
Ibra sudah tidak tahan lagi melihat Virlie jadi tontonan para kru pria yang matanya hampir keluar melihat paha putih dan mulus milik Virlie.
Ibra pun bangkit dari duduknya, lalu menyambar jaketnya yang dia simpan di lengan kursi. Dengan cepat Ibra menutupi paha Virlie dan mengangkat tubuh Virlie ala seorang kuli yang sedang memanggil beras.
"Ibra, apa-apaan kamu, turunkan aku!" teriak Virlie dengan meronta-tonta.
Sementara itu, Mommy Valerie dan Daddy Dion seperti tidak memperdulikannya, mereka asyik dengan kegiatan masing-masing. Berbeda dengan Astrid yang tampak menganga melihat kelakuan Bosnya itu.
"Kok, Pak Ibra seperti itu?" gumam Astrid.
Virlie terus saja meronta-ronta, hingga dengan susah payah Ibra membuka pintu kamar Virlie dan melempar Virlie ke tempat tidur membuat Virlie merasa geram.
"Kamu ya, berani sekali memperlakukan wanita sekasar itu!" bentak Virlie.
Virlie langsung bangkit dan hendak keluar dari kamarnya tapi Ibra dengan cepat menahan tubuh Virlie, sehingga Virlie kembali jatuh ke atas tempat tidurnya dan kali ini bersama Ibra yang berada di atas tubuh Virlie.
"Kamu sudah gila ya, minggir lepaskan aku," geram Virlie.
"Iya, aku memang sudah gila dan itu karena kamu, Virlie. Kamu adalah wanita pertama yang mampu memutar balikan duniaku, kamu adalah wanita yang sudah memporak-porandakan hatiku, dan kamu juga wanita yang sudah membuat otakku hilang kendali saat bersamamu," seru Ibra dengan menatap dalam ke arah Virlie membuat Virlie hanya bisa terdiam.
"Kamu benar-benar sudah gila, Ibra. Kalau sampai istrimu tahu, bagaimana? aku gak mau disebut sebagai pelakor yang merebut suami orang," kesal Virlie.
Seketika tawa Ibra pecah dan lagi-lagi membuat Virlie semakin emosi dibuatnya.
"Kenapa kamu malah tertawa, apa yang lucu? memangnya ucapanku barusan sangat lucu ya, untukmu?"
"Iya, sangat-sangat lucu."
Virlie menatap tajam ke arah Ibra dan Ibra malah mencium pipi Virlie membuat Virlie membelalakkan matanya.
"Hai, berani kamu!"
"Kenapa? kamu mau marah lagi kaya 3 tahun lalu, karena aku memaksa mencium istriku sendiri?" seru Ibra.
Seketika wajah Virlie merah menahan malu, Virlie pun memalingkan wajahnya tapi Ibra justru mencium leher Virlie membuat Virlie sejenak memejamkan matanya merasakan hal yang berbeda.
Sedetik kemudian Virlie membuka matanya dan mendorong tubuh Ibra.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku? bukanya kamu sudah menikah?" bentak Virlie dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku memang sudah menikah, dan inilah istriku yang sedang berdiri di hadapanku dengan pakaian seksi."
Virlie mengerutkan keningnya. "Jangan banyak bercanda Ibra, cepat keluar dari kamar aku!" sentak Virlie dengan membuat pintu kamarnya.
Ibra pun melangkahkan kakinya menuju pintu, dia menengok ke lantai bawah.
"Mommy, pemotretannya diundur nanti sore saja. Ibra mau menyenangkan hati Gabriel dulu!" teriak Ibra.
"Sudah ku duga, si Ibra mana tahan kalau lihat Virlie berpakaian seperti itu," seru Mommy Valerie.
"Dasar, anak muda zaman sekarang. Putri kita sepertinya memberikan lampu hijau kepada Ibra," sahut Daddy Dion.
"Semuanya, pemotretannya di undur nanti sore jadi kalian ke sini lagi nanti sore!" teriak Mommy Valerie.
"Maaf Nyonya, bukanya Pak Ibra sudah menikah? kenapa anda membiarkan Pak Ibra berduaan dengan putri anda?" tanya Astrid.
