
Sesampainya di butik, semuanya sudah rapi kembali tapi gaun yang rusak dan sobek masih ada di sana.
Virlie memasuki butik dan melihat-lihat gaun yang rusak itu.
"Astaga, bagaimana ini? ini gaun pesanan semuanya dan besok semuanya akan diambil, bagaimana aku bisa menggantinya," gumam Virlie dengan lemas.
"Nona, tiga gaun pesanan semuanya sobek dan barusan pemesan gaun bilang, kalau besok mereka akan ke sini mengambil gaun mereka," seru Sinta.
Virlie masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, dia terdiam dan melamun hingga tidak terasa airmata Virlie pun menetes membuat Ibra merasa kasihan kepada Virlie.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? mana mungkin aku bisa memperbaikinya dalam waktu semalam," seru Virlie dengan mengusap wajahnya secara kasar.
"Kamu tinggal ngomong jujur saja kepada klient kamu kalau kamu lagi dapat musibah," seru Ibra.
"Gampang banget kamu ngomong seperti itu, Ibra. Kamu tahu, mereka sudah lama memesan gaun itu untuk hari spesial mereka dan sekarang di saat hari spesial mereka sudah di depan mata, tiba-tiba gaunnya tidak bisa dipakai karena rusak. Aku tidak pernah mengecewakan klientku, apa yang harus aku katakan kepada mereka? pasti mereka akan marah besar," sahut Virlie.
Virlie pun menekan tombol di telepon butiknya. 📞"Mba Sinta, tolong bawakan 3 gaun yang rusak itu."
Virlie menutup sambungan teleponnya, tidak lama kemudian Sinta dan kedua karyawan yang lainnya datang dengan membawa 3 gaun itu.
Virlie melihat kerusakan pada gaunnya, ketiganya memang sobek tapi untunglah sobeknya tidak terlalu parah dan masih bisa diperbaiki.
"Kita perbaiki saja, sepertinya ketiga gaun ini bisa diperbaiki," seru Virlie.
"Baik Nona."
Virlie dan karyawan-karyawannya pun mulai bekerja memperbaiki gaun-gaun itu, dengan telaten dan cekatan Virlie menjahit sedikit demi sedikit gaun yang sobek dan membenarkan Payet yang rusak juga.
Ibra memperhatikan kinerja Virlie, ternyata Virlie memang perempuan berbakat bahkan dia bisa berpikir cepat untuk memperbaiki gaun itu.
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam dan Virlie serta karyawan yang lain pun masih sibuk dengan gaun-gaun itu.
Ibra berinisiatif untuk membelikan makanan, dia pun keluar dari butik dan mencari makanan. Ibra membelikan beberapa nasi Padang untuk semuanya termasuk untuk dirinya dan Virlie.
"Waktunya makan malam, ayo semuanya makan malam dulu," seru Ibra.
"Kalian makan saja dulu," seru Virlie.
"Tapi Nona juga harus makan," seru Sinta.
__ADS_1
"Iya nanti aku makan, kalian duluan saja."
Sinta dan karyawan yang lainnya pun mulai makan nasi Padang yang dibelikan oleh Ibra. Ibra menghampiri Virlie yang sedang serius menyelesaikan gaunnya.
"Vir, makan dulu sudah waktunya makan malam."
"Nanti saja, kalau kamu mau makan, makan saja duluan," sahut Virlie dengan masih fokus ke gaunnya.
Ibra membuka bungkusan nasi Padang itu, kemudian mengambil sendok dan menyodorkannya kepada Virlie.
"Ayo makan dulu, nanti kamu sakit."
Virlie menghentikan kegiatannya dan menatap Ibra dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Tidak, kamu makan saja."
"Cepat buka mulutnya, aku tidak akan makan kalau kamu tidak makan."
Virlie menghembuskan napasnya, hingga akhirnya dengan terpaksa Virlie pun membuka mulutnya. Ibra menyuapi Virlie, sedangkan Virlie masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Mba, apa Nona Virlie pacaran ya sama Mas Ibra?" bisik salah satu karyawan.
