
Mommy Valerie duduk di samping Virlie dan menggenggam erat tangan anaknya itu, sedangkan Daddy Dion dan Ibra duduk di sofa tanpa bicara sepatah kata pun.
Malam pun tiba....
Ceklek....
"Bos, petugas Bandara sudah menahan Charlie dan keluarganya. Dugaanmu memang benar, mereka akan melarikan diri menuju Belanda dan aku sudah menghubungi Kepolisian untuk mengepung mereka," seru Julian.
"Bagus, ayo kita ke sana," sahut Daddy Dion.
Daddy Dion pun bangkit dari duduknya. "Sayang, kamu jaga Virlie dulu ya. Ibra, kamu temani Mommy kamu."
"Baik Dad."
Daddy Dion pun segera pergi bersama Julian menuju Bandara.
Sementara itu di Bandara....
"Kalian apa-apaan, kenapa kami ditahan seperti ini?" bentak Charlie.
"Maaf Tuan, tunggu sebentar lagi," seru petugas Bandara.
"Bagaimana ini Pa?" seru Angela khawatir.
"Tenang sayang, kita akan segera pergi dari sini."
Setelah lama menunggu, Charlie dan keluarga pun merasa kesal hingga Charlie pun mengajak semuanya untuk keluar dari ruangan itu secara paksa.
"Ayo, kita keluar saja!" ajak Charlie.
"Brengsek mereka, sepertinya ada sesuatu yang mereka rencanakan," sahut Kevin.
Charlie dan keluarga pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu tapi di saat Charlie membuka pintu, Daddy Dion, Julian, dan polisi sudah berdiri di sana membuat semuanya terkejut.
"Mau ke mana kalian? mau kabur?" seru Daddy Dion dengan senyuman sinisnya.
"Kurang ajar, jadi ini semua kerjaan kalian?" geram Charlie.
"Bawa tiga orang ini Pak, dan jebloskan mereka ke dalam penjara sampai mereka membusuk di sana," seru Daddy Dion dingin.
"Tidak, aku tidak mau di penjara Pa," rengek Angela.
"Aku saja yang di penjara, jangan bawa-bawa Kevin dan Angela karena mereka tidak tahu apa-apa," seru Charlie.
__ADS_1
Daddy Dion mencengkram baju Charlie, wajahnya tampak memerah menahan emosi yang memuncak.
"Virlie pun tidak tahu apa-apa, urusan kamu hanya denganku tapi kenapa kamu menyiksanya sampai anakku babak belur seperti itu!" bentak Daddy Dion.
Semuanya hanya bisa diam, tanpa disangka Mama Angela menghampiri Dion dan memukuli tubuh Daddy Dion dengan deraian airmata.
"Kalian jahat, sudah membunuh Kakakku sampai-sampai Jesika dan Mamanya depresi dan memilih bunuh diri, kalian memang orang-orang jahat!" teriak Mama Angela dengan terus memukul tubuh Daddy Dion.
Daddy Dion semakin emosi, dia mendorong tubuh istri Charlie sampai-sampai dia terjungkal dan tersungkur ke lantai.
"Kamu jangan pernah menyalahkan orang lain, Kakak kamu sendiri yang sudah memulainya. Sekarang kalian tahu kan, siapa aku? jadi jangan coba-coba mengusik keluargaku lagi!" bentak Daddy Dion.
"Pak bawa ketiga orang itu," seru Julian.
Polisi pun membawa Charlie, Kevin, dan Angela ke kantor polisi. Daddy Dion dan Julian pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Virlie, sayang?"
"Virlie baik-baik saja kok, dia saat ini masih tertidur mungkin efek obat yang diberikan oleh Dokter," sahut Mommy Valerie.
"Mommy, Daddy, lebih baik sekarang kalian pulang saja istirahat, Virlie biar Ibra yang jaga."
"Kamu yakin, Ibra?"
"Iya Mom."
"Tolong jaga Virlie, Ibra."
"Iya Daddy."
Mommy Valerie dan Daddy Ibra pun memutuskan untuk pulang, Ibra pun duduk di samping Virlie diperhatikan wajah Virlie yang penuh dengan luka itu, lalu Ibra pun menggenggam tangan Virlie.
"Maafkan aku Virlie, aku memang suami yang tidak berguna karena tidak bisa menjaga istriku sendiri," gumam Ibra.