"Kamu tidak tahu ya, Virlie itu istrinya Ibra."
"Apa?"
"Pantas saja Pak Ibra tidak tergoda oleh wanita mana pun, ternyata istrinya Nona Virlie gak ada tandingannya," batin Astrid.
Sementara itu, Ibra justru menutup kembali pintunya dan menguncinya.
"Ibra, jangan macam-macam, kita itu sudah bercerai," seru Virlie dengan memundurkan tubuhnya.
"Siapa bilang, kita sudah bercerai?"
Virlie mengerutkan keningnya, sehingga tanpa sadar Ibra sudah berada di hadapannya dan memeluk pinggang Virlie, sehingga membuat Virlie terkejut.
"3 tahun lalu, Daddy Dion memberikan surat perceraian palsu kepadamu padahal yang sebenarnya kita tidak bercerai. Mommy dan Daddy yang merencanakan semua ini, selama 3 tahun ini aku dengan sabar menunggu kamu pulang. Kamu tahu, betapa tersiksanya aku memendam rasa cintaku kepadamu? aku juga sangat tersiksa karena terlalu merindukanmu. Dan sekarang, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi walau apa pun yang terjadi," seru Ibra.
Virlie lagi-lagi hanya bisa diam, dia tidak percaya kalau kedua orangtuanya sudah membohonginya selama ini.
Ibra memegang dagu Virlie dan mengangkat wajah Virlie supaya Virlie mau menatapnya.
__ADS_1
"Apakah kali ini kamu mau menganggap ku sebagai suamimu?"
Virlie tidak tahu harus menjawab apa, memang saat ini Virlie akui kalau Virlie sudah mulai mencintai Ibra dan tidak mau kehilangan Ibra.
Virlie mulai berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ibra, perlahan tapi pasti Virlie pun mencium bibir Ibra. Awalnya Ibra kaget, tapi akhirnya Ibra merasa sangat bahagia karena Virlie mau menerimanya.
Virlie hendak melepaskan ciumannya tapi Ibra justru malah menahan kepala Virlie supaya Virlie tidak melepaskannya. Ibra semakin memperdalam ciumannya, penantiannya 3 tahun ternyata membuahkan hasil.
Semakin lama, ciuman mereka semakin panas hingga Ibra pun perlahan mengangkat tubuh Virlie tanpa melepaskan ciumannya.
Ibra merebahkan tubuh Virlie di atas tempat tidur, sesaat Ibra melepaskan pungutannya dan menatap wajah cantik istrinya itu.
"Apakah saat ini kamu sudah menganggap ku sebagai suamimu?"
Virlie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bolehkah aku memperkenalkan si Gabriel kepada bestienya?"
Seketika Virlie terkekeh mendengar kata Gabriel, membuat Ibra pun ikut terkekeh. Virlie mendorong Ibra, kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya lalu menyambar handuknya.
"Lah, kamu mau ke mana? mau ngajak aku mandi bareng ya?" seru Ibra.
Ibra dengan antusiasnya mengikuti langkah Virlie sembari melepas kaos yang dia pakai membuat Virlie menutup matanya sembari menjerit.
"Apa-apaan sih kamu? pakai lagi bajunya."
"Bukanya kita mau mandi bareng ya."
"Jangan mimpi, sudah sana turun ke bawah temani Daddy lagi."
"Tanggung Vir, si Gabriel sudah bangun ini. Kamu tega ya sama aku."
"Makanya jangan terlalu bersemangat, aku lagi datang bulan jadi bersabarlah untuk satu Minggu ke depan," seru Virlie dengan sengirannya.
"Hah...."
Virlie pun menutup pintu kamar mandi dan tertawa melihat wajah kusut Ibra, sedangkan Ibra tampak mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Yaelah Gabriel, kita harus bersabar lagi. Awas kamu Virlie, Minggu depan jangan harap bisa lolos dariku dan si Gabriel," seru Ibra.
Ibra pun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Virlie, senyumannya pun mengembang kala ingat saat ini Virlie sudah menerimanya menjadi suami. Ternyata penantian dan kesabarannya berbuah manis, tidak sia-sia dia menunggu sampai 3 tahun dan pada akhirnya Virlie pun mau menerimanya.