
Ibra sangat menyesal sudah mengikuti hawa na*sunya yang berakhir dengan kemarahan Virlie. Akhirnya dengan langkah gontai, Ibra pun mengambil tas ranselnya dan keluar dari kamar Virlie.
Ibra menuruni anak tangga dengan wajah yang sedih, dan itu bisa terlihat oleh Mommy Valerie yang saat ini sedang asyik menonton tv.
"Ibra, kamu mau ke mana?" tanya Mommy Valerie.
"Ibra mau pulang sebentar Mommy, soalnya Ibra rindu kepada Ayah dan Bunda."
"Kamu tidak sedang bertengkar dengan Virlie, kan?"
"Ah, tidak Mommy, seriusan Ibra hanya rindu saja kepada kedua orangtua dan adik Ibra."
"Ya sudah kalau begitu, salam ya buat kedua orangtuamu."
"Iya Mom, kalau begitu Ibra pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ibra pun segera meninggalkan rumah Virlie, tapi Mommy Valerie melihat kalau Ibra dan Virlie sedang ada masalah.
Ibra segera memesan taksi online, setelah menunggu beberapa saat, taksi online pun datang dan Ibra segera masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan, Ibra tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Dasar bodoh-bodoh, kenapa aku bisa sampai khilaf sih, kalau begini caranya Virlie bukannya akan jatuh cinta kepadaku tapi justru sebaliknya, Virlie akan membenciku," batin Ibra dengan kesalnya.
Sementara itu, Virlie masih saja menangis di kamar mandi. Dia tidak menyangka kalau Ibra akan melakukan semua itu dengan paksa.
Perlahan Virlie pun bangkit dan menyalakan shower, dia mengguyur tubuhnya dengan air bahkan Virlie belum membuka bajunya sama sekali.
Beberapa saat kemudian, Ibra pun sampai di rumahnya dan seperti biasa Asya akan langsung berlari dan memeluk Abangnya itu.
"Kak Virlie mana, Bang? kok gak ikut?" tanya Asya.
"Enggak, Abang sengaja tidak mengajak Kak Virlie karena Abang kasihan kalau Kak Virlie harus tidur di kasur tipis milik Abang," dusta Ibra.
"Kok gitu sih Bang, padahal Asya sangat merindukan Kak Virlie."
"Iya, nanti lain kali Abang ajak Kak Virlie lagi ke sini."
"Ibra, sejak kapan kamu datang? kamu sendirian Nak?" tanya Ayah Agus.
"Iya Yah, Ibra sendirian."
"Ya sudah masuk sana, Bundamu pasti akan senang melihatmu pulang."
"Kalau begitu Ibra ke dalam dulu ya, Yah."
Ibra pun segera masuk dan menemui Bundanya yang sedang masak. Bundanya tidak menyadari kalau ada Ibra, dengan raut wajah sedihnya Ibra pun memeluk Bundanya dari belakang membuatnya Bundanya tersentak kaget.
__ADS_1
"Astagfirullah Ibra, bikin Bunda jantungan saja."
"Maaf Bunda."
"Kamu sama Virlie ke sini?"
"Tidak Bun, Ibra sendirian."
Perasaan seorang Ibu memang tidak perlu diragukan lagi, Bunda Ibra merasa kalau anaknya itu sedang ada masalah.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu sana, Bunda mau melanjutkan masak tanggung sebentar lagi juga beres."
"Baiklah, kalau begitu Ibra ke kamar dulu ya, Bun."
Ibra pun masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, Ibra membayangkan kejadian barusan dan perasaan bersalah itu mulai muncul lagi.
"Maafkan aku Virlie," gumam Ibra.
***
Malam pun tiba....
Virlie semenjak siang tidak keluar dari kamarnya membuat Mommy Valerie merasa sangat khawatir.
"Mau ke mana, Mom?" tanya Daddy Dion.
Mommy Valerie pun memutuskan untuk menemui anak sulungnya itu.
Tok...tok...tok...
"Sayang, apa Mommy boleh masuk?"
Tidak ada jawaban sama sekali, Mommy Valerie pun membuka pintu kamar Virlie dan ternyata tidak dikunci. Terlihat Virlie berbaring di atas kasurnya dengan posisi miring.
