
Sesampainya di rumah, Ibra langsung turun dari dalam mobil dan pergi begitu saja meninggalkan Virlie masuk ke dalam kamarnya.
Virlie tahu kalau saat ini Ibra sedang marah, ditambah dia juga malu karena Kevin menghinanya dan mempermalukan Ibra di depan teman-temannya.
Virlie pun masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil sebuah paper bag dari dalam lemarinya. Lalu Virlie pun menuruni anak tangga dan melangkahkan kakinya menuju kamar Ibra.
Tok..tok..tok..
"Virlie, ada apa?" tanya Ibra.
Virlie menyodorkan paper bag itu kepada Ibra...
"Apa ini?"
"Buka saja, jangan banyak omong."
Ibra pun membuka paper baginya dan ternyata isinya, sebuah kemeja dan juga celana.
"Ini buat aku?" tanya Ibra tidak percaya.
"Bukan, buat Pak Rohman."
"Lah, kalau buat Pak Rohman, ngapain kamu kasih ini ke aku? kamu suruh aku memberikannya kepada dia?"
Virlie pun menjitak kening Ibra dengan gemasnya membuat Ibra meringis.
"Aku kasih itu ke kamu, berarti tandanya itu untuk kamu, masih saja nanya. Heran deh," kesal Virlie.
"Hehehe...maaf, soalnya kan, aku gak pernah dikasih kado sama perempuan. Apa jangan-jangan ini sebuah kode kalau kamu nembak aku," seru Ibra.
Lagi-lagi Virlie terlihat kesal, dia menginjak kaki Ibra dengan sangat keras membuat Ibra mengasuh kesakitan.
"Wadaw, sakit Virlie," keluh Ibra.
"Makanya jadi orang itu jangan kepedean, memang aku selalu membuatkan baju untuk semua orang dan sekarang giliran kamu," kesal Virlie.
"Hehehe...kirain kamu mau nembak aku," sahut Ibra dengan cengirannya.
"Ckckck....maunya."
Virlie pun dengan cepat pergi meninggalkan Ibra yang terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Keesokan harinya....
Malam ini adalah di mana acara ulang tahun Kevin yang diselenggarakan di sebuah hotel mewah bintang lima.
__ADS_1
Ibra sudah menunggu Virlie di samping mobil dengan memainkan ponselnya, hingga tidak lama kemudian Virlie datang dengan memakai gaun yang terlihat anggun dan elegan.
Gaunnya memang panjang sampai menutup kaki, namun sayang punggungnya terekspose membuat punggung Virlie yang putih mulus itu terlihat tanpa ada penghalang lagi dan rambutnya di ikat satu dengan membawa tas tangan yang tentunya limited edition dan harganya selangit.
Ibra sampai menganga melihat penampilan Virlie, begitu pun dengan Virlie yang terlihat menyunggingkan senyumannya saat Ibra memakai baju buatannya sendiri.
"Ngapain lihatin aku kaya gitu? memangnya ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Virlie dingin.
"Iya, salah banget."
"Salahnya di mana?"
"Semuanya...kamu memakai baju terlalu terbuka, bisa tidak kamu kalau membuat baju itu yang tidak terbuka seperti itu."
"Memangnya kenapa?"
"Ya karena kamu terlihat seksi, dan nanti kamu akan menjadi pusat perhatian para playboy di sana apalagi si Kevin," kesal Ibra.
"Sudah ah, kamu itu ribet banget jadi sopir. Baru pertama kali ini ada sopir yang selalu menceramahi majikannya," kesal Virlie.
Virlie pun segera masuk ke dalam mobilnya dan tentu saja Ibra pun masuk dan mulai melajukan mobilnya.
"Pokoknya nanti di sana kamu jangan sampai minum atau makan yang diberikan si Kevin atau pun pria yang lainnya."
"Kenapa?"
"Bawel banget sih kamu, aku juga tahu dan bisa jaga diri karena aku bukan perempuan yang bodoh."
Ibra tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan dia pun akhirnya memilih diam. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Virlie pun sampai di depan halaman hotel dan Ibra segera memarkirkannya.
Virlie keluar dari dalam mobilnya dan berjalan masuk ke dalam hotel dengan diikuti oleh Ibra dari belakang.
