Mrs. Arrogant

Mrs. Arrogant
Bab 25 Kesepakatan Pra Nikah


__ADS_3

Mood Virlie benar-benar sangat buruk hari ini, siapa pun yang menyenggolnya pasti akan kena amukan Virlie.


"Daddy dan Mommy sungguh-sungguh keterlaluan, kenapa mereka mau menikahkan ku dengan si Ibra? memangnya aku sudah melakukan apa? memangnya aku sudah hamil apa, pacaran aja sama si Ibra kagak, main nikah-nikahkan saja," batin Virlie.


Selama melakukan kuliah, Virlie tidak fokus karena pikiran dia hanya kepada keputusan kedua orangtuanya yang dirasa tidak masuk akal sama sekali.


Sementara itu, di kantor The Black Hunter, Julian dengan terburu-buru masuk ke dalam ruangan Dion bahkan dia lupa izin saking paniknya.


"Bos, kamu yakin mau menikahkan Virlie dengan sopir itu?" seru Julian sembari duduk di hadapan Dion.


Dion yang sedang memeriksa kasus yang masuk langsung mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Julian.


"Kamu lupa, bagaimana cara masuk yang benar ke dalam ruangan ku?" tegas Dion.


"Ah iya, lupa."


Julian pun kembali keluar dan mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Bos, kamu jangan memutuskan sesuatu yang nantinya akan membuat Virlie tidak nyaman," seru Julian yang kembali duduk di hadapan Dion.


"Tidak nyaman kenapa?" tanya Dion santai.


"Virlie itu masih kuliah Bos, tadi dia menghubungiku dan dari nada bicaranya dia tampak sedang sedih. Apa Bos akan tega melakukan semua ini kepada Virlie?" kesal Julian.


"Jangan ikut campur urusanku, ternyata bertahun-tahun kamu bekerja denganku, masih saja tidak mengerti dengan cara berpikirku," seru Dion.


"Maksudnya apa?"


Dion pun mengambil sebuah map dari dalam lacinya dan melemparkannya kepada Julian, untung Julian cepat tanggap jadi dia langsung menangkap map yang melayang hendak menghantam wajah tampannya itu.

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya lagi, Julian pun membuka map-nya dan membacanya dengan sangat teliti.


"Hendri Patterson? bukannya orang ini yang saat ini sedang kita selidiki?" seru Julian.


"Iya, aku dengar dari orang suruhanku kalau anaknya yang bernama Kevin dan kuliah bersama Virlie, setiap hari selalu mengganggu Virlie dan berusaha mendekati Virlie, bahkan di acara ulang tahunnya tadi malam, si Kevin berusaha melecehkan Virlie tapi si Ibra yang sudah menolong Virlie. Bukan tanpa alasan aku menjodohkan Virlie dan Ibra, kebetulan tadi malam ada kejadian yang kebetulan sekali melancarkan rencana perjodohan Virlie dan Ibra," sahut Dion.


"Apa tujuan Bos merencanakan pernikahan Virlie dan Ibra? mereka itu masih kuliah Bos, masa depan mereka masih panjang," seru Julian.


Julian tidak terima kalau Dion memaksa Virlie untuk menikah, sedangkan Virlie menghubunginya supaya bisa membujuk Dion untuk membatalkan pernikahan Virlie dan Ibra.


Julian sudah menganggap Virlie sebagai putrinya sendiri, begitu pun Virlie yang sudah menganggap Julian sebagai tempat mengadu jika terjadi masalah kepada dirinya.


Dion pun bangkit dari duduknya, lalu berdiri di depan jendela dengan kedua tangan dia masukan ke dalam kantong celananya.


"Keluarga Patterson itu lumayan berbahaya, mereka akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku lihat Ibra anak yang baik dan dari sorot matanya dia menyukai Virlie, aku menikahkan mereka karena aku khawatir akan Virlie takutnya Kevin akan melakukan hal yang diluar batas."


