalau di luar?"
"Di luar masih rapi kok. Tapi kalau gudang, Thalita gak tau, kan pintunya tertutup."
"Mungkin gak sih, seseorang bikin berantakan kayak gini dalam sehari?"
"Mungkin saja, Bang. Kan cuma berantakin, apa susahnya coba?"
Gideon mengangkat bahu, kemudian melanjutkan memunguti buku yang berserakan, menumpuknya menurut jenis buku itu.
"Bang, sini deh!"
"Apa, Sayang?"
Gideon mendekat ke arah Thalita, ketika cewek itu mengambil benda yang membuatnya mengerutkan kening, dari bawah rak buku. Jepit rambut Deasy.
"Itu jepit rambut yang tadi?"
Thalita membuka sling bag, dan menggeluarkan dari sana jepit rambut yang tadi ditemukan Gideon di gudang.
"Kan Thalita udah bilang, jepit rambut ini ada sepasang. Ini pasangannya, Bang."
Gideon dan Thalita saling pandang.
__ADS_1