Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 22 : Main Belakang


__ADS_3

Sengaja Thalita tak memberi tahu Deasy, kalau dia dan Gideon pacarnya, sedang menyelidiki misteri hilangnya Renata. Thalita berniat main belakang saja. Deasy itu pacar Moses, pria yang dicurigai Thalita berhubungan dengan hilangnya Renata.


Deasy yang merasa kesal dengan sikap Thalita, yang seperti tidak menanggapi dugaannya terhadap sang pacar, memilih untuk tak lagi membahas lagi masalah itu. Deasy berniat untuk menyelidikinya sendiri, dibantu oleh kang ojol. Ya, Deasy berniat meminta bantuan kang ojol, karena si Akang lebih menanggapi cerita dan dugaannya.


Siang itu, kembali Deasy menolak untuk pulang bareng dengan Thalita. Gadis itu berniat naik ojol saja. Tanpa menunda lebih lama, Deasy menelpon Kang ojol.


"Halo, Bang. Bisa jemput Deasy di sekolah?" kata Deasy begitu panggilannya terjawab. Tanpa basa-basi, Deasy mengatakan tujuannya menelpon.


"Hari ini Abang lagi gak narik, Neng. Tapi kalau mau dijemput sih boleh aja. Tunggu ya, dua puluh menit lagi Abang sampai!"


"Oke, Bang. Ku tunggu ya."


"Siap, Neng. Otewe."


Deasy melangkah keluar kelas, begitu selesai menelpon. Thalita sudah tak kelihatan batang hidungnya, mungkin sudah cabut dan ngedate bareng pacarnya, karena tadi cewek itu buru-buru keluar kelas.


Menunggu memang pekerjaan yang sangat melelahkan. Apalagi ini sudah lewat tiga puluh menit, tapi Kang ojol belum juga muncul. Deasy memutuskan jajan es cendol di depan sekolah, sekalian numpang duduk dan berteduh. Cuaca sangat panas, minum es cendol merupakan pilihan yang tepat.


"Kayak e seger nih! Abang juga mau dong."


"Eh, min ... minta aja, Bang! Biar tar dibuatin sama mamangnya."


Deasy mengamati penampilan Kang ojol yang beda dari biasanya. Kali ini si Akang memakai t-shirt warna hitam, dan kemeja warna navy untuk luaran, celana jeans biru dan sepatu kets warna putih. Tak mirip dengan kang ojol yang selama ini Deasy kenal.


"Lihat mulu, tar naksir lho, Neng. Emang Abang kenapa, kok dilihatin mulu, ada tanduknya ya?" Kang ojol meraba kepalanya, seolah mencari tanduk yang mungkin baru tumbuh.


Deasy membuang pandangan karena salah tingkah, wajahnya juga merah seperti strawberry. Maklum, dia ketahuan mengamati penampilan Kang ojol yang kali ini tampak memesona.


Kang ojol duduk di sebelah Deasy. Setelah mengaduk es cendol, cowok itu meminumnya sampai sisa setengah gelas.


"Haus ya, Bang?" tanya Deasy.


"Banget, Neng. Itu tadi abis konsultasi, terus Eneng nelpon. Jadi Abang gak sempat minum langsung ke sini deh."


"Konsultasi? Konsultasi apaan, Bang?"


"Konsultasi skripsi, Neng. Makanya hari ini Abang gak narik, udah janjian sama Dosen pembimbing."


"Abang mahasiswa? Di kampus mana?"

__ADS_1


"Ya begitulah, Neng. Di kampus dekat tempat kost Renata. Sebenarnya Abang ini sekampus sama Renata, tapi gak kenal, cuma sekedar tau aja. Karena beda tingkat dan jurusan juga."


"Kalau Abang mahasiswa, ngapain narik ojol?" tanya Deasy heran.


"Emang mahasiswa gak boleh narik ojol? Mahasiswa kan juga butuh duit, Neng," jawab Kang ojol nyengir.


"Iya juga sih. Betewe, nama Abang siapa sih, kalau boleh tau? Kan gak enak, udah lama kenal tapi gak tau namanya."


"Kan di jaket ojol ada nama Abang, Neng, masa gak pernah baca sih?"


"Maaf, Bang! Gak pernah baca,hehehe."


"Ya udah, kalau gitu kenalin! Nama Abang Kristian, panggil aja Bang Tian."


"Oke, Bang Tian. Udah tau kan, namaku siapa?"


