
Ada notifikasi pesan masuk di ponsel Thalita, pesan chat dari Kristian. Cewek itu mengerutkan kening, ketika membaca pesan itu, tapi memutuskan untuk menurutinya.
[Cepat ajak Gideon pergi dari rumah itu. Kalau bisa kamu ngomong yang keras alasan kamu kenapa pergi!] ~ from Kristian.
"Bang, pulang yuk! Disuruh Kanjeng Mami, nih."
Thalita sengaja meneriakkan ajakan pulang pada Gideon, padahal mereka berada di ruang perpustakaan yang sepi. Thalita berbisik saja, pasti Gideon bisa mendengarnya.
"Tumben Kanjeng Mami nyuruh pulang? Kamu gak pamit mau ketemuan sama Abang?"
"Ya pamit. Tapi waktu aku pamit, Kanjeng Mami lagi sibuk teleponan sama Tante Anna, mama Deasy, bisa saja tuh Kanjeng Mami gak dengar."
Thalita memberi kode dengan kedipan mata, agar Gideon tak banyak tanya, dan menuruti keinginannya untuk segera pergi dari tempat itu. Keduanya melangkah ke dapur, untuk pamit pada Bik Sari.
"Bik Sari, maaf ya, kami berdua mau pamit. Ini Thalita dicariin emaknya. Besok kami kesini lagi deh, bantu bersih-bersih," kata Gideon.
"Oh iya, Den. Makasih ya, udah bantuin Bibi beres-beres. Makasih, Neng Thalita. Jangan bosen dibikin repot Bik Sari, ya!"
"Enggak repot kok, Bik. Kami senang bisa bantuin Bibi di sini, cuma ini Kanjeng Mami nyariin, kalau gak segera pulang, bisa diomeli."
"Iya, Neng. Salam buat Kanjeng Mami, juga buat Neng Deasy. Tumben dia gak ikut kemari?"
Thalita memberi tanda pada Gideon untuk menjawab pertanyaan Bik Sari, cewek itu takut keceplosan menjawab kalau Deasy hilang. Semua hal yang menyangkut Deasy, akhir-akhir ini membuat Thalita terbawa emosi.
Gideon memeluk pacarnya, untuk memberikan dukungan, karena mata cewek itu sudah berkaca-kaca, ingin menangis.
"Ortunya lagi di rumah, Bik. Nanti juga dia bakal ikut kemari kok, kemarin-kemarin kan dia yang menemani Bang Moses, waktu Bibi pulang kampung."
"Oalah, syukur kalau begitu. Bibi kepikiran banget sama Den Moses, kasihan gak ada yang ngurus, makanya Bibi cepat-cepat balik ke sini, begitu ibunya Bibi sehat."
Ponsel Thalita berdering, sebelum menjawab panggilan, cewek itu menunjukkan layar ponselnya pada Gideon.
"Iya, Ma. Ini Thalita lagi otewe, tunggu sebentar, ya!"
__ADS_1
Thalita mematikan panggilan, dan mengajak Gideon segera pulang, karena mamanya baru saja menelepon. Bik Sari mengantar keduanya sampai gerbang depan, kemudian mengunci gerbang itu.
Melihat pasangan itu keluar dari rumah Moses, Kristian segera mengikuti mereka dari belakang. Ketiganya kembali ke taman, tempat mereka sebelumnya janjian.
"Ada apa sih, Bang Kristian? Kok sepertinya Abang panik banget?" tanya Thalita begitu mereka berkumpul.
"Iya, nih. Kami sampai panik tau, waktu kamu nelpon Thalita. Ada apa sih, Bro?" imbuh Gideon.
"Tadi aku kan ngikuti Moses yang pergi naik taksi kan, ternyata dia tuh muter-muter doang, terus balik lagi ke rumahnya."
"Hah, yang bener, Bro? Kok kami gak ketemu dia?" tanya Gideon heran.
"Itu dia anehnya. Abis dari sini tadi, aku ke kantor Moses. Ku lihat dia keluar naik taksi, ku ikuti deh. Dia muter-muter sampai sejam lebih tau. Terus dia makan mie ayam di dekat rumah Deasy itu. Abis makan mie ayam, dia pesan ojol, pulang ke rumahnya."
"Jangan becanda, kami gak ketemu dia kok! Ya kan, Tha?" kata Gideon.