Virlie dan Ibra pun segera menuju ballroom tempat dilaksanakan pesta, di saat Virlie membuka pintu, semua mata tertuju kepada Virlie.
"Ya ampun, Virlie cantik banget ya."
"Kenapa kemarin aku tidak menemukan gaun yang seperti Virlie sih?"
Begitulah celetukan-celetukan yang terdengar di telinga Virlie, dan Virlie hanya bisa menyunggingkan senyumannya. Sementara itu, Ibra tampak tidak suka melihat para laki-laki yang menatap Virlie sampai tidak berkedip.
Ibra semakin mendekatkan tubuhnya kepada Virlie, malam ini dia akan menjadi bodyguard jangan sampai ada laki-laki yang menyentuh Virlie.
Kevin tampak menyunggingkan senyuman, saat melihat kedatangan Virlie bahkan Kevin sampai tidak bisa mengedipkan matanya melihat penampilan Virlie malam ini.
"Selamat malam cantik, bisakah kamu menemani aku meniup lilin di depan sana," seru Kevin.
Semua orang tampak menatap ke arah Virlie, bahkan kedua orangtua Kevin pun sudah menyunggingkan senyumannya kepada Virlie.
__ADS_1
"Oke."
Ibra sampai melotot mendengar jawaban Virlie.
"Kalau begitu, mari ikut denganku," seru Kevin dengan menyodorkan tangannya ke arah Virlie.
"Tidak usah pegangan tangan, aku bisa berjalan sendiri," seru Virlie dingin.
Virlie pun berjalan duluan meninggalkan Kevin, sedangkan Kevin walaupun terlihat kesal, tapi dia tersenyum karena Virlie mau mengikuti keinginannya.
"Sorry bro, kali ini gue menang," seru Kevin dengan menepuk pundak Ibra.
Ibra hanya bisa menahan kesal melihat Virlie dan Kevin, sedangkan kedua orangtua Kevin tampak bahagia dengan kedekatan putranya dengan putri Dion itu.
Saking kesalnya, Ibra pun memilih untuk pergi ke toilet, dia tidak mau melihat kedekatan Virlie dan Kevin. Setelah acara tiup lilin dan potong kue, Kevin tampak mengedipkan sebelah matanya ke arah seseorang dan dengan sigap seseorang itu membawakan minuman untuk Virlie.
Virlie celingukan mencari keberadaan Ibra. "Si Ibra ke mana sih? kok, menghilang tanpa kasih tahu aku," gumam Virlie.
"Nona, silakan minum."
"Ah iya, terima kasih."
Virlie pun mengambil minuman itu dan langsung meneguknya, awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi beberapa menit kemudian kepala Virlie terasa sangat pusing dan matanya pun terlihat kunang-kunang.
Virlie hendak jatuh tapi Kevin dengan cepat menahannya.
"Kamu tidak apa-apa, Vir?"
Virlie hendak membuka mulutnya, tapi sayang kesadarannya keburu hilang dan jatuh tak sadarkan diri dipelukan Kevin. Kevin langsung mengangkat tubuh Virlie tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.
"Sepertinya acara tiup lilin dan potong kuenya sudah selesai, aku harus kembali takutnya Virlie mencari ku," gumam Ibra.
Ibra pun kembali ke tempat pesta, dia tampak celingukan mencari keberadaan Virlie.
"Kalian lihat Virlie, gak?" tanya Ibra.
"Tidak, bukanya tadi sama kamu ya, Bra," sahut Amara.
"Aku baru kembali dari toilet."
Perasaan Ibra sudah mulai tidak enak, dia terus saja mencari keberadaan Virlie. Ibra ingin menghubungi Virlie, namun sayang Ibra tidak tahu nomor Virlie karena selama dia menjadi sopir Virlie, dia sama sekali tidak tahu nomor Virlie.
"Sial, Virlie ke mana?" gumam Ibra khawatir.
Sementara itu Kevin membawa Virlie ke sebuah kamar hotel, Kevin merebahkan tubuh Virlie yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Akhirnya, malam ini aku bisa mendapatkannya Virlie dan kamu tidak akan bisa lepas dariku," seru Kevin dengan senyumannya.
__ADS_1