Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 29 :


__ADS_3

TIN ... TIN ...TIN


Suara klakson mobil terdengar dari luar gerbang. Tampaknya, Moses sudah pulang dari kampus, dan mungkin akan makan siang di rumah. Bik Sari bergegas akan membukakan gerbang, tapi segera dicegah oleh Deasy.


"Biar aku aja, Bik!"


"Oke makasih, Neng."


Bik Sari melanjutkan menata masakan untuk makan siang di meja, setelah memberikan kunci gerbang pada Deasy. Cewek itu berlari-lari kecil untuk membuka gerbang.


"Lho, kamu di sini, Sayang? Kok gak kasih kabar sih?" kata Moses sambil mengecup dahi Deasy.


"Tadi dari sekolah, Bang. Aku dan Thalita keterima di Universitas negeri dengan jalur SNMPTN, terus Thalita ngajak ke sini, mau lanjutin baca buku di perpus Abang. Maaf ya, gak ijin dulu."


"Wah, Abang bangga sama kamu dan Thalita, kalian berdua memang cewek-cewek yang cerdas. Selamat ya, Sayang."


"Iya, Bang. Makasih."


"Mau hadiah apa nih dari Abang?"


"Abang mau kasih hadiah buat Deasy?"


"Jelas mau dong. Bilang aja, mau hadiah apa dari Abang?"


"Hmm, apa ya? Nanti deh Deasy pikirkan, mau hadiah apa dari Abang."


"Oke, kalau udah nemu, bilang aja! Jangan malu-malu ya, biasanya kan malu-maluin juga."


Deasy tertawa renyah, membuat Moses merasa gemas dan mengacak rambutnya.


"Eh, itu tadi motor siapa, Sayang?"


"Motor Thalita dan Bang Kristian."


"Bang Kristian itu siapa?"


"Tukang ojol."


"Ojol?"

__ADS_1


"Itu lho, Bang, yang kapan hari numpang ngerjain tugas di sini sama Deasy dan Thalita. Masa Abang lupa?"


"Abang bukan lupa, Sayang. Cuma gak ingat aja, hahaha."


Deasy mencubit pinggang Moses gemas, membuat cowok itu meringis kesakitan. Thalita dan Kristian sampai lari ke luar dari dalam perpustakaan, ketika mendengar kegaduhan itu.


"Kamu siapa?" tanya Moses pada Kristian.


"Sa ... saya Kristian, Bang. Temannya Deasy dan Thalita," jawab Kristian gugup.


Semua yang ada di situ merasa heran, kenapa Moses seperti lupa dengan Kristian, padahal mereka sudah pernah bertemu dan ngobrol.


"Oh, kamu yang pacarnya Thalita itu kan ya?"


"Buk---"


"Iya, Bang Moses, Kristian ini pacar aku. Tumben Bang Moses pulang siang? Biasanya Bang Moses makan siang di kantor?"


Kristian meringis, ujung jari kakinya diinjak Thalita. Juga cewek itu mencubit pinggangnya, memberi kode agar cowok itu tak melanjutkan ucapannya. Deasy juga merasa heran dengan apa yang baru dikatakan Thalita, tapi cewek itu memilih diam, Deasy tau Thalita pasti mempunyai maksud tertentu dengan ucapannya.


"Kok tumben sih, Tha? Kan tiap hari Abang juga selalu makan siang di rumah tho. Abis makan siang baru Abang ke kantor."


Moses tampak kebingungan, cowok itu tampak berpikir, apakah ucapan Thalita barusan itu benar. Moses merasa selalu pulang untuk makan siang setiap hari, termasuk dua minggu ini.


Deasy juga merasa heran dengan jawaban Moses dan pengakuan Thalita barusan, tapi cewek itu memilih diam. Deasy menunggu Thalita menjalankan rencana di kepalanya.


Kristian sudah dapat menebak, apa tujuan Thalita mengarang cerita. Cowok itu kini paham, maksud pertanyaan Thalita di perpus tadi, Kristian pernah membaca artikel tentang hal itu.


"Anu ... Abang makan siangnya agak sore, jadi kalian pasti sudah pulang. Ayok deh kita makan sekarang! Abang udah lapar banget dan harus buru-buru ke kantor nih."