Semalaman Ibra tampak terdiam di samping Virlie, entah apa yang sedang Ibra pikirkan.
***
Keesokan harinya....
Virlie pun mulai mengerjapkan matanya, Virlie melihat sekelilingnya dan tatapan Virlie berhenti kepada sosok pria yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan sulit dimengerti.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga," seru Ibra.
__ADS_1
"Aku ada di mana?"
"Kamu ada di rumah sakit."
Sejenak Virlie dan Ibra tampak terdiam....
"Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjaga kamu sampai-sampai kamu terluka seperti ini," seru Ibra memecah kesunyian.
Ibra mulai menghembuskan napasnya secara perlahan.
"Semalaman aku sudah memikirkannya, dan aku putuskan untuk mengikuti semua keinginan kamu. Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang sangat menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan lagi melihat perempuan yang aku cintai menderita karena dipaksa hidup denganku. Aku mencintaimu Virlie, tapi aku tidak mau menjadi penghalang untuk kamu meraih cita-cita kamu. Jadi, raihlah cita-citamu semoga kamu sukses dan menjadi seorang designer terkenal."
Virlie merasa terkejut dengan ucapan Ibra yang tiba-tiba seperti itu.
"Lebih baik sekarang kita jalani hidup kita masing-masing, menunggu satu tahun itu terlalu lama dan aku tahu kamu ingin bercerai dari kemarin-kemarin dan sekarang aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Anggap saja aku pengecut, tapi kamu tenang saja aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu dan aku juga akan selalu mencintaimu," seru Ibra dengan senyumannya.
Ibra berusaha tersenyum walaupun dalam hatinya begitu sangat sakit melepaskan cinta pertamanya itu. Tapi, Ibra juga tidak mau egois mengekang Virlie dan menjadi penghalang untuk Virlie menggapai cita-citanya.
Ibra pun bangkit dari duduknya. "Selamat tinggal Virlie, terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku walaupun itu sangat singkat tapi aku merasa sangat bahagia bisa dekat denganmu. Semoga kamu bahagia, kalau begitu aku pulang dulu nanti biar aku yang jelaskan semuanya kepada orangtuamu dan juga orangtuaku."
Mereka tidak sadar, kalau dari tadi Mommy Valerie dan Daddy Dion berdiri di depan pintu ruangan rawat Virlie dan mendengarkan semua percakapan keduanya.
Ibra membuka pintu, dan betapa terkejutnya Ibra saat melihat kedua mertuanya sudah ada di sana. Ketiganya saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Daddy Dion menepuk pundak Ibra.
"Maafkan anak Daddy karena sudah menyakitimu."
"Tidak Daddy, Virlie tidak pernah menyakiti Ibra tapi Ibra yang salah karena terlalu memaksakan cinta Ibra."
Mommy Valerie meneteskan airmata dan langsung memeluk Ibra.
"Maafkan kami karena sudah memaksa kalian untuk menikah dan hidup bersama."
"Tidak Mommy, kalian tidak salah."
Mommy Valerie melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Ibra.
"Virlie memang masih belum dewasa, dia masih manja, jadi memang untuk saat ini lebih baik kalian berpisah dulu daripada nantinya kalian saling menyakiti karena Mommy yakin, kalau kalian berjodoh Allah akan menyatukan kalian kembali tidak peduli seberapa lama kalian berpisah."
"Iya Mommy, kalau begitu Ibra mau minta izin untuk mengambil barang-barang Ibra di rumah."
Mommy Valerie menganggukkan kepalanya, Ibra pun merogoh kantong celananya dan menyerahkan kunci mobil Virlie kepada Daddy Dion.
"Daddy, ini kunci mobil Virlie, Ibra kembalikan kepada Daddy."
__ADS_1
Daddy Dion pun menerimanya dengan perasaan sedih, hingga akhirnya Ibra pun pamit dan sebelum pamit, dia tidak lupa mencium punggung tangan Mommy Valerie dan Daddy Dion.
Ibra mulai meninggalkan rumah sakit, Ibra pun masuk ke dalam taksi. Selama dalam perjalanan Ibra tampak melamun, tanpa sadar airmata Ibra pun menetes tapi dengan cepat Ibra menghapusnya. Begitu pun dengan Virlie, airmata Virlie tiba-tiba menetes. Entah kenapa hati Virlie sakit mendengar kata-kata Ibra, padahal dari awal dia sendiri yang ingin berpisah dengan Ibra.