Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 32 : Sebuah Teka-Teki


__ADS_3

Om Hans hendak mengantarkan Thalita dan mamanya pulang, setelah mereka pergi dari rumah Moses, tetapi Tante Hesti menolak, karena motor anaknya masih berada di rumah keluarga Deasy.


"Oh iya, sampai lupa aku, Mbak. Jadi ini langsung ke rumah kami dulu, ya?"


"Iya, Mas. Biar Thalita bawa motornya pulang."


Kembali hening terasa di dalam mobil yang dikendarai Om Hans itu, masing-masing penumpangnya larut dalam pikiran mereka sendiri. Tak lama, mobil yang mereka tumpangi, masuk ke halaman rumah Deasy.


Tante Anna, langsung turun dan masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa pada Tante Hesti, mama Thalita. Om Hans yang melihat kelakuan tak pantas istrinya itu, meminta maaf pada mama Thalita.


"Maafkan, kelakuan istriku ya, Mbak!"


"Iya, Mas, gapapa kok. Aku sih maklum, mungkin Jeng Anna sangat terpukul. Bagaimanapun, Deasy itu anak kalian satu-satunya, kalau yang menimpa Deasy juga menimpa Thalita, mungkin aku juga bersikap sama."


"Tapi sikapnya itu gak ku benarkan, Mbak. Mbak Hesti dan Thalita itu udah banyak membantu kami, terutama Deasy. Bisa dibilang, Deasy lebih dekat dengan Mbak dari pada dengan Anna, mamanya sendiri, pasti Mbak juga merasa kehilangan seperti kami."


"Bener banget itu, Om. Bisa dibilang Mama itu lebih sayang pada Deasy daripada Thalita kok. Sampai Thalita ragu, jangan-jangan anak kandung Mama itu Deasy, bukan Thalita," sela Thalita ketus.


"Hus!! Lambemu itu kalau ngomong sama orang tua mbok ya dijaga tho! Gak boleh kurang ajar kayak gitu! Mama gak pernah ngajarin kurang ajar kan Thalita?" tegur Tante Hesti pada anak gadisnya.


"Sudah, Mbak! Jangan dimarahi Thalita, aku maklum kok sama dia, kehilangan sahabatnya sedari kecil pasti membuatnya terpukul," Om Hans membalikkan kata-kata Tante Hesti.


Thalita mendengkus kesal, perasaan kalut karena sahabatnya hilang, membuat cewek itu mudah sekali merasa emosi. Tanpa berkata-kata lagi, Thalita pergi mengambil motornya dan mengajak sang Mama pulang.


Sampai di rumah, Tante Hesti masih saja membahas ke kurang ajaran Thalita pada Tante Anna dan Om Hans. Papa yang baru pulang kerja, menerima aduan Mama dan ikut menasehati Thalita.


"Lain kali jangan kayak gitu sama orang yang lebih tua, Tha! Nanti dikira, papa sama mama kamu gak bisa mendidik anak dengan baik. Meski kamu sedang emosi, kamu harus tetap menjaga sopan santun ya, *Ndhuk!"


"Enggeh*, Pa. Maafkan Thalita, tadi Thalita sedang khilaf! Habisnya Tante Anna seperti menyalahkan Thalita kenapa Deasy sampai hilang. Harusnya kan itu tanggung jawab dia sebagai orang tua, Pa."


"Iya, Papa ngerti kok, apa maksud kamu. Wajar saja kamu merasa marah, karena setau Papa, kamu dan mama kamu memang lebih dekat dengan Deasy dari pada orang tuanya sendiri."


"Menurut Papa, Deasy itu pergi kemana ya?"

__ADS_1


"Kamu sudah menghubungi teman-teman sekolah kalian?"


"Sudah, Pa. Tapi gak ada yang tau keberadaan Deasy. Thalita juga udah share di group kelas, group sekolah, juga group komunitas. Tapi hasilnya masih nihil."


"Sabar aja dulu, belum 24 jam juga kan? Belum bisa bikin laporan orang hilang juga."


"Itu tadi kan Tante Anna juga ngeyel mau lapor polisi, Pa. Dibilang belum bisa malah ngamuk, kan Thalita jadi gemes."


"Apa Deasy itu gak disembunyikan sama Moses? Kamu merasa ada yang aneh gak, Tha?" Mama yang dari tadi diam, ikut berdiskusi.