Semua mengekor di belakang Moses menuju meja makan. Bik Sari sudah menyiapkan menu makan siang yang menggoda selera, soto ayam. Mereka makan sambil bercanda, seolah melupakan obrolan janggal yang tadi sempat terjadi.


Moses juga tampak akrab dengan Kristian, seperti sudah kenal lama, padahal tadi Moses masih menanyakan, siapa Kristian ini.


"Abang mau ke kantor dulu ya. Kalian nyamanin aja di sini, anggap aja rumah sendiri, oke? Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan minta ke Bik Sari."


"Siap, Bang."


Deasy, Thalita dan Kristian menjawab dengan kompak, sampai mereka bertiga merasa heran dan cekikikan.

__ADS_1


Moses tersenyum, kemudian melangkah ke depan. Deasy mengantarnya dan membukakan pintu gerbang untuk Moses. Cewek itu kemudian mengunci kembali pintu gerbang, dan masuk ke dalam rumah, bergabung bersama teman-temannya.


Di perpustakaan, Thalita berdiskusi seru bersama Kristian, membahas tentang kepribadian ganda.


"Jadi, orang yang mempunyai kepribadian ganda, gak ingat waktu dia jadi pribadi yang lain ya, Bang?" tanya Thalita.


"Yang Abang baca sih begitu, Neng. Coba kita cari informasi di google, biar lebih akurat!"


Kristian mengotak-atik ponselnya, dan memberikan pada Thalita setelah menemukan info yang dimaksud.


"Benar kan, Neng?"


"Iya, Bang. Menurut Abang, tuh Bang Moses, kasusnya sama gak kayak gini?"


Kristian berpikir sejenak. Dugaan Thalita memang cukup masuk akal, kelakuan Moses related dengan orang yang mempunyai gangguan kejiwaan ini. Kepribadian ganda atau multiple personality disorder, membuat penderitanya tak ingat saat menjadi pribadi yang lain.


"Sepertinya sih masuk akal, kalau Bang Moses mengalami ini, Neng. Waktu aku ke sini yang kapan hari itu, sikap Bang Moses memang gak seperti barusan. Yang waktu itu lebih cool dan pendiam, ya kan Neng?"


"Menurutku sih begitu, Bang. Tapi---"


Deasy masuk ke perpustakaan, setelah mengantar Moses. Cewek itu berwajah murung.


"Kok kalian jadi diam? Tadi lagi ngomongin aku, ya?" tanya Deasy.


"Enggak kok, Neng Deasy. Aku sama Neng Thalita sedang membahas multiple personality disorder. Kebetulan Abang habis baca artikel tentang itu," jawab Kristian.


Kristian memberi kode pada Thalita, agar tak melanjutkan bahasan mereka di depan Deasy, dan pura-pura membahas cerita novel Sherlock Holmes.


"Iya, Neng. Menurut Abang, Sherlock Holmes itu bisa menemukan hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain dengan tepat. Apa sih namanya itu? Ah iya, benang merah, Neng Thalita."


Thalita hampir saja tertawa, mendengar Kristian tiba-tiba mengalihkan topik obrolan. Cewek itu melirik Deasy yang kini telah merebahkan tubuhnya ke sofa, berarti Deasy gak paham dengan omongan Kristian. Deasy percaya, Thalita dan Kristian memang sedang membahas Sherlock Holmes.


"Iya, Bang, bener banget. Dia itu bisa menemukan hubungan sekecil apapun, yang kadang gak diperhatikan oleh detektif lain. Abang tau kan, Inspektur Lestrade, kadang dia yang menangani kasus duluan, tapi Sherlock yang berhasil memecahkannya."


Kristian sedikit bingung dengan omongan Thalita, tapi segera mencari info dari google, supaya obrolan mereka terkesan nyambung.


"Iya, Neng. Inspektur Lestrade lebih ceroboh sih menurut Abang, jadi sering terlewat saat sedang meneliti."


Tiba-tiba, aroma tembakau yang dibakar, tercium oleh tiga orang yang berada di perpustakaan. Deasy kembali duduk, dan mengendus ke sekeliling, mencari sumber dari mana aroma itu berasal. Demikian juga Kristian dan Thalita, tapi tak satupun dari mereka yang menemukannya.

__ADS_1


__ADS_2