"Sayang, kamu kenapa kok gak turun-turun, apa kamu sedang sakit?" tanya Mommy Valerie.
Virlie hanya menggelengkan kepalanya, Mommy Virlie melihat kalau anaknya itu sedang menangis.
"Ya Allah, kamu kenapa kok nangis?" tanya Mommy Valerie.
Virlie bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk Mommynya itu, membuat Mommy Valerie semakin khawatir. Mommy Valerie melepaskan pelukannya dan mengusap airmata Virlie.
"Ada apa Sayang? cerita sama Mommy."
"Mom, maafkan Virlie tapi Virlie ingin bercerai dengan Ibra."
Mommy Valerie membelalakkan matanya mendengar ucapan Virlie.
__ADS_1
"Virlie, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Memangnya apa yang sudah terjadi? sampai-sampai kamu mengatakan seperti itu?"
Virlie terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin Virlie mengatakan kalau Ibra memaksa menciumnya, itu akan membuat Mommy justru marah kepadanya.
"Pokoknya, Virlie dan Ibra itu banyak sekali perbedaan dan Virlie tidak bisa melanjutkan pernikahan ini," sahut Virlie.
"Mommy tidak setuju, Ibra itu anak yang baik Virlie dan Ibra itu adalah laki-laki yang akan menjagamu."
"Tapi Mom----"
"Mommy tidak mau dengar lagi kamu ngomong seperti itu, kata-kata cerai tidak akan pernah terjadi dalam keluarga kita. Mommy harap kamu mengerti dan menarik kata-katamu itu," geram Mommy Valerie.
Mommy Valerie pun bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan Virlie, airmata Virlie kembali menetes.
"Ada apa Mommy? kenapa raut wajah Mommy seperti itu?" tanya Daddy Dion.
"Tidak ada apa-apa Daddy."
Sementara itu di rumah kedua orangtua Ibra, selesai makan malam Ibra langsung masuk ke dalam kamarnya dan Bundanya tahu kalau Ibra sedang ada masalah.
Tok..tok..tok...
"Ibra, apa Bunda boleh masuk?"
"Masuk saja, Bunda."
Bunda Ibra pun masuk dan menghampiri anaknya itu kemudian mengusap kepala Ibra dengan sangat lembut.
"Ada apa Nak? Bunda lihat dari tadi kamu seperti yang banyak pikiran, ada apa? kamu bertengkar dengan Virlie?"
"Biasalah Bunda, salah paham," dusta Ibra.
"Ibra dengarkan Bunda, dalam rumah tangga itu memang seperti itu. Kadang ada saja masalah, tapi Bunda harap kamu dan Virlie bisa bersikap dewasa dan selesaikan masalah kalian dengan baik-baik. Bagaimana pun, kamu sekarang sudah menjadi kepala keluarga, selesaikan masalah kalian dengan baik-baik jangan malah menghindar seperti ini."
"Iya Bunda."
"Bunda harap, pernikahan kalian itu langgeng sampai maut memisahkan karena Bunda tidak suka dengan kata-kata perceraian. Kamu tahu, perceraian itu memang tidak dilarang tapi Allah sangat membenci kepada perceraian. Jadi, sebisa mungkin Bunda minta sama kamu selesaikan masalah kalian jangan sampai berlarut-larut apalagi pernikahan kalian baru seumur jagung masih banyak masalah yang akan kalian hadapi."
"Iya Bunda, Ibra janji sama Bunda kalau Ibra tidak akan pernah bercerai dengan Virlie."
"Nah, begitu dong. Ya sudah, sekarang kamu tidur dan besok, kamu harus kembali ke rumah Tuan Dion serta selesaikan masalah kamu dan Virlie."
"Iya Bunda."
Bunda Ibra pun keluar dari kamar Ibra, Ibra mulai merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Aku mencintaimu Virlie, aku akan berusaha mempertahankan pernikahan kita walaupun kamu tidak mau. Aku tidak mau kalau sampai kita bercerai, karena kalau kita bercerai akan ada banyak hati yang terluka," batin Ibra.
__ADS_1
Ibra malam ini benar-benar merasa tidak enak hati, dia tidak bisa memejamkan matanya. Ibra takut kalau Virlie akan meminta cerai kepadanya.