"Bukan pacaran, mereka suami istri sudah menikah," sahut Sinta dengan berbisik juga.
Virlie terus saja bekerja tanpa henti, dia ingin cepat selesai karena dia tidak mau sampai mengecewakan kliennya. Begitu juga dengan Ibra yang terus saja menyuapi Virlie.
Virlie menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Ibra.
"Kamu terus aja nyuapin aku, sementara kamu tidak makan," seru Virlie.
"Gak apa-apa, kamu aja duluan masalah aku mah gampang," sahut Ibra.
Virlie mengambil sendok di tangan Ibra, dan memberikannya kepada Ibra.
"Ayo buka mulutnya, aku gak mau ya sampai Mommy dan Daddy mengatakan kalau aku istri yang jahat karena membiarkan suaminya kelaparan," ketus Virlie.
Ibra tampak menahan senyumannya, tanpa sadar Virlie menyebut dirinya seorang istri dan Ibra suaminya.
"Ayo buka mulutnya, ngapain malah senyum-senyum gak jelas? kalau gak mau ya sudah, aku lanjut kerja saja," kesal Virlie.
__ADS_1
Virlie hendak menyimpan kembali sendoknya tapi Ibra menahannya dan dengan cepat Ibra mengarahkan tangan Virlie untuk menyuapinya.
"Enak banget."
Ibra masih memegang tangan Virlie, untuk sesaat mereka berdua saling pandang satu sama lain hingga akhirnya Virlie melepaskan tangan Ibra dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sudah, kamu makan sendiri saja aku mau lanjutkan pekerjaan aku dulu."
Virlie pun kembali serius dengan pekerjaannya, dan semua karyawan juga kembali bekerja membantu Virlie.
Jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam...
"Kalian pulang saja, ini sudah sangat malam," seru Virlie.
"Tapi Nona, masih ada satu gaun lagi yang harus diperbaiki," seru Sinta.
"Gak apa-apa, ini aku saja yang kerjakan kasihan sudah malam. Nanti aku kasih bonus untuk kalian semua, jadi lebih baik sekarang kalian pulang saja dan terima kasih sudah membantu aku," seru Virlie.
Semuanya saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya mereka pun pulang.
"Ibra, jika kamu mau pulang juga, pulang saja karena aku mengerjakan ini kemungkinan sampai pagi," seru Virlie dengan masih fokus kepada pekerjaannya.
"Memangnya kamu pikir, aku akan tega membiarkan istriku bekerja sendirian di sini? walaupun aku tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa menemanimu," sahut Ibra.
"Terserah kamu saja."
Virlie mengirim pesan kepada Daddynya supaya jangan khawatir karena dia bisa mengatasinya.
"Bagaimana Dad, apa ada kabar dari Virlie?" tanya Mommy Valerie cemas.
"Dia ada di butik bersama Ibra, katanya dia mau menyelesaikan gaun yang rusak," sahut Daddy Dion.
"Itu anak kurang ajar sekali menyuruh orang untuk menghancurkan butik Virlie, memangnya dia pikir dia siapa?" geram Mommy Valerie.
"Anak itu anaknya Charlie Chandiago, aku sudah menyuruh Julian untuk menyelidiki siapa Charlie Chandiago, soalnya aku belum tahu siapa dia dan namanya juga terasa asing untukku."
"Awas saja kalau dia sampai membuat anakku celaka," geram Mommy Valerie.
Waktu sudah menunjukan pukul 24.00 malam, dan pekerjaan Virlie belum selesai juga. Virlie sudah menguap terus tandanya dia sudah sangat ngantuk, tapi Virlie berusaha membuka matanya walaupun kadang-kadang matanya tertutup saking ngantuknya.
__ADS_1
Ibra secara diam-diam memotret Virlie dan merekam videonya membuat Ibra terkekeh dengan tingkah Virlie yang menurutnya lucu.
Tapi dalam hatinya, Ibra juga merasa kasihan karena Virlie harus bekerja keras untuk memperbaiki gaun yang rusak dan untung saja besok kuliah libur.