Misteri Bunga Lily

Misteri Bunga Lily
Part 49 : Pertolongan Tak Terduga


__ADS_3

"Gak bisa dibuka ya, Bang?" tanya Thalita lemah.


"Iya, Neng. Kayaknya ada yang sengaja kurung kita di lorong ini, Neng. Kita ketahuan."


"Terus gimana nih, Bang?"


"Entahlah, Neng. Kita tenangkan diri dulu, biar bisa mikir dengan baik!"


Kristian duduk di sebelah Thalita, dan membiarkan gadis itu menyender di bahunya. Cowok itu tau, gadis yang ada di sebelahnya sedang ketakutan. Bagaimana tidak, terjebak dalam lorong rahasia, bukan sesuatu yang menyenangkan. Mereka akan sulit sekali ditemukan.


"Bang? Menurut Abang, apa mungkin Deasy masih ada di rumah ini?" tanya Thalita.


"Kemungkinan itu selalu ada, Neng. Abang rasa, bisa saja Neng Deasy disembunyikan di salah satu ruangan di rumah ini. Rumah ini misterius, banyak sekali ruangan-ruangan rahasia khas rumah-rumah tua."


"Kasian sekali, kalau sampai dia disekap di ruangan yang sempit dan gelap, serta banyak laba-laba, dia phobia terhadap mahluk berkaki delapan itu."


"Kita hanya bisa berdoa, Neng, semoga Neng Deasy baik-baik saja."


"Di kamar yang tadi kita datangi, Abang sadar gak, kalau kamar itu cuma punya satu pintu, yakni pintu tembus ke kamar Bang Moses?"


"Eh, iya. Bener juga tuh Neng. Biasanya kan sebuah kamar, ada pintu utamanya ya? Itu tadi cuma ada pintu penghubung aja, kecil lagi."


"Kalau dari kamar Bang Moses, pintu itu terlihat tak terlihat tau. Berada di dalam lemari dinding pintunya."


"Eh? Masa sih, Neng?"


"Iya, Bang. Aku kan pernah masuk ke kamar Bang Moses bareng Deasy. Gak ada pintu itu. Yang ada cuma sederet lemari dinding."


"Berarti, kamar itu juga tersembunyi?"

__ADS_1


"Iya. Bik Sari saja belum tentu tau ada kamar itu."


"Tapi, kamar tadi bersih banget lho, Neng. Kalau Bik Sari gak tau, siapa kira-kira yang membersihkan kamar itu?"


"Dugaanku sih, si Pemilik rumah ini, Bang."


"Bang Moses?"


"Iya lah, siapa lagi coba? Kan cuma dia tuh, yang tau keberadaan kamar itu."


"Bener juga, Neng. Berarti, bisa saja Neng Deasy disembunyikan di kamar itu."


Thalita menoleh ke arah Kristian. Keduanya saling bertatapan dengan perasaan yang entah. Untung penerangan di tempat itu sangat minim, kalau tidak, Thalita pasti akan melihat perubahan warna di wajah cowok itu. Wajah itu terasa panas, pastilah warnanya sudah memerah seperti udang rebus.


"Dimana kira-kira, Bang?" tanya Thalita.


Thalita menutup mulutnya dengan tangan. Ada rasa sesak di hatinya, kalau benar Deasy memang disembunyikan di dalam salah satu lemari itu. Deasy phobia gelap dan ruangan sempit juga, selain laba-laba.


Waktu kecil, Deasy dan Thalita sering main petak umpet. Salah satu tempat sembunyi favorit, adalah lemari. Deasy kecil masuk ke dalam lemari agar tidak mudah ditemukan oleh Thalita yang berjaga. Benar saja, Thalita tak dapat menemukan Deasy sampai berjam-jam. Karena lelah mencari, Thalita memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Deasy tertidur di dalam lemari, karena si penjaga tak kunjung menemukan dirinya. Gadis kecil itu terbangun, saat hari sudah gelap, dan tak ada cahaya sedikitpun yang masuk ke dalam lemari. Tiba-tiba ada kaki-kaki kecil yang merambat di tubuh Deasy, seekor laba-laba yang lumayan besar. Sejak itu, gadis itu phobia terhadap ruang sempit, gelap, dan laba-laba.


"Kita harus cepat menemukan dia, Bang!"


"Gimana caranya, Neng? Sekarang ini, kita kan masih terjebak juga di tempat ini. Kita belum tau, kapan bisa keluar."


"Oke, tunggu, Bang!"


Thalita mengambil ponsel miliknya, dan mencari nomer kontak seseorang. Kemudian gadis itu sudah sibuk menelepon.

__ADS_1


"Iya, halo Bang Gideon. Sekarang Abang ada dimana?" Thalita sedang menelepon pacarnya. Entah kenapa, Kristian merasa sedikit cemburu.


"Jadi gini, Bang. Abang ke rumah Bang Moses sekarang! Pura-pura saja pinjem jas sama dasi untuk keperluan wisuda. Jangan protes mulu, Bang! Ini kondisinya darurat, nanti ku ceritakan."


"SUDAH KU BILANG JANGAN PROTES! KALAU ABANG GAK MAU BANTU, YA SUDAH. AKU BISA CARI BANTUAN YANG LAIN. BYE!"


Thalita tampak sangat emosi. Disaat genting seperti ini, Gideon sibuk dengan curiga dan cemburunya yang gak ngotak. Karena Kristian sedang tak ada di kost, Gideon menuduh Thalita pergi bersama cowok itu. Meski pada kenyataannya seperti itu, seharusnya Gideon mau mendengarkan Thalita, tidak mau menangnya sendiri seperti itu.


"Sudah, Neng! Sekarang bukan waktunya untuk menangis ya! Lupakan dulu si Kutil Onta itu. Kita harus cari jalan keluar dari tempat ini, dan menyelamatkan Deasy."


Thalita mengusap air matanya kasar, menggunakan punggung tangan. Benar kata Kristian, sekarang bukan waktunya untuk menangis. Nanti, setelah berhasil keluar dari tempat ini, Thalita akan membicarakan hubungannya dengan sang pacar, Gideon.


Kembali Thalita mengotak-atik ponselnya, mencari siapa yang layak untuk dimintai pertolongan. Tiba-tiba, benda yang dipegang Thalita berdering, papanya menelepon.


"Halo, Pa. Thalita gak bisa bilang dimana Thalita sekarang. Yang jelas, Thalita terjebak di salah satu ruangan di rumah Bang Moses."


Gadis itu sedang mendengar lawan bicaranya di telepon.


"Bawa polisi? Oke, terserah Papa aja kalau begitu. Tapi ini ceritanya rumit, karena Thalita masuk ke rumah ini dengan diam-diam, gimana tuh, Pa?"


"Oke. Terserah Papa saja kalau begitu. Nanti minta polisi mengeledah kamar Bang Moses. Di dalam lemari dinding, ada pintu menuju ruangan tempat Thalita terjebak."


"Iya, Pa. Thalita tunggu ya. See you Papa. Love you."


"Kita selamat, Bang. Thalita yakin, Papa akan dapat menemukan kita."


"Iya, Neng, semoga."


Kembali Kristian dan Thalita terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Thalita sedang sangat kesal dengan Gideon, hingga memblokir nomer cowok itu. Kristian merasa entah dengan pikirannya. Bahkan sebuah pemikiran gila melintas di benaknya, Kristian berharap Gideon dan Thalita putus.

__ADS_1


__ADS_2