Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 37 : Terus Mencari


__ADS_3

Obrolan dengan kedua orang tuanya, membuat Thalita semakin yakin, kunci semua misteri berada pada Moses dan rumah tuanya. Kemungkinan apa yang menimpa Deasy saat ini, juga menimpa gadis yang bernama Renata, pacar Moses yang dinyatakan hilang.


"Hem, Pa, berarti ini Om Hans udah resmi lapor polisi, ya?" tanya Thalita.


"Iya udah. Dan kebetulan juga ada yang lapor penemuan sepatu itu tadi, waktu Papa dan Om Hans masih di kantor polisi."


"Mungkin itu jalan Tuhan, supaya kita cepat menemukan Deasy, Pa. Kasihan sekali anak itu, ini hampir tiga hari dia hilang. Pasti dia kelaparan dan menderita, hiks hiks hiks."


Mama Thalita kembali menangis. Bayangannya tentang nasib Deasy, membuat wanita itu merasa sangat sedih. Maklum, mama Thalita dekat dengan Deasy, lebih dari mama Deasy sendiri.


"Ora et labora, Ma. Kita harus berdoa dan juga berusaha menemukan Deasy, apapun keadaannya," ujar Papa.


"Jangan ngomong kayak gitu, Pa! Mama takut membayangkan, kalau Deasy ditemukan sudah ..."


Mama tak kuasa melanjutkan ucapannya. Bayangan Deasy ditemukan sudah menjadi mayat, membuat wanita itu tengelam dalam duka yang mendalam.


"Udah! Yuk Papa antar Mama istirahat. Jangan terlalu dipikirkan, bawa aja dalam doa. Thalita, kamu juga istirahat, jangan keluyuran, nanti mamamu tambah cemas!"


Papa membimbing Mama masuk ke kamar. Thalita masih duduk di ruang tamu. Cewek itu berjanji pada orang tuanya, gak bakal keluar rumah lagi hari ini. Thalita tak mau mamanya makin cemas.


*****


Kristian kembali lagi ke depan rumah Moses setelah selesai mengantar penumpang, niatnya, mau melanjutkan obrolan dengan Mamang Cendol. Tapi sayang, si Mamang tampaknya sudah pulang, karena memang hari sudah menjelang sore.


"Hem, si Mamang udah pulang rupanya, aku juga balik ke kost aja deh kalau gitu," gumam Kristian.


Cowok itu baru saja akan menghidupkan motor, ketika sebuah taksi berhenti di depan rumah Moses, dan cowok itu turun. Moses melihat Kristian, kemudian menghampirinya.


"Ngapain bengong di situ? Gak masuk aja ke dalam?" sapa Moses.


"Eh, Bang Moses. Baru pulang ya, Bang?" Kristian balik bertanya.

__ADS_1


"Iya nih, baru pulang dari kantor. Baru sehat, makanya gak bawa mobil sendiri, naik taksi aja. Kamu ngapain bengong di sini? Masuk yuk!"


"Abis narik ini, Bang. Tadinya mau beli es cendol yang biasa mangkal di sini, ternyata mamangnya udah pulang," kata Kristian tak sepenuhnya bohong.


"Ya udah, yuk masuk aja! Kita ngobrol-ngobrol di dalam, Bik Sari kan udah datang, pasti bawa oleh-oleh!" ajak Moses lagi.


Kristian menurut, selain penasaran dengan Moses yang kali ini sangat ramah, cowok itu juga ingin ketemu dengan Bik Sari, ada beberapa pertanyaan yang ingin ditanyakan Kristian pada Bik Sari.


Pintu depan rumah Moses terbuka, cowok itu langsung saja masuk, diikuti Kristian di belakangnya. Pak Tarno, tukang kebun yang diminta Bik Sari bantu bersih-bersih, sedang duduk di lantai sambil minum kopi.


"Lho ada Pak Tarno, udah lama, Pak?" sapa Moses.


"Udah dari siang, Den. Bapak disuruh Bik Sari bantu bersih-bersih, ini baru kelar. Bapak dapat hadiah ini dari Bik Sari," kata Pak Tarno sambil menunjukan gelas kopinya.


"Kalau begitu, ini hadiah dari saya, Pak."