Dion menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Kamu juga tahu, bagaimana Virlie? dia paling tidak suka kalau diawasi bahkan aku sudah beberapa kali menawarkan pengawalan untuk dia tapi dia tidak mau. Padahal aku mengirim pengawal bukan tanpa alasan juga, di luaran sana bisa saja banyak orang yang mengincar aku karena banyak sekali orang-orang penting yang berpengaruh yang sudah kita tangkap dan itu bukan berarti aman, tapi justru aku takut anak-anakku ketahuan dan menjadi kesempatan untuk mereka membalaskan dendamnya kepadaku."


"Ibra anak yang baik, dia selalu melindungi Virlie dan juga perhatian kepada Virlie, cuma saja aku lihat pergerakan Ibra sedikit terbatas karena status dia yang hanya sebagai sopir membuat dia masih segan kepada Virlie. Maka dari itu, aku sama Vale merencanakan semua ini, menikahkan Ibra dan Virlie supaya Ibra tidak merasa segan lagi kalau menolong dan menasehati Virlie," sambung Dion.


"Oh begitu, aku pikir Bos menikahkan Virlie hanya karena kejadian yang Bos lihat, seperti apa yang diceritakan Virlie kepadaku."


"Kejadian semalam hanyalah alasan saja untuk memuluskan rencana aku dan Vale, karena aku tahu kalau Virlie dan Ibra itu tidak mungkin melakukan hal seperti itu."


Keduanya tampak terdiam sebentar sampai pada akhirnya, Julian pamit dan keluar dari ruangan Dion.


Sebenarnya, tanpa sepengetahuan anak-anaknya, Dion mengirim orang suruhan untuk memantau pergerakan Virlie dan Vero, mereka saja yang tidak sadar kalau sedang diawasi karena orang suruhan Dion menyamar dan berbaur dengan yang lainnya.


Waktu pulang pun tiba....


"Ke butik saja."

__ADS_1


"Oke."


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Virlie pun sampai di butiknya.


"Kamu ikut ke ruangan ku," seru Virlie dingin.


Ibra hanya bisa mengikuti langkah Virlie tanpa banyak bicara apa pun, sesampainya di ruangan Virlie, Ibra pun duduk di hadapan Virlie.


"Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."


"Kesepakatan apa?" tanya Ibra bingung.


"Tadi Om Panjul menghubungi aku, dan dia sama sekali tidak bisa membujuk Daddy dan itu artinya pernikahan kita akan tetap terlaksana karena keputusan Daddy tidak bisa dirubah. Jadi, aku menyetujui pernikahan ini, tapi dengan syarat. Pertama, kamu jangan pernah banyak menuntut kepadaku karena aku tidak suka di kekang atau pun diatur oleh siapa pun, kedua, walaupun nantinya kita sudah menjadi sepasang suami istri jangan sekali-kali kamu menyentuhku atau pun cari-cari kesempatan karena aku menyetujui pernikahan ini hanya semata-mata untuk menuruti apa yang jadi keinginan Mommy dan Daddy, paham kamu!" tegas Virlie.


"Bagaimana kalau aku khilaf?" seru Ibra.


"Pokoknya jangan sampai khilaf, anggap saja ini pernikahan bohong-bohongan. Tapi kalau sampai Mommy dan Daddy tahu atau kamu mengadu kepada mereka, kamu akan tahu akibatnya," ancam Virlie.


Ibra tampak terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Ibra memang terlanjur menyukai Virlie, dan ini adalah kesempatan dia untuk tetap berada di samping Virlie walaupun Virlie tidak menyukainya.


"Baiklah," sahut Ibra.


"Bagus, dan satu lagi, pernikahan ini hanya sampai satu tahun saja sampai kita lulus kuliah setelah itu aku akan bicara kepada Daddy dan Mommy supaya aku bisa bercerai denganmu."


Deg....


Entah kenapa ucapan Virlie barusan sangat menyakiti hatinya.


Virlie mengulurkan tangannya kepada Ibra. "Deal...."


Ibra tidak punya pilihan lain, akhirnya Ibra pun membalas uluran tangan Virlie.


"Oke, deal."

__ADS_1


Virlie tampak menyunggingkan senyumannya, sedangkan Ibra tampak termenung, entah apa yang dia rasakan saat ini.


__ADS_2