"Udah kok. Deasy Maharani, kan?"


"Hah? Kok tau sih, Bang?"


Tian nyengir, sambil menunjuk badge nama di kemeja putih yang dikenakan Deasy. Keduanya kemudian tertawa, menertawakan kekonyolan Deasy.


"Gak jadi deh, Bang, kan Abang lagi gak narik. Biar aku pesan ojol dari aplikasi aja," Deasy merasa tak enak.


"Ayolah, jangan kayak gitu! Abang udah di sini juga, kan? Masa sih gak jadi nganterin?"


"Ta ... tapi, Bang---"


"Gak usah tapi-tapian segala. Ayo, Abang antar! Ini Abang maksa, lho!"


Gideon berdiri, dan membayar es cendol yang mereka minum. Meski Deasy sudah menolak ditraktir, Kristian tetap memaksa.


"Jadi kita ke mana nih, Neng?" tanya Tian.


"Kita ke rumah Bang Moses aja, yuk! Mumpung Bang Moses lagi gak ada di rumah."


"Lha ngapain, Neng?"


"Ada yang mencurigakan di ruang perpus rumah itu, Bang. Aku ingin menyelidikinya, dan aku mau minta bantuan Bang Tian, kalau gak keberatan."

__ADS_1


"Oke, mumpung Abang juga gak lagi narik. Jadi kita bisa pura-pura mau mengerjakan tugas di perpustakaan. Apa Abang masih pantas, ngaku anak SMA?"


"Hahaha, masih pantes kalau dandanannya kayak gini, Abang jadi keliatan lebih muda lima tahun."


"Bagus kalau gitu, Abang jadi pede buat bikin baper anak SMA nih, hehehe."


Kristian dan Deasy sampai di depan rumah Moses. Deasy turun dari boncengan, dan berniat membuka pintu gerbang, ketika suara klakson mobil terdengar keras memekakkan telinga.


Kristian meminggirkan motornya yang menghalangi jalan.


"SIAPA DIA?" tanya Moses pada Deasy.


"Te ... temanku, Bang. Te ... teman sekolah," jawab Deasy sambil menunduk. Sorot mata Moses yang tajam, membuat Deasy merasa terintimidasi dan membuatnya gugup.


Melihat suasana berubah menjadi kurang menyenangkan, Kristian berinisiatif turun dari motor dan menghampiri Deasy. Cowok itu tau, Moses merasa cemburu padanya.


"Kenalkan, Bang! Nama saya, Kristian, saya teman sekolah Deasy. Kami kesini berniat meminjam perpustakaan Abang, karena kami mempunyai tugas sekolah yang berkaitan dengan buku."


"Beneran?" tanya Moses tak percaya.


"Benar, Bang. Tadinya saya mau mengerjakan di perpustakaan umum. Tapi Deasy bilang, di rumah pacarnya ada perpustakaan yang lengkap, jadi kami kemari. Kalau Abang berkenan, kami mau pinjam perpustakaan Abang," kata Kristian santai, hingga terlihat meyakinkan.


Moses memberi tanda agar Deasy membuka gerbang, kemudian menyuruh mereka masuk.


Gerbang yang tinggi dan berat, membuat Deasy sedikit kesulitan untuk membukanya, dan Kristian merasa terpanggil untuk membantu gadis itu. Moses terlihat makin cemburu.


Setelah mobil Moses masuk ke halaman, Kristian juga memasukkan motornya, kemudian memarkirnya di bawah pohon manga. Di samping motor butut yang sangat familiar buat Kristian.


"Motor siapa nih, Bang?" tanya Kristian pada Moses.


"Gak tau, aku baru melihatnya sekarang. Mungkin Bik Sari lagi panggil tukang apa gitu, tukang kebun apa tukang ledeng. Soalnya ada kran yang bocor di kamar mandi bawah,"


"Oh gitu, Bang."


"Iya. Ayo masuk!" ajak Moses.


Kristian mengangguk, tapi gak langsung masuk. Cowok itu mengirim chat pada Deasy, kalau ada orang yang kenal dengannya di dalam rumah Moses. Tian juga menanyakan, mereka melanjutkan rencana, atau menganti dengan rencana baru.


Deasy mengatakan, itu motor punya pacar Thalita, tapi Deasy tak tau, apa maksud Thalita dan pacarnya kemari. Kristian bertindak cepat, cowok itu mengirim pesan pada Gideon, untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


__ADS_2