"Itulah yang aneh. Abis turun dari ojol, dia jalan tuh kesamping rumahnya, terus menghilang. Makanya aku chat Thalita, biar kalian keluar dari rumah itu."
"Hilang gimana, Bang Tian?" tanya Thalita.
"Maksud kamu gimana sih, Bro?" tanya Gideon.
"Aku ikuti dia kan, muter ke samping rumah e, tapi dari jarak jauh. Nah, habis belok dia udah gak ada."
"Lha kemana?" tanya Gideon b*go.
"Ya hilang," jawab Kritian.
Thalita menarik-narik bibir bawahnya, pertanda cewek itu sedang berpikir. Cerita Kristian barusan, memunculkan banyak dugaan di benaknya. Tapi semua masih dugaan, masih harus diselidiki lebih lanjut kebenarannya.
"Menurutmu, kemana tuh si Moses, Bro?" tanya Gideon.
"Dugaanku sih, dia masuk ke rumahnya, tapi lewat jalan rahasia."
__ADS_1
"Tepat. Thalita juga mikir gitu, Bang Tian."
"Apa dia gak pergi lagi? Mungkin naik taksi atau ojol lagi gitu, makanya dia hilang, Bro?" tanya Gideon.
"Gak mungkin lah, Bro. Kan tau sendiri, samping rumah Moses itu kayak kebun gak keurus gitu, terus belakangnya itu sungai, dia naik ojol dari Hongkong? Mustahil dia pergi lagi," jawab Kristian.
"Berarti, mungkin gak kalau selama ini Bang Moses itu selalu ngawasin kita, saat kita di rumahnya?" tanya Thalita.
"Aku tadi sempat mikir gitu sih, Neng. Selama ini kan Bang Moses sering pamit pergi, ketika kita di sana. Bisa jadi dia cuma pura-pura pergi, tapi nyatanya kembali lagi ke rumah lewat jalan rahasia," Kristian mengemukakan pendapatnya.
"Duh! Kalian berdua ini kebanyakan nonton film deh. Buat apa juga si Moses ngelakuin hal kayak gitu? Kurang kerjaan aja, sih."
Thalita mencubit Gideon karena kesal, dugaannya dikatain sebagai akibat kebanyakan nonton film. Padahal cewek itu sudah memikirkan dugaan itu dari lama, juga menghubungkan dengan semua petunjuk yang ada.
"Jangan cubit-cubit, Sayang! Sakit nih," Gideon merajuk.
"Apa jangan-jangan Neng Deasy disembunyikan Bang Moses di rumah itu ya? Kalau ada jalan rahasia, mungkin juga kan, rumah itu punya ruang bawah tanah?" duga Kristian.
"Bisa banget, Bang. Yang jadi masalah, ruang itu ada dimana. Menurut dugaanku, ada hubungannya sama gudang dan perpustakaan," kata Thalita.
"Kok bisa gitu, Neng?"
Thalita mengeluarkan jepit rambut milik Deasy yang tadi ditemukan Gideon di gudang, dan ditemukan Thalita di perpustakaan. Gadis itu menceritakan kembali pada Kristian, bagaimana mereka berdua menemukan jepit-jepit rambut itu.
"Ini ku temukan di bawah rak buku, Bang. Bisa jadi terlepas saat Deasy sedang melawan atau gimana gitu. Bisa juga saat Deasy lewat di tempat itu."
"Sayang, masa sih kamu mau bilang, kalau Deasy bisa lewat menembus tembok? Kan di balik rak buku itu tembok?" kata Gideon.
"Abang, yang namanya ruang rahasia, pintu masuknya juga rahasia. Bisa jadi kan, pintu ruang bawah tanah itu terletak di balik tembok?" Thalita kembali kesal.
"Bener-bener udah jadi korban film deh, kalian berdua ini," gerutu Gideon.
"Udah, Neng! Abaikan saja dia itu, gak punya daya imajinasi sih."
__ADS_1
"Bener banget tuh, Bang Tian. Bang Dion gak punya daya imajinasi karena gak pernah nonton Spongebob squarepant, nontonnya sinetron burung berenang mulu, jadinya suka halu."
Tiba-tiba ponsel Thalita kembali berdering, kali ini beneran Kanjeng Mami yang menelepon. Thalita menjawab panggilan itu, setelahnya Thalita buru-buru pamit pulang.