"Tadi kan Thalita bikin teh di dapur. Nah, waktu lewat di depan perpustakaan yang pintunya terbuka, Thalita merasa ada yang aneh, tapi gak tau apa."


"Aneh gimana?" tanya Papa.


"Ya aneh, kayak ada yang beda gitu lho, Pa. Tapi Thalita gak tau, apa yang beda itu."


"Jangan-jangan itu firasat kamu, sebagai sahabatnya Deasy, kalau hilangnya Deasy ada hubungannya dengan perpustakaan di rumah Moses," duga Mama.


"Bisa jadi, Ma. Bukan saja Thalita yang merasa aneh dengan perpustakaan di rumah itu, Bang Gideon dan Bang Kristian juga merasa aneh. Kami sering mencium asap rokok di ruangan itu, padahal tak ada seorangpun yang merokok."


"Gak ada jendela di ruang itu, Pa. Yang ada kayak semacam ventilasi di atap, yang bulat dan muter-muter kalau kena angin itu lho, Pa. Yang bahannya dari logam."


"Oh itu, Papa tau. Berarti atapnya tinggi ya?"


"Iya tinggi, Pa. Itu kan rumah bangunan lama, bergaya Eropa, jadi atap yang ruang perpus itu tinggi, mirip menara."


Papa mengangguk tanda mengerti, gambaran ruangan yang dijelaskan Thalita. Berarti memang tidak mungkin, bau asap rokok itu berasal dari luar ruangan.


"Eh, Tha. Kamu bilang itu rumah bangunan lama, kan?" Papa menemukan sebuah pemikiran.


"Iya, Pa. Memang kenapa?"


"Apa gak mungkin, ada ruang rahasia di balik dinding perpustakaan itu? Kayak yang di film-film itu lho, ada lorong rahasia di balik rak buku. Rak bukunya tinggi-tinggi?"

__ADS_1


"He em, Pa. Tinggi-tinggi rak bukunya. Malah ada kayak tangga gitu, untuk ambil buku dari rak atas. Kami juga pernah menduga sih, ada ruang rahasia kayak gitu, tapi belum kami temukan."


"Kami? Siapa aja 'kami' ini?" tanya Mama.


"Ya aku, Deasy, Bang Gideon sama Bang Kristian. Kami pernah sengaja ke rumah itu untuk mencari ruang rahasia itu, tapi belum ketemu."


"Kalian gak tanya ke Moses?"


"Enggak, Ma. Sebenarnya aku, Bang Kristian dan Bang Gideon itu sedikit curiga dengan Bang Moses, tapi kami gak enak aja sama Deasy."


"Curiga gimana?" tanya Papa.


"Bang Moses itu sedikit aneh, sikapnya sering berubah-ubah. Kayak orang lain gitu lho, Pa."


"Kayak orang lain? Maksudnya, si Moses ini seperti punya kepribadian ganda?"


"Menurut Thalita sih seperti itu, Pa. Cuma Thalita kurang begitu yakin, karena Thalita kurang dekat sama Bang Moses. Kalau ke rumah dia, Thalita lebih sering baca buku di perpustakaan. Bang Moses ini punya aturan, buku di perpustakaan gak boleh dibawa keluar, meski itu masih di dalam rumah itu."


"Hati-hati ya, Tha! Papa dengar orang seperti ini berbahaya. Dia bisa melakukan kejahatan saat jadi pribadi yang lain, dan merasa tidak pernah melakukannya."


"Iya, Pa. Thalita akan hati-hati kok, meski itu semua baru dugaan Thalita saja."


"Iya, Tha. Mama juga gak kasih ijin kalau kamu mau pergi ke rumah itu sendirian. Jangan nekad!"


"Tenang aja, Ma! Thalita juga masih ragu kalau ke sana sendirian. Nanti Thalita akan ajak Bang Gideon dan Bang Kristian."


"Bagus kalau gitu. Memangnya kamu masih ada rencana ke sana?"


"Ada dong, Ma. Thalita masih penasaran dengan rumah itu dan pemiliknya."


"Yang penting hati-hati ya, Tha!"


"Iya, Pa. Pasti."

__ADS_1


Papa mengajak anak dan istrinya istirahat, karena hari sudah malam. Besok, mereka akan dihadapkan dengan teka-teki yang sangat membingungkan.


__ADS_2