
Malam semakin larut, Daddy Dion pun keluar dari ruangan kerjanya dan perlahan membuka pintu kamar Virlie.
Daddy Dion berjalan mengendap-ngendap karena takut Virlie bangun, Daddy Dion pun celingukan mencari ponsel Virlie dan ternyata ponselnya ada di samping bantal.
Perlahan Daddy Dion mengambil ponsel Virlie kemudian mengotak-ngatiknya. Daddy Dion ternyata memasang alarm tanda bahaya di ponsel milik Virlie, lalu menghubungkannya ke ponselnya sendiri.
"Maafkan Daddy harus memasang alarm ini, karena Daddy takut orang-orang itu mengincar kamu dan juga Vero," batin Daddy Dion.
Daddy Dion pun menyimpan kembali ponsel Virlie ke tempat semula, setelah itu ia pun keluar dari kamar Virlie. Daddy Dion pun melakukan hal yang sama kepada ponsel Vero, Daddy Dion sudah punya firasat kalau sesuatu akan terjadi maka dari itu ia mempersiapkan semuanya sebelum terlambat.
***
Keesokan harinya....
Ibra sama sekali tidak bisa tidur, setelah shalat subuh dia pun pamitan kepada kedua orangtuanya untuk kembali ke rumah Virlie.
Ibra sudah memikirkannya semalaman, dia akan meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.
Mungkin karena masih pagi-pagi banget, kendaraan di jalan masih sangat sepi sehingga Ibra sudah sampai di rumah Virlie dalam waktu 15 menit.
"Pak, bisa tolong buka gerbangnya," seru Ibra.
"Astaga Ibra, pulangnya kok subuh banget pasti sudah tidak tahan ya, kangen sama Nona Virlie," ledek si Satpam.
"Kok Bapak tahu?"
"Tahulah, gini-gini juga Bapak itu pernah muda dan Bapak tahu gelora cinta anak muda seperti kalian itu lagi panas-panasnya."
"Memangnya api pakai panas segala, ya sudah aku masuk dulu ya, Pak. Terima kasih sudah membukakan gerbang."
"Oke siap."
Ibra pun segera masuk ke dalam rumah, ternyata rumah masih terlihat sangat sepi. Ibra pun dengan cepat naik ke lantai dua menuju kamar Virlie, Ibra membuka pintunya dengan sangat pelan karena takut membangunkan Virlie.
Virlie masih bergeming dengan selimutnya, perlahan Ibra menghampiri Virlie dan ditatapnya wajah cantik itu.
"Kamu benar-benar membuatku gila, Virlie. Baru satu malam saja, aku tidak melihatmu, aku sudah sangat merindukanmu. Pokoknya aku akan berusaha supaya kita tidak bercerai, karena kalau sampai kita bercerai, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku," batin Ibra.
Ibra pun memilih untuk duduk di sofa menunggu sampai Virlie bangun.
Setengah jam kemudian, Virlie mulai menggerakkan tubuhnya dan Ibra terus saja memperhatikan pergerakan Virlie.
Virlie mengambil ponselnya dengan mata yang masih terpejam dan dilihatnya waktu menunjukan pukul setengah 6 pagi. Virlie pun duduk di atas tempat tidur, mengumpulkan nyawa yang masih berkeliaran di mana-mana.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi," seru Ibra.
__ADS_1
Seketika Virlie membuka matanya dan melotot saat melihat Ibra duduk di sofa dan menatapnya dengan senyumannya.
"Kenapa kamu kembali lagi ke sini?" seru Virlie dingin.
"Aku suamimu, jadi aku harus pulang ke rumah istriku," sahut Ibra.
Virlie bangkit dari atas tempat tidurnya dan menatap tajam ke arah Ibra.
"Kenapa kita tidak bercerai saja, kita hidup masing-masing karena itu akan lebih baik," seru Virlie.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bercerai denganmu, jadi kamu jangan banyak bermimpi karena aku akan mempertahankan rumah tangga kita bagaimana pun caranya."
Virlie menyunggingkan senyuman sinisnya. "Lihat saja, cepat atau lambat kita akan bercerai jadi kamu jangan terlalu banyak berharap kepada pernikahan ini," ketus Virlie.
Virlie menyambar handuk dan mengambil baju gantinya, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan dengan kerasnya Virlie menutup pintu kamar mandi membuat Ibra sedikit kaget.
Setelah selesai mandi dan memakai baju, Virlie pun keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamarnya tanpa memperdulikan Ibra. Ibra menghembuskan napasnya dengan kasar, dan bangkit menyusul Virlie.