Moses memberikan dua lembaran merah bergambar dua bapak-bapak pada Pak Tarno. Lelaki tua itu menerimanya sambil terkekeh, mencium lembaran itu, dan memasukkannya ke kantong baju.


"Amin. Makasih Pak Tarno."


"Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Den."


"Iya, Pak. Tolong bilang ke Bik Sari sekalian, Pak! Saya minta kopi dua, sama camilan," kata Moses ketika melihat Pak Tarno beranjak ke belakang membawa gelas kotornya.


"Siap, Bos."


"Duduk, Kris! Gak capek apa, berdiri mulu dari tadi?"


Kristian tersenyum, kemudian mengikuti Moses duduk di sofa. Rumah Moses sudah rapi seperti biasanya, tidak seperti tadi pagi ketika Kristian mengantar Bik Sari dari terminal.


"Pak Tarno itu sering bantu di sini ya, Bang?" tanya Kristian.

__ADS_1


"Iya, biasanya bersih-bersih halaman depan sama belakang. Atau kalau Bik Sari perlu benerin apa gitu, kayak genteng bocor atau got mampet. Serabutan pokoknya."


"Tadi bantu apa tuh Pak Tarno, Bang?" tanya Kristian hati-hati.


"Bersihin halaman belakang, ku lihat kemarin rumputnya udah tinggi-tinggi. Jadi ku suruh Bik Sari panggil Pak Tarno tadi pagi."


Moses berbohong. Jelas-jelas Pak Tarno dipanggil untuk membereskan rumah yang berantakan. Dan, sepertinya Moses tak tau, kalau rumahnya tadi sangat berantakan, makanya cowok itu mengira, Pak Tarno dipanggil untuk membantu membersihkan halaman.


Kristian merasa heran, padahal tadi Moses bertemu dengannya sebelum berangkat, tapi cowok itu bersikap seperti mereka tidak pernah bertemu hari itu.


"Hmm, begitu. Abang gak berniat cari tukang kebun tetap yang mau tinggal di sini, kasian Bik Sari, gak ada temannya. Apalagi kalau Abang kerja dan kuliah," usul Kristian.


"Udah pernah aku usul kayak gitu, tapi Bik Sari gak mau. Dia merasa nyaman kalau sendirian saja. Makanya, aku tuh seneng kalau ada Deasy dan Thalita main ke sini, biar menemani Bik Sari."


"Aku sering mangkal di depan rumah Abang situ, kadang aku lihat Bik Sari ngobrol sama Mamang Cendol atau Kang Sayur."


"Iya, aku tau kok. Dari mereka juga Bik Sari kenal Pak Tarno, terus jadi langganan bantu-bantu di sini. Ini ngomong-ngomong, kok Bik Sari lama banget ya, bikinin kopinya?"


"Ku lihat ke belakang, boleh?"


"Iya, lihat aja. Aku mau ganti baju dulu deh ya, gerah banget nih."


"Siap, Bang Moses."


Moses berjalan ke kamarnya, ketika cowok itu berbalik, Kristian melihat kemeja belakang Moses kotor, seperti bekas tanah yang mengering, di celananya juga. Tanpa sadar, Kristian memindai ke bawah. Sepatu Moses yang tidak dilepas, ternyata penuh bekas tanah yang sudah mengering juga.


Sambil menggaruk kepala, Kristian berjalan ke belakang, ke arah dapur, mencari Bik Sari untuk meminta dibuatkan kopi. Sampai di dapur, tak ada seorangpun di sana. Bik Sari dan Pak Tarno tak tampak batang hidungnya.


Kristian mendekati pintu kamar Bik Sari yang tertutup rapat, sepertinya wanita tua itu sedang berada di dalam. Pintu ke halaman belakang terbuka, membuat Kristian mengurungkan niat mencari Bik Sari di kamarnya, cowok itu berjalan mendekati pintu ke halaman belakang.


Seperti kata Moses, halaman belakang penuh ditumbuhi rumput liar yang tinggi, membuat bunga lily yang tumbuh di sana sedikit tak terlihat. Ada motor tua milik Pak Tarno di pojok halaman, tapi pemiliknya tak kelihatan.

__ADS_1


Kembali Kristian berjalan menuju kamar Bik Sari. Tapi, Kristian urung mengetuk pintunya, ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Bik Sari. Suara desis yang pelan dan teratur.


__ADS_2