Virlie benar-benar tidak mengajak bicara Ibra, dia masih marah dan kesal kepada Ibra. Sampai kampus pun, Virlie masih saja mengacuhkannya. Hingga, di pertengahan pelajaran, ponsel Virlie pun bergetar dan Virlie segera melihatnya.
📩"Datang segera ke xxx, atau nyawa Ibumu tercinta akan celaka. Jangan coba-coba melapor polisi atau siapa pun, kalau sampai itu terjadi, kamu akan melihat mayat Ibumu."
Virlie tampak membelalakkan matanya, bahkan tangannya pun sampai bergetar dan Ibra melihatnya itu.
"Pak, maaf saya permisi izin ada sesuatu yang harus saya urus," seru Virlie.
Dosen tahu siapa Virlie, maka dari itu ia akan mengizinkan Virlie. Virlie pun dengan cepat membereskan alat-alat tulisnya dan segera pergi dari kelas tanpa bicara sepatah kata pun kepada Ibra.
"Mau ke mana dia?" batin Ibra cemas.
Virlie segera memesan taksi dan pergi ke tempat yang diperintahkan si pengirim pesan. Sementara itu, Daddy Dion saat ini sedang rapat dan dia lupa membawa ponselnya sehingga dia tidak bisa mendengar bunyi alarm dari ponsel Virlie.
"Siapa yang sudah menculik Mommy?" batin Virlie dengan khawatir.
Virlie menghubungi nomor Mommynya tapi sama sekali tidak aktif membuat Virlie semakin yakin kalau Mommynya memang benar-benar diculik.
Tidak lama kemudian, Virlie pun sampai di tempat yang dituju dan Virlie kaget ternyata tempat itu sebuah pabrik yang sudah terbengkalai.
Ponsel Virlie kembali berdering dan itu adalah telepon dari orang yang sudah menculik Mommynya.
📞"Halo!"
📞"Cepat masuk!"
📞"Ba-baik."
__ADS_1
Orang itu pun mematikan sambungan teleponnya, perlahan Virlie mulai memasuki bekas pabrik itu dengan perasaan yang sangat takut.
Bugggg....
Seseorang dari belakang memukul kepala Virlie dengan balok kayu, membuat Virlie jatuh tak sadarkan diri. Orang itu pun menginjak ponsel Virlie sampai hancur dan segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa Virlie ke dalam.
***
Sementara itu, Ibra tampak tidak enak diam. Dia merasa khawatir kepada Virlie karena Virlie pergi tanpa memberitahukannya. Hingga akhirnya mata kuliah pun selesai, Ibra langsung berlari keluar untuk mencari Virlie.
Mommy Valerie baru saja selesai melakukan perawatan diri, dia melihat ponselnya dan ternyata ponselnya mati.
"Astaga, ponselku mati. Kenapa aku selalu lupa mengisi baterai ya," gumam Mommy Valerie.
Mommy Valerie pun segera masuk ke dalam mobilnya, lalu mengisi baterai ponselnya di dalam mobil. Setelah itu Mommy Valerie melajukan mobilnya berniat ingin menemui suaminya di kantor.
Daddy Dion dan Julian baru saja keluar dari ruangan rapat, Daddy Dion mencari-cari ponselnya.
"Ada apa?" tanya Julian.
"Aku lupa bawa ponsel."
Daddy Dion pun segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya, begitu pun dengan Julian. Daddy Dion lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan memeriksanya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat alarm bahaya terus saja menyala.
"Ah, sial aku kecolongan," geram Daddy Dion.
Tanpa basa-basi, Daddy Dion pun langsung berlari keluar dan itu membuat Julian pun bingung.
"Bos, mau ke mana?" teriak Julian.
"Kita kecolongan, mereka menculik Virlie," sahut Daddy Dion.
"Apa?"
Julian pun ikut berlari keluar, dan saat itu bersamaan dengan kedatangan mobil Mommy Valerie.
"Ada apa sayang?" tanya Mommy Valerie panik.
"Virlie dalam bahaya, dia diculik."
"Apa? ayo cepat, kita harus segera mencari Virlie," seru Mommy Valerie dengan panik.
Mommy Valerie dan Daddy Dion pun segera masuk ke dalam mobil, begitu pun dengan Julian yang masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Daddy Dion langsung menghubungi Pengawal Vero dan menyuruh mereka untuk membawa Vero pulang.
__ADS_1
"Awas kalian, berani sekali kalian menculik anakku," geram Daddy Dion.
Daddy Dion dan Mommy Valerie tampak sangat khawatir dengan keadaan Virlie, ini bagaikan de' Javu karena dulu Mommy Valerie pun sempat di culik